
Untuk pertama kalinya Gadis melihat anak ke dua tuan Theodor dan Violetta, anak kecil yang diberi nama Devan itu sangat tampan sama seperti Darren.
Bahkan Gadis menggendong anak kecil yang begitu anteng setelah minum susu formula.
Nyonya Mireya dan tuan Patricio duduk di dekat Gadis. Memperhatikan Gadis yang begitu keibuan terhadap kedua anak Theodor dan Violetta.
Kalau bukan karena kejadian di Batam, mungkin dirinya masih belum merestui Gadis untuk kembali masuk ke dalam keluarganya. Tapi sekarang dia dengan lapang dada bisa merestui tuan Theodor untuk kembali menikahi Gadis.
"Dia tampan seperti ku kan, Mama Gadis?." Tanya Darren sambil bergelayut manja di sebelah Gadis.
"Iya, dia sangat tampan seperti mu." Jawab Gadis sambil melirik Darren yang tersenyum manis.
"Tampan sama seperti Papanya." Tiba-tiba saja tuan Theodor duduk di sebelah Gadis.
"Iya, Papa lebih lebih tampan dari kami berdua." Cicit Darren sambil bangkit dan duduk di atas pangkuan tuan Theodor.
"Adik Hanin lebih cantik lagi dari semua perempuan yang ada di dunia ini." Ucap Darren memegang wajah Gadis yang tersenyum tipis kearahnya.
"Tapi sama-sama cantik dengan Mama Gadis." Lanjut Darren sambil mengecup pipi Gadis, lalu Gadis membalas perlakuan manis Darren padanya. Dengan mengecup kedua pipi Darren silih berganti.
Nyonya Mireya dan tuan Patricio hanya tersenyum melihat Darren yang begitu lengket pada Gadis.
Gadis melihat kearah Violetta yang baru keluar dari kamar tuan Theodor. Gadis membalas senyum Violetta yang diarahkan padanya.
"Sepertinya Devan sudah nyenyak tidurnya." Ucap Gadis bangkit berdiri lalu menyerahkan Devan pada Violetta.
"Iya, sekarang memang waktunya Devan tidur, Mama Gadis." Balas Violetta menyematkan Mama pada Gadis.
Gadis tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Violetta.
Semua anggota keluarga sedang berkumpul santai di ruang tengah.
"Aku memang tidak seharusnya berada di tengah mereka." Gadis berusaha berjalan melipir dengan membawa satu kantong sampah. Kalau pun ketahuan, dia masih bisa beralasan untuk membuang sampah di depan.
__ADS_1
Untung saja tidak ada yang menyadari sampai Gadis bisa membuka pintu dan keluar dari apartemen.
Tapi mungkin dirinya tidak akan pernah bisa lepas dari tuan Theodor.
"Kamu mau kemana?." Tanya tuan Theodor setelah menutup pintu.
"Tempat saya bukan di sini, tuan. Jadi tolong biarkan saya pergi." Mohon Gadis sambil mengatupkan tangan di dada.
"Iya memang benar, tempat mu bukan di sini. Tapi tempat mu ada di dalam kamar ku. Melayani ku pagi, siang, sore, malam dan bahkan tanpa mengenal waktu dan lelah." Balas tuan Theodor memegangi tangan Gadis dan hendak mencium kening Gadis, kalau saja Gadis tidak menghindar pasti akan mengenainya.
"Belum halal." Ucap Gadis spontan, sedikit mendorong tubuh tuan Theodor.
"Makanya ayo kita menikah sekarang, supaya kamu menjadi halal bagi ku. Jadi aku bisa menyentuh mu dengan mu sesuka hati ku." Balas tuan Theodor sambil tersenyum.
Tuan segera mengajak Gadis untuk masuk kembali ke apartemen. Karena mereka semua mau berpamitan.
Keluarga besar tuan Theodor sudah pulang, tapi tidak dengan Darren. Dia meminta tinggal di sana dan tidur bersama Gadis.
Sebenarnya ada yang ingin dibicarakan oleh Violetta pada Gadis, tapi karena sudah sangat malam, jadi besok pagi saja Violetta akan menemui dan berbicara pada Gadis.
"Untuk apa?." Tanya Gadis ingin tahu. Terkadang rasanya kurang nyaman kalau berkumpul diantara mereka. Takut terjadi seperti yang sudah-sudah.
