Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bsb 41 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis memakai tempat memasak yang ada di hotel tersebut untuk membuat makanan yang sesuai dengan selera Nyonya Mireya. Tentunya dengan ditemani oleh Alesandro Miguel.


"Kamu ternyata pandai sekali membuat makanan asal negara ku." Puji Alesandro ketika sudah ada hidangan yang dimasak Gadis tersaji di atas meja.


"Saya juga banyak belajar dari keluarga Nyonya Mireya." Alesandro menautkan kedua alisnya ketika mendengar Gadis memanggil Mama nya tuan Theodor dengan sebutan Nyonya. Karena yang Alesandro tahu Gadis istri dari tuan Theodor anak pertama dari Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.


"Kenapa kamu memangil ibu mertua mu dengan sebutan Nyonya?, kenapa tidak ibu atau Mama atau yang lain?."


"Oh itu, tidak apa-apa Tuan Alesandro. Hanya saja saya lebih nyaman dengan memangil Nyonya Mireya dengan sebutan Nyonya." Jawab Gadis beralasan.


Alesandro mengangguk walau masih belum bisa menerima alasan yang diberikan oleh Gadis.


Hampir lima jam lamanya Gadis berkutat di tempat memasak itu. Tentu saja masih ditemani oleh Alesandro. Semua makanan uang diminta secara khusus oleh Nyonya Mireya sudah selesai dibuatnya dangan sangat enak dan lezat. Sampai-sampai Alesandro ingin memakai kepintaran Gadis untuk memegang salah satu restauran yang dimilikinya.


"Kamu mau 'kan Nona cantik bekerja pada ku, pasti kamu akan sangat menyukainya?." Tawar Alesandro serius.


"Sekarang saya belum ingin tuan Alesandro. Tidak tahu mungkin nanti." Untuk sekarang Gadis tidak ingin mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang makanan. Karena semuanya masih harus terhubung dengan tuan Theodor. Mungkin jika suatu saat nanti saat pernikahan mereka harus berakhir, di saat itu lah Gadis akan lebih fokus pada dirinya sendiri.


Di saat keduanya sedang asyik berbincang, muncul lah si pemilik wanita yang saat ini tengah tersenyum lepas bersama Alesandro.


"Kenapa kau selalu menempel pada istri ku?." Tanya Tuan Theodor dari balik pintu dengan wajah yang dingin.


Gadis dan Alesandro secara reflek menoleh kearah tuan Theodor.


Tuan Theodore menarik tubuh Gadis supaya tidak terlalu dekat dengan Alesandro, lalu mengecupnya dengan sangat mesra tapi Gadis tidak meresponnya.


Alesandro tertawa cukup kencang sambil menatap tuan Theodor. Meski Dan memberikan pujian secara terang-terangan mengenai bakat Gadis yang menurutnya sangat luar biasa.


"Ternyata kau memiliki istri yang sangat pintar untuk urusan perut. Aku ingin memberinya satu restauran untuk dikelola dengan makanan seenak dan selezat ini. Kau sungguh beruntung memilki istri secantik dan sepintar ini."


"Aku masih sanggup untuk menghidupinya, jadi kau tidak perlu repot-repot memberikan istri ku sebuah restauran." Tuan Theodor menolaknya dengan sangat keras.


Alesandro kembali tertawa sangat kencang, tinggi sekali harga diri yang dimiliki oleh seorang Theodor Oliver Diaz Fidal.

__ADS_1


"Ok, tawarannya aku simpan kembali. Mungkin suatu saat nanti saat Nona cantik ku sudah memerlukannya, dengan senang hati aku akan memberikannya. Dan kamu, Nona cantik bisa datang pada ku untuk memintanya."


"Nona cantik ku itu istri ku, jangan kau lupa itu!." Ucap Tuan Theodor berlalu dengan membawa Gadis keluar dari tempat itu. Membawanya ke dalam kamar yang sudah di pesan tuan Theodor untuk mereka.


Gadis memperhatikan isi kamar hotel tersebut dan pergerakan dari Tuan Theodor. Dimana Tuan Theodor mengambil satu paper bag berukuran besar dan mengeluarkan sisinya.


Tuan Theodor mengambil gaun panjang tanpa ada celah sedikit pun untuk memperhatikan kulit yang memakainya.


"Cepat lah mandi dan segera pakai gaun ini!." Perintah Tuan Theodor menyerahkannya pada Gadis.


"Tapi gaun ini terlalu indah untuk saya." Gadis melihat secara keseluruhan gaun cantik itu.


"Gaun-gaun cantik itu terlihat biasa saja kalau bukan kamu yang memakainya. Karena kamu begitu cantik dan sangat istimewa." Puji Tuan Theodor jujur, dia melingkarkan tangannya pada pinggang Gadis dan mengecup leher bagian belakang. "Aku ingin bercinta dengan mu." Bisik tuan Theodor lalu menghisap kulit leher Gadis hingga meninggalkan jejak kemerahan.


