
Bisa lepas dari ajakan dansa Galang dan Yacob. Dimana setelah Galang pergi meninggalkan Gadis, datang lah Yacob yang mengajaknya untuk berdansa juga. Gadis masih bisa dengan santainya menolak ajakan dari Yacob, namun Gadis tidak bisa lepas dari ajakan dansa Marco yang mendapatkan dukungan pula dari dua pasang suami istri, yaitu Nyonya Mireya, tuan Patricio, Nyonya Maria dan tuan Rizzo. Gadis menerima ajakan dansa tersebut tanpa ingin melihat reaksi dari tuan Theodor yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kau sangat cantik sekali." Puji Marco saat keduanya sudah mulai berdansa. Berdiri diantara kedua pasangan suami istri yang mendukung hubungan keduanya.
Tuan Dominic menoleh kearah Gadis yang sedang tersenyum manis pada Marco.
Ramona yang merasa iba pada Galang pun mengajak saudaranya itu untuk berdansa.
"Aku tahu pasti kau sangat kecewa karena Gadis menerima Marco. Ya bagaimana lagi mungkin kau sudah kalah start duluan. Harusnya kalau suka, cinta, cepat katakan pada orangnya. Jangan dipendam seperti ini atau menunggu waktu yang tepat lah." Ejek Ramona sambil meletakkan tangannya pada kedua pundak Galang yang belum juga mengalihkan pandangannya dari Gadis.
Mendengar ejekan seperti itu membuat Galang kini memfokuskan pandangannya pada wanita cantik yang usianya hanya terpaut tiga tahun saja dibawahnya.
"Seperti kau tidak saja. Kau lebih parah lagi. Sudah tahu kau suka pada Yacob. Sok-sokan lagi untuk membantu Yacob mengatakan perasaannya pada Gadis." Galang balik mengejek Ramona.
"Bagiamana kau tahu?." Kedua tangan Ramona reflek berpindah kearah belakang leher Galang. Dan Galang semakin mengeratkan tangannya pada pinggang ramping Ramona.
"Itu tidak penting dari mana aku tahu, lebih baik kau segera katakan cinta pada Yacob sebelum ada wanita lain lagi yang dia suka. Yang ada nanti kau hanya bisa gigit jari dan menyeselai kebodohan yang sudah kau buat." Saran Galang pada saudaranya itu.
"Entah lah, aku masih bingung." Jawab Ramona semakin mendekatkan jarak.
Tatapan Ramona dan Galang begitu intens menatap wajah masing-masing dalam pencahayaan yang begitu redup.
__ADS_1
Sementara itu, tuan Theodor yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menghampiri Gadis ketika kedua tangan Marco sudah bertengger pada pinggang ramping Gadis. Hatinya sangat terbakar api cemburu yang begitu menggebu.
Tanpa permisi pada Yacob, tuan Theodor menarik paksa Gadis yang tengah berdansa dengan begitu mesranya, menurut tuan Theodor.
Marco tidak berkata apa pun saat melihat Gadis di tarik seperti itu. Dia hanya menatap kedua orang itu yang menghilang di dalam kerumunan.
"Ada apa?. Lepas kan, tuan!." Sakit!." Rengek Gadis yang meraskan sakit pada lengannya. Tapi tuan Theodor tidak mempedulikannya, dia terus saja menarik lengan Gadis, membawanya sampai ke dalam kamar mereka.
"Jangan biarkan siapa pun menyentuh tubuh yang sudah menjadi milik ku, istri ku!." Ucapnya sambil menghempaskan tubuh Gadis ke atas tempat tidur.
Gadis tersenyum sinis sambil bangkit dan berhasil berdiri tepat di depan tuan Theodor. "Istri yang tuan jadikan hanya sebagai pemuas saja. Lebih baik bebaskan ikatan itu biar saya bisa bebas memiliki hubungan di luar sana dan orang lain bebas untuk memegang apa pun yang ada pada tubuh saja."
Tangan tuan Theodor sudah terangkat, hampir saja mengenai pipi mulus Gadis. Namun perasaannya lebih kuat dari amarah yang merasuki akal sehatnya kala mendengar Gadis secara tidak langsung meminta untuk berpisah.
Tuan Theodor meletakkan tangan itu pada pipi Gadis yang memerah karena mahanan amarah.
