
Gadis dan putri kecilnya sudah kembali ke rumah Alesandro. Setelah di rumah sakit selama kurang lebih empat hari.
Meski tidak sepenuhnya dapat menghilangkan rasa sakit di dalam dadanya, tapi dengan kehadiran bayi kecil perempuan yang cantik dan juga lucu mampu menjadi obat yang paling mujarab.
"Terima kisah sudah hadir dalam hidup Mama, sayang. Kita akan berusaha untuk tetap baik-baik saja meski hanya tinggal berdua." Gumam Gadis dengan begitu lirih sambil memandangi wajah putrinya yang sedang tertidur.
"Apa aku mengganggu?." Tanya Alesandro dari balik pintu kamar yang terbuka. Gadis masih betah di dalam kamar setelah menyusui bayi perempuan yang belum diberi nama itu sampai tertidur.
Gadis menengok kearah pintu sambil tersenyum lebar. "Tidak tuan Alesandro. Masuk lah!."
Alesandro melangkah mendekati Gadis yang duduk di tepi tempat tidur. Dirinya pun ikut duduk di sana dengan posisi duduk yang saling berhadapan.
Gadis selalu dikejutkan dengan hal-hal yang tidak terduga, mulai dari pernikahan tuannya, lalu kemudian kelahiran bayinya yang lebih cepat satu bulan dan sekarang, kira-kira apa lagi yang dibawa oleh Alesandro di dalam amplop berwarna coklat.
"Nona cantik sudah tahu pernikahan Theodor, dan ini..." Alesandro tidak berhak memberitahu Gadis sebelum Gadis sendiri yang membuka dan membacanya.
"Buka lah, tapi aku harus keluar. Ada yang harus aku bicarakan dengan Rosario." Tangan Gadis bergetar hebat kala menerima amplop coklat tersebut.
"Iya tuan, terima kasih."
Perlahan Gadis membukanya setelah Alesandro keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Derai air mata Gadis kembali tumpah, membasahi dokumen yang ada ditangannya itu. Dokumen tersebut menyatakan, dimana jika dirinya dan tuan Theodor sudah resmi bukan sebagai suami istri lagi.
Hal yang selalu diharapkannya sedari dulu dan terjadi saat ini. Di saat semua perasaanya sudah terpaut jauh pada sosok tuan Theodor yang begitu mencintainya.
"Akhirnya yang aku tunggu datang juga, mungkin kalau dulu hal ini terjadi tidak akan sesakit ini. Tapi sekarang semua ini harus aku hadapi dengan tegar." Ucapnya menguatkan diri sendiri.
__ADS_1
"Maaf kan Mama yang harus menyembunyikan mu dari Papa dan keluarga Papa. Maaf kan, Mama." Batinnya lagi, hatinya begitu terasa perih dengan kenyataan yang selalu ditakutinya dan sekarang benar-benar terjadi. Dia melahirkan seorang anak yang tidak diharapkan kehadirannya, bahkan oleh dirinya sendiri.
Gadis mengambil ballpoint dan langsung membubuhkan tanda tangan di sana, berdampingan dengan tanda tangan tuan Theodor yang pernah menjadi suaminya sampai beberapa bulan yang lalu.
"Aku akan menyimpan dokumen ini dengan baik." Ucap Gadis sambil mencoba menghapus air matanya beruang kali. Ternyata air mata masih banyak yang keluar.
Gadis memasukan amplop coklat itu ke dalam tas. Berusaha menata hatinya yang hancur berkeping-keping.
Gadis segara keluar dan langsung menuju dapur. Ingin melampiaskan kesedihannya dengan memasak makanan yang enak untuk mereka makan.
"Kita harus makan enak hari ini. Kita perlu merayakan sesuatu yang membahagiakan." Ucapan Gadis sontak saja menarik perhatian Rosario dan Alesandro yang ada di ruang tengah.
Keduanya langsung menghampiri Gadis yang sudah sibuk di dapur. Saling menatap dan kembali fokus pada Gadis yang sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya.
"Nona cantik!."
"Iya tuan Alesandro." Gadis menoleh pada Alesandro yang menatapnya penuh tanya. "Tenang tuan, saya baik-baik saja. Saya akan membuat makanan yang paling enak untuk kita."
