Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 55 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis sedang menikmati pemandangan pantai setelah melayani suaminya di atas tempat tidur. Duduk di pinggir pantai dengan kakinya menjuntai ke bawah mengenai air.


Menghilangkan rasa lelah setelah hampir dua jam melayani hasrat suaminya yang tidak mengenal lelah sama sekali. Tidak lupa juga dia meminum pil yang dianggapnya pil penunda kehamilan.


Pemandangan dan udara yang begitu segar cukup membantu sedikit menenangkan hati dan pikirannya. Mengingat kembali perjalanan yang sudah sampai di tahap ini, dengan menjadi seorang pemuas hasrat tuannya hingga menjadi istrinya.


Ketidaksukaan Nyonya Mireya terhadap dirinya yang sangat beralasan. Pasti banyak pertimbangan kenapa Nyonya Mireya sampai tidak menyukai dan tidak bisa menerimanya sebagai menantu.


Sementara itu tuan Dominic yang baru saja mengetahui pernikahan yang telah dilakukan oleh kakaknya bersama Gadis, sangat menyulut api emosinya. Itu pun tuan Dominic mengetahuinya dari Darren yang terus saja memangil Gadis dengan sebutan Mama.


"Untuk apa kau marah?." Tanya Tuan Patricio pada tuan Dominic di dalam ruang kerjanya.


"Pasti Theodor yang telah memaksa Gadis?." Jawab Tuan Dominic begitu kesal.


"Mau di paksa atau tidak, tetap saja Gadis sudah menjadi istri Theodor. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kau." Jelas Tuan Patricio berusaha bijak untuk menyikapi masalah yang terjadi pada kedua putranya yang sama-sama menyukai satu wanita, yakni Gadis.


"Lalu Mama?."


"Itu menjadi urusan Papa. Lebih kau urus saja rumah tangga kau bersama Magdalena. Pastikan Magdalena mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kau sebagai suaminya." Tuan Patricio mengingatkan sekalian memberikan nasihat untuk putranya.


"Baiklah Pa, aku keluar." Tuan Dominic pamit dari sana, tuan Patricio merasa rumah tangga tuan Dominic dan Magdalena terkesan biasa saja. Padahal mereka pengantin baru. Bahkan tuan Dominic menunda dulu untuk berbulan madu dengan alasan pekerjaan.


Tuan Patricio harus mencari cara supaya Nyonya Mireya mau menerima Gadis sebagai menantu. Karena bagaimana pun pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan begitu saja. Terlebih Violetta sudah menyerah untuk menjadi istri tuan Theodor.


Sedangkan di apartemen Galang, Ramona sedang duduk manis di depan televisi layar lebar. Hubungan keduanya semakin dekat dan Ramona sudah sering main di apartemen Galang jika memiliki waktu luang.

__ADS_1


"Kau mau pamer pada ku?." Tanya Ramona melirik kearah Galang yang baru keluar dari kamar dalam keadaan bertelanjang dada. Memperlihatkan deretan kotak yang memenuhi bagian perutnya.


"Biar kau bangga punya kekasih yang memiliki tubuh bagus seperti ku." Galang begitu narsis di depan Ramona. Tapi sayangnya Ramona menanggapinya dengan biasa saja.


"Apa kau tidak merasa bangga?." Tanya Galang mendekati Ramona dan berdiri tepat di depan wajah Ramona.


Ramona menggeleng sambil mendongak, menatap Galang yang menjulang tinggi karena posisinya yang sedang berdiri.


"Untuk apa aku bangga kalau aku tidak bisa merasakannya." Ucap Ramona tanpa sadar jika dirinya ingin menyentuh apa yang dimiliki oleh Galang.


Ramona yang menyadari telah salah berucap segera bangkit dan segera berlalu dari depan Galang. Namun sayang, baru kakinya melangkah beberapa langkah tangan Ramona sudah dicekal oleh Galang lalu ditaruhnya hingga membentur tubuh Galang.


"Apa kau yakin ingin merasakannya?." Tanya Galang tepat di depan bibir Gadis yang merah merekah. Gadis menggeleng sambil menahan dada bidang Galang yang semakin mengikis jarak keduanya.


