Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 18 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Jasmin segera bangkit dan pergi dari sana setelah melayani pria hidung belang yang datang ke tempat Paman dan Bibinya.


Wajah cantiknya perlahan mulai pudar dengan beban dan tekanan yang terus menerus dialaminya.


"Mau sampai kapan, Jasmin?."


"Sampai aku mati dan membusuk di tempat ini."


"Apa kamu tidak ingin mendatangi, Gadis?."


"Tidak, aku tidak ingin membebani hidupnya dengan semua permalasahan hidup ku. Aku lebih baik hidup seperti itu dari pada harus menyusahkan lagi hidup Gadis. Aku sudah pernah sering mengecewakan hidup anak itu."


"Tapi dia adik mu, bukan?."


"Iya, tapi aku selalu membuatnya kecewa."


Jika mengingat ke belakang, rasanya Jasmin begitu malu untuk mendapatkan segala kebaikan dan ketulusan adiknya itu. Karena sudah beberapa kali dirinya selalu mengecewakan Gadis. Mungkin dari sekian banyaknya rentetan kejadian yang tidak mengenakan harus dialami oleh Gadis. Tapi sepertinya yang kejadian terakhir ini akan selalu membekas dalam ingatan Gadis dan Jasmin.


Dimana kala itu, ada pinangan yang datang pada ibunya dari keluarga orang kaya raya yang ada di negara Singapura untuk Gadis, hanya untuk Gadis. Meski pada saat itu usia Gadis masih 15 tahun tapi mereka mau menunggu Gadis untuk menyelesaikan sekolah SMA. Bahkan keluarga kaya itu mau membiayai kuliah Gadis sampai selesai.


Kalau pun Gadis harus menyelesaikan kuliahnya mereka tidak masalah dan malah mendukungnya, asalkan Gadis sudah terikat pernikahan dengan pria dari anak orang kaya tersebut.


Kesepakatan dan perjanjian pun telah di buat untuk mengikat Gadis dan anak mereka, begitu juga antara kedua keluarga tersebut. Dan beruntungnya keluarga orang kaya dari negara Singapura tidak mempermasalahkan keluarga Gadis dan Ibunya yang dari keluarga tidak mampu. Karena anaknya sudah tertarik dengan sosok Gadis yang baik dan cantik.


Akan tetapi karena rasa iri dengki yang timbul pada diri Jasmin, Jasmin dengan tega telah mengambil secara paksa semua dari Gadis. Walau sebenarnya, Gadis mau memberikan itu dengan suka rela asalkan Jasmin memintanya dengan cara yang baik. Hingga akhirnya sang ibu harus meninggal karena kejadian itu.


Dan menyebabkan Gadis menggantikan ibunya bekerja pada keluarga Fidal untuk menyambung hidup Gadis sendiri.


"Aku rasa Gadis sudah memaafkan mu, makanya dia begitu khawatir dan sedang mengusahakan untuk kebebasan mu, Jasmin."

__ADS_1


Jasmin menggeleng, "Lebih baik aku hidup di sini dari pada aku menyusahkan hidupnya. Kamu bilang pada Gadis untuk tidak mengkhawatirkan aku dan jangan berusaha terlalu keras untuk membebaskan ku dari penjara ini. Aku sudah cukup senang dengan dia tidak membenci ku karena kesalahan di masa lalu." Ucap Jasmin sebelum menutup mata, rasa kantuk dan lelah sudah menyerang tubuh kurusnya.


Sementara itu, Tuan Theodor dan Gadis masih betah duduk berlama-lama di pinggir kolam renang. Tuan Theodor sudah berdiri di dalam kolam lengkap dengan pakaian kerja.


"Kau bisa berenang?." Tangan Tuan Theodor sudah menyentuh betis Gadis dan mulai mengelusnya lembut di bawah air.


Gadis mengangguk namun tidak lama kemudian menggeleng dengan kaki yang mulai bergerak karena efek geli dari sentuhan tangan Tuan Theodor.


"Jadi sebenarnya kau bisa berenang atau tidak?."


"Tidak, Tuan. Aku tidak bisa berenang." Gadis berniat untuk menaikan kedua kakinya karena sentuhan lembut itu semakin nyata dia rasakan dan Gadis mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan hatinya.