"Kamu tenang saja, semuanya sudah baik dan tidak ada yang akan menyakiti mu lagi." Tuan Theodor mengerti dengan kekhawatiran Gadis dan itu sangat wajar sekali.
"Dan Mama sudah merestui kita, hanya tinggal memaksa mu saja untuk menerima ku kembali menjadi suami tampan mu." Lanjut tuan Theodor sambil tersenyum.
Gadis tersenyum masam mendengar pengakuan narsis suaminya.
"Mau pergi kemana calon istri ku?." Goda tuan Theodor yang melihat Gadis hendak pergi meninggalkannya.
"Sudah larut malam, saya mau tidur." Jawab Gadis sambil berlalu dari sana. Meninggalkan tuan Theodor yang masih betah berdiri di sana.
Keesokan paginya...
__ADS_1
Darren sudah berlari menghampiri Devan yang sedang di jemur oleh Bibi Bibi Dolores, di halaman rumah yang sudah di hias dengan sangat cantik.
"Ada apa?. Kenapa rumah Nyonya Mireya di hias dengan cantik seperti ini?." Tanya Gadis pada dirinya sendiri.
Gadis menatap Violetta yang sudah mengenakan daun cantik seperti akan melangsungkan pernikahan.
Dengan susah payah Gadis menelan saliva, dia menatap penampilan cantik Violetta lalu berpindah menatap tuan Theodor yang sedang tersenyum pada Violetta.
"Oh, mungkin mereka akan menikah lagi." Batin Gadis semakin intens menatap kedua orang itu.
"Memang ini yang seharusnya terjadi, kamu kuat dan akan tetap baik-baik saja melihat kebahagiaan mereka." Gadis mencoba menenangkan hatinya sendiri.
Sudah terbiasa dia berdamai dengan situasi yang tidak pernah berpihak baik padanya. Sudak kebal dengan rasa sakit yang selalu singgah di dalam hatinya.
"Ayo, kita masuk!." Ajak tuan Theodor pada Gadis. Lalu dia berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah. Dan memang benar-benar akan ada sebuah pesta yang akan di gelar di rumah besar itu.
Gadis menatap Violetta yang keluar dari kamar bersama Ramona.
"Nyonya Violetta sangat cantik sekali." Puji Gadis dengan begitu tulus.
"Aku cantik setelah dandan, tapi kalau kamu tidak dandan pun tetap sangat cantik." Puji balik Violetta pada sosok Gadis.
Violetta sudah berdamai dengan hati dan hidupnya tentang harus kehilangan tuan Theodor sebagai cinta dan suami. Dia lebih memilih untuk membiarkan tuan Theodor bahagia bersama orang yang sangat dicintainya dan itu bukan dirinya. Gadis lah wanita yang sangat dicintai tuan Theodor sampai detik ini dan akan selamanya.
Violetta lebih memilih untuk berdamai dengan tuan Theodor dan keluarganya demi anak-anak. Dan dia juga bisa membesarkan kedua anaknya tanpa kekurangan cinta dari tuan Theodor. Namun akan mendapatkan lebih kasih sayang lagi dengan kehadiran Gadis.
Violetta sangat meyakini kalau Gadis wanita yang baik, hebat serta penuh cinta kasih untuk ikut membantu mengurus kedua anaknya bersama tuan Theodor.
Ramona membawa Gadis ke kamarnya bersama Violetta.
"Ada yang ingin aku bicarakan, tapi sambil kamu pakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Ramona."
Gadis mengangguk, lalu menerima pakaian yang disodorkan oleh Ramona. Gadis cukup tertegun dengan pakaian yang menurutnya terlalu resmi jika dia yang memakainya.
__ADS_1
"Ini terlalu istimewa untuk saya, Ramona." Gadis hendak mengembalikan pakaian tersebut pada Ramona. Tapi Ramona dan Violetta segera menenangkan Gadis dan tetap meminta Gadis untuk mengenakan pakaian formal itu.
"Kamu lihat saja aku dan kak Violetta mengenakan pakaian cukup resmi. Jadi kamu juga harus mengenakannya. Nanti juga kak Magdalena, Mama dan yang lainnya juga pakai pakaian resmi sama seperti kita." Ramona setengah memaksa Gadis untuk segera mengenakan pakaian cantik itu.