Hal yang sama sedang terjadi pada pasangan yang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Gadis dan tuan Theodor. Jarak yang semakin dekat membuat hasrat dan gairah mereka sama-sama tidak terkendali. Keduanya memadu kasih di atas hamparan pasir putih dan di bawah kolong langit yang berwarna biru.


"Tidak akan ada, Gadis ku. Di sini hanya ada kita. Aku sudah memastikannya." Jawab Tuan Theodor sambil merebahkan tubuh Gadis. Mengecup seluruh wajah kaki turun ke leher dan terakhir bermain cukup lama di area dada, area yang menjadi salah satu tempat favorit dirinya. Tempat yang paling gampang untuk membangkitkan hasrat dan gairah keduanya sampai ubun-ubun.


Percintaan mereka cukup berlangsung lama dan tanpa lelah. Baik tuan Theodor mau pun Gadis tetap bertahan dengan posisinya yang mampu terus membakar gairah keduanya.


"Apa kamu sudah lelah?." Tanya tuan Theodor kala Gadis bangkit dari tubuh tuan Theodor lalu berbaring disampingnya.


"Iya, saya tidak bisa mengimbangi energi tuan yang sepertinya tidak ada habisnya. Malah saya yang kelelahan." Ucap Gadis sembari mempermainkan bulu-bulu yang ada pada dada bidang suaminya. Tuan Theodor hanya terkekeh geli mendengar pengakuan dari istinya. Lalu dia mengelus punggung mulus istrinya yang sedikit ada pasir yang menempel.


"Apa aku sekuat itu?, hem...."

__ADS_1


"Hem...tuan memang sangat kuat sekali." Puji Gadis jujur dan mampu membuat terbang melayang hidung tuan Theodor.


Menyudahi kegiatan mereka di pantai, tuan Theodor mengajak Gadis kembali ke Villa. Menikmati hawa sejuk yang berasal dari semilirnya angin. Mampu merelaksasi otot dan pikiran yang tegang.


"Kamu mau makan apa?." Tuan Theodor melihat isi kulkas yang masih penuh belum tersentuh.


"Aku sedang tidak ingin makan makanan berat tuan, Hanya ingin cemilan saja. Tolong keluarkan ada cemilan apa saja di dalam kulkas." Tuan Theodor mengeluarkan beberapa cemilan dan membawanya ke hadapan Gadis. Lalu sisa yang masih ada di dalam satu paper bag besar karena tidak muat kalau harus disimpan di dalam kulkas.


Gadis memilih beberapa chiki lalu duduk di depan villa yang menghadap pada hamparan air yang berwarna biru. Begitu memanjakan mata dan sanggup menjernihkan pikiran. Gadis meluruskan kedua kakinya dengan bantalan kursi sebagai penyangganya.


"Apa tempat seperti yang kamu suka?." Tanya tuan Theodor sambil ikut duduk di sebelah Gadis.


"Kurang lebih seperti ini, tempat yang jauh dari keramaian."


"Lalu pikiran dan suasana hati mu, apa sudah lebih baik?."


"Hem..."


"Apa sudah memikirkan untuk segera memiliki anak dari ku?."


Gadis segera menengok kearah tuan Theodor sambil menatapnya sendu. "Maaf, saya tetap ingin menunggu."


"Sekarang sudah sudah tidak ada Violetta atau siapa pun lagi dalam hubungan kita. Artinya hubungan kita berdua sudah aman dan bisa merencanakan memiliki anak." Pancing tuan Theodor ingin melihat reaksi Gadis, tapi sepertinya Gadis tetap pada pendirian awalnya.


"Lalu bagaimana jika seadanya kalau kamu tiba-tiba hamil?."

__ADS_1


"Tidak mungkin hamil karena aku tidak pernah lupa untuk meminum pil nya." Gadis nampak berpikir sejenak, lalu menatap lekat pada tuan Theodor yang menatap padanya.


"Kemungkinan itu selalu ada kan?." Tanya tuan Theodor lagi, semakin membuat Gadis gelisah dan berpikir sangat keras.


__ADS_2