"Kenapa Rosario, apa kamu merasa kasihan pada ku?. Aku baik-baik saja. Tolong kamu lihat putri ku, aku mendengar dia seperti menangis. Mungkin dia mau susu lagi." Ucap Gadis tanpa berani menatap wajah Rosario.
Rosario segera ke kamar Gadis, mengecek apa si kecil menangis seperti yang dikatakan oleh Gadis atau itu hanya anggapan Gadis saja.
Rosario menatap bayi mungil itu, tanpa terasa air matanya ikut menetes. "Kamu pasti akan menjadi anak yang kuat seperti Mama mu."
Rosario kembali lagi ke dapur dan mendekati Gadis. "Si kecil masih tertidur sangat lelap."
"Oh mungkin aku sudah salah dengar." Gadis kembali berkutat dengan kesibukannya untuk segera menyelesaikan masakannya.
__ADS_1
Alesandro dan Rosario hanya mampu saling tatap dengan penuh rasa iba, tapi mereka tidak berani menunjuknya pada Gadis, sebab wanita itu tidak ingin menerima belas kasihan dari siapa pun. Ini sudah menjadi pilihan hidupnya dan sekarang dia harus berjuang sendiri.
Hampir satu jam lamanya Gadis berada di dapur dengan segala kesedihan dan kebahagiaanya di waktu yang bersamaan. Beberapa makanan itu sudah tersaji di meja makan. Gadis segera merapikan kembali area dapur seperti semula. Selalu ada kepuasan tersendiri ketika berhasil membuat makanan dan bisa membuat orang lain bahagia dengan rasa makanannya.
"Tuan Alesandro!. Rosario!. Ayo kita makan." Panggil Gadis pada dua orang tersebut. Tapi Gadis malah berlalu ke dalam kamar.
"Terus Nona cantik mau kemana?."
"Kali ini saya tidak salah dengar, tuan. Bayi saya memang menangis. Mungkin dia lapar. Tuan dan Rosario saja duluan ke meja makan, nanti saya menyusul." Tanpa menunggu jawaban dari Alesandro, Gadis segera melangkah menuju kamar, segera menggendong si kecil dan menyusuinya setelah berganti pakaian dan sebentar membersihkan diri.
Gadis membawa si cantik keluar setelah diam tidak menangis lagi. Dia menggendongnya, mendekapnya penuh kehangatan, bayi kecil itu kembali memejamkan matanya.
Rosario langsung bangkit dan berinisiatif untuk mengambil box bayi berukuran kecil yang ada di ruang tengah.
"Biar Nyonya Gadis lebih leluasa makannya, taruh lah bayi cantik itu di dalam sini." Rosario menyodorkan box tersebut di depan Gadis di atas meja makan.
Gadis tersenyum dengan begitu lebar. "Terima kisah banyak Rosario, kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan."
"Sama-sama Nyonya Gadis. Saya senang melakukannya untuk kalian berdua." Rosario tersenyum saat melihat bayi kecil di dalam box tersebut, menggerakkan bibirnya seperti sedang menyusu.
"Kamu sungguh sangat menggemaskan sekali sayang." Ucap Rosario dengan gigi yang bersuara karena saking gemasnya pada bayi kecil milik Gadis.
Gadis mulai menyendok makanan, begitu banyak dia sendok. Mungkin karena efek menyusui dirinya sangat kelaparan seperti itu.
"Apa masih ada yang kamu rasa setelah melahirkan?."
"Tidak, semuanya sudah baik."
__ADS_1
"Theodor dan Violetta akan honeymoon ke Spanyol. Jadi aku minta Nona cantik stay untuk di rumah terus. Kalau ada sesuatu yang Nona cantik rasakan atau si bayi cantik rewel, aku akan menyiapkan dokter untuk kalian. Karena kalau untuk melakukan perjalanan jauh kita belum bisa. Jadi kalian harus satu negara dulu dengan mereka."
"Tidak apa-apa tuan, terima kasih untuk semua yang sudah tuan lakukan untuk kami. Semoga saja saya dan bayi saya tidak kenapa-kenapa." Gadis segera menghabiskan makanannya dengan detak jantung yang cukup kencang.