"Tolak sebisa mu semua pria yang datang dan jangan biarkan mereka menyentuh bagian tubuh mu yang mana pun. Karena semua itu hanya milik ku."
"Katakan pada saya, bagaimana saya bisa menolak mereka semua?. Yang mereka tahu saya seorang wanita bebas yang masih bisa untuk direbutkan dan didekati oleh siapa pun.
"Sebelum saya menerima ajakan Marco, saya bisa menolak dengan mudah ajakan dansa dari Galang dan Yacob. Tapi Marco, tuan tahu sendiri bukan?, kalau saya dan dan Marco sedang menjalani kedekatan untuk hubungan kami kedepannya. Jadi saya bisa apa untuk menolak Marco dengan status saya?. Apa masih salah juga kalau semua pria itu mendekati saya?." Ucapan panjang lebar Gadis diakhiri dengan pertanyaan yang jawabnya pun sudah diketahui oleh keduanya.
__ADS_1
Tangan kekar itu sudah memegangi kedua sisi wajah dari Gadis. Jari-jarinya menghapus air mata yang lolos dari mata Gadis.
"Aku tahu, ini semua bukan salah mu. Tapi ini salah ku yang belum mempublish pernikahan kita pada semua orang dan tentunya salah para pria itu yang memiliki ketertarikan pada mu. Kamu tidak salah, Gadis ku!. Maaf kan aku." Tuan Theodor mengecup kening Gadis cukup lama dan kembali menghapus air mata Gadis yang masih menetes.
"Maaf kan aku, aku sudah kasar dan menyalahkan mu. Padahal semua ini murni kesalahan ku." Tuan Theodor membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya yang terasa sangat hangat.
Setelah di rasa Gadis sudah tenang, Gadis memoles sedikit wajahnya supaya tidak terlihat habis menangis. Sebab tuan Theodor memintanya untuk kembali ke ballroom. Namun saat kedua hendak keluar dari kamar, mereka dikejutkan dengan sesosok pria yang sudah berdiri di depan pintu kamar yang tidak tertutup. Pikirannya keduanya pun sudah melanglang buana kemana saja, tapi yang pasti, mungkin saja tuan Patricio sudah mendengar apa yang tadi mereka bicarakan.
"Papa...Tuan Patricio." Panggil keduanya serentak, namun tuan Theodor masih bisa bersikap biasa saja sebab yang saat ini berhadapan dengannya adalah sang Papa yang bisa diajaknya bicara.
"Papa tunggu kau di kantor besok siang! Kau harus menjelaskan semuanya. Dan kau Gadis, ikut dengan ku sekarang!." Pinta Tuan Patricio sambil mengulurkan tangannya pada Gadis dan Gadis meraihnya. Lalu mereka berjalan terlebih dulu, meninggalkan tuan Theodor yang tersenyum penuh arti menatap keduanya.
Sementara itu di bagian ballroom yang lain, Jasmin dan beberapa pegawai pabrik terlihat begitu cantik dan tampan. Mereka menjadi salah satu tamu undangan yang memenuhi area Ballroom.
Jasmin yang terlihat sangat cantik cukup menjadi pusat perhatian beberapa pria hidung belang berkantung tebal. Dan Jasmin pun merasa risih jika harus diperhatikan dari atas sampai bawah.
"Erna, kita pulang saja yuk!. Acaranya juga sudah selesai dan kita sudah makan." Jasmin menarik tangan Erna supaya cepat keluar dari area ballroom.
"Tapi kan besok kita libur, jadi kita nikmati dulu makanannya Jasmin. Nanti kita pulangnya bareng sama yang lain." Rupanya Erna masih betah berada di sana dengan semua makanan yang begitu memanjakan lidahnya. Tapi rupanya Jasmin tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
"Kalau begitu aku pulang duluan saja." Tanpa menunggu Erna Jasmin sudah berjalan hendak meninggalkan area ballroom, namun karena banyaknya orang yang berada di sana, Jasmin agak kesulitan untuk bisa mencapai pintu dan akhirnya tubuhnya beradu dengan pria yang berjalan terbaru-buru.
__ADS_1
"Awww...." Jasmin memegang dadanya yang kena sikut pria itu.
"Hai....Nona cantik, apa yang sakti?." Tanya pria itu yang ternyata Alesandro Miguel.