
Tuan Dominic yang ingin ikut bergabung dengan Gadis, Tuan Theodor dan Tuan Patricio, hanya mampu menggigit jari ketika Tuan Patricio memintanya untuk menggantikan dirinya meeting di lantai 15. Meeting bersama para staf kantor untuk mempresentasikan pendapatan perusahaan selama satu bulan yang lalu dan bulan yang akan datang.
"Awas saja kalau Gadis malah menjadi sekertaris Theodor. Enak saja aku yang sudah memintanya terlebih dulu." Gumam Tuan Theodor tidak terima, nantinya dia akan melayangkan protes pada sang Papa jika apa yang ditakutkannya sampai terjadi.
Dia segera masuk ke dalam lift dengan menekan tombol angka 15. Tentunya dengan perasaan yang sedikit kesal. Karena Theodor lagi, Theodor lagi.
Sementara itu, apa yang ditakutkan oleh Tuan Dominic sepertinya akan terjadi. Setelah menerima usulan dan dan beberapa pertimbangan dari Tuan Theodor, maka sudah bisa dipastikan jika Gadis akan menempati posisi sekretaris untuk