Gadis mulai menyukai sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan oleh Tuan Theodor.


"Mau kemana?." Tangan Tuan Theodor menahan kedua kaki Gadis lalu perlahan menariknya ke bawah hingga Gadis sudah berhasil masuk ke dalam kolam. Tangan kekar Tuan Theodor membelit pinggang Gadis sehingga jarak diantara mereka begitu dekat, hembusan nafas keduanya begitu terasa menerpa wajah masing-masing.


"Saya...saya..." Gadis tidak berhasil melanjutkan kalimatnya kala ibu jari Tuan Theodor mengusap lembut bibirnya.


Satu tangannya lagi digunakan untuk meremas bokong Gadis yang sedikit menempel pada pinggiran kolam.


"Apa kau menyukainya?."


Dengan bodohnya Gadis mengangguk sambil memejamkan matanya sebentar, lalu mencoba membukanya lagi kala tangan Tuan Theodor mulai merambat naik pada punggung Gadis. Memberikan usapan-usapan lembut dengan sedikit menekan hingga dada mereka benar-benar menempel sempurna.


Cup


Bibir keduanya saling menempel, hanya menempel untuk sesaat. Tubuh keduanya merespon dengan baik apa yang dilakukan oleh bibir mereka, hingga pada detik selanjutnya Tuan Theodor yang memegang kendali atas permainan bibirnya bersama Gadis.


Tangan Gadis mencengkram kuat jas yang di pakai oleh Tuan Theodor. Ciuman pertama ini sangat membuatnya terlena, sampai dengan mudah lidah Tuan Theodor mengeksplor rongga mulut Gadis dengan begitu lembut dan sesekali sedikit kasar dan brutal.

__ADS_1


Tidak hanya sampai di situ, bibir Tuan Theodor kini sudah mulai turun menjelajahi leher jenjang Gadis sampai belakang telinga. Dengan meninggalkan beberapa tanda merah. Gadis semakin mengeratkan pegangannya pada pinggang Tuan Theodor.


Untuk beberapa saat mereka terhanyut dengan apa yang sedang mereka lakukan. Tuan Theodor merasakan sensasi lain saat bersama Gadis seperti ini. Ada rasa baru yang baru dikenalinya, masuk perlahan ke dalam hatinya.


Tapi sayangnya, kesenangan mereka harus terhenti karena dering ponsel Tuan Theodor yang berada di bibir kolam.


Gadis segera naik saat Tuan Theodor menjawab panggilan teleponnya.


Tetesan dari pakaian Gadis membuat lantai basah namun Gadis tidak mempedulikannya, karena yang terpenting saat ini segera masuk kamar dan mengunci pintunya.


Gadis segera mengganti pakaian, mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang ada ditangannya sambil duduk di pinggiran tempat tidur.


"Kenapa aku bisa menikmatinya?." Gadis memegang dadanya yang bergemuruh.


Sama halnya dengan Tuan Theodor yang berada di dalam kamarnya, sudah memakai handuk yang melilit pada pinggang. Kilatan bayangan apa yang terjadi di kolam renang tidak mau pergi dari otaknya Tuan Theodor. Tapi Tuan Theodor begitu menikmati setiap momennya.


Malam ini terasa berjalan sangat lama, baik Tuan Theodor mau pun Gadis sama-sama tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Padahal waktu saat ini sudah menunjukan pukul dua dini hari.


Pagi-pagi sekali, Gadis sudah meninggalkan apartemen. Karena Erna meminta bertemu sebelum Gadis masuk bekerja.


Sampai di tempat tujuan, Gadis segera menghampiri Erna yang sudah menunggunya.


"Kak Erna sudah dari tadi?."


"Belum, aku juga baru sampai."


"Ada apa, Kak. Apa Kak Jasmin baik-baik saja?."


"Jasmin masuk rumah sakit sekitar jam 4 pagi. Sekarang dia masih belum sadarkan diri. Kalau bisa tolong kamu jenguk Jasmin setelah pulang kerja."

__ADS_1


"Kenapa Kak Jasmin tidak sadarkan diri?"


"Biasa, karena dia di paksa untuk melayani tamu padahal kondisinya tidak sehat."


__ADS_2