Gadis segera menggeleng sambil tersenyum dan membalik tubuhnya menghadap tuan Theodor. "Tapi sayangnya saya sedang datang bulan."


"Oh tidak tuhan!. Bagaimana aku bisa menahannya selamanya itu." Ucap Tuan Theodor begitu lemas.


"Mungkin kamu akan sulit mempercayai ku, tapi aku tidak akan menyentuh Violetta lagi atau wanita mana pun selain kamu, istri ku." Ucap Tuan Theodor terdengar sangat jujur dan penuh keyakinan.


Gadis mengangkat bahunya tinggi-tinggi, dia tidak tahu harus mempercayainya atau tidak.


"Kamu tidak perlu mempercayai ucapan ku sekarang. Tapi dengan berjalannya waktu kamu bisa percaya dengan apa yang aku katakan itu jujur dan sungguh-sungguh."


"Semoga saja." Sahut Gadis sambil mengambil gaun dan langsung membawanya ke kamar mandi.


Sementara itu semua orang sudah berkumpul di ballroom hotel karena pernikahan tuan Domonic dan Magdalena sudah berlangsung tiga puluh menit yang lalu. Dan mereka sedang mencari keberadaan Tuan Theodor yang menghilang sejak tadi. Terlebih tuan Theodor tidak ikut menyaksikan tuan Dominic dan Magdalena mengucapkan ijab kabul.


"Kemana menghilangnya anak itu?." Bisa-bisanya Theodor menghilang di saat momen penting begini." Nyonya Mireya sedari tadi mengoceh pada Ramona yang sebenarnya di tujukan untuk tuan Theodor.


"Kau sudah meneleponnya, Ramona?." Tanya Nyonya Mireya untuk yang kesekian kalinya.


"Sudah Ma, tapi tidak dijawab." Jawab Ramona cukup kesal karena dirinya yang selalu di cecar oleh sang Mama.

__ADS_1


"Sudah lah Ma, kenapa Mama memusingkan anak itu. Nanti juga dia akan ke sini Ma, kalau urusannya sudah selesai. Seperti tidak tahu saja sama anak yang satu itu.


"Sekarang kita fokus pada kebahagiaan Dominic dan Magdalena. Lihat lah mereka begitu bahagia Ma, seperti kita." Tuan Theodor melihat kebahagian yang terpancar dari Magdalena dan senyum yang selalu dipaksakan oleh tuan Dominic. Tapi tuan Patricio menganggapnya mungkin tuan Dominic hanya kelelahan atau nervous saja.


Sebelum acara pernikahan dilaksanakan pun selalu mencari keberadaan Gadis. Setelah tahu pun keberadaan Gadis tuan Domonic tetap bisa mendatanginya dan mengajak bicara karena Nyonya Mireya selalu menempel pada Gadis untuk mengurusi makanan yang akan dihidangkan.


"Apa aku masih terlihat cantik, sayang?. Atau harus touch up lagi?." Tuan Domonic menatap wanita yang sudah dinikahinya beberapa jam lalu.


"Kau masih sangat cantik sayang." Jawab Tuan Dominic sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang." Magdalena langsung memberikan kecupan pada bibir suaminya.


Sudah satu jam dari acara Ijal kabul, akhirnya Tuan Theodor keluar juga dari persembunyiannya. Setelah dia mencumbu Gadis sampai hampir melupakan kalau Gadis sedang kedatangan tamu bulannya. Tidak berselang lama Gadis pun muncul dengan gaun yang begitu cantik membalut tubuh indahnya.


Galang yang sedari tadi mencari Gadis tidak membuang waktu untuk segera mendekati wanita itu ketika sudah tertangkap oleh penglihatannya.


"Kau sangat cantik sekali Gadis." Ucap Galang saat sudah berdiri di depan Gadis.


"Kau bisa saja Galang." Gadis tersenyum lebar ketika teman baiknya yang memuji.


"Kau benar-benar sangat cantik." Galang masih memuji Gadis, tapi diwaktu yang bersamaan tatapan tajam tuan Theodor sungguh tidak mengenakkan hati Galang.


Galang semakin mendekat pada Gadis sambil berbisik. "Apa hanya perasaan ku saja jika Theodor sebenarnya menyukai kau, Gadis?."


Gadis menggeleng tanpa ingin menoleh kearah tuan Theodor yang sedang bersama dengan Violetta dan Darren.


"Tapi kenapa aku merasa seperti itu?." Galang masih ingin mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan rasa penasarannya.


Sepasang pengantin itu di minta untuk berdansa dan bergabung dengan yang lainnya. Nyonya Mario dan Tuan Rizzo, Nyonya Mireya dan Tuan Patricio serta beberapa tamu undangan lain juga ada yang berdansa.


Galang dan Gadis hanya saling pandang, Gadis berharap Galang tidak memintanya untuk berdansa. Tapi rupanya pikiran Gadis salah, karena Galang mengulurkan tangan dan memintanya untuk berdansa.


"Ayo, kita ikut berdansa!.".

__ADS_1


__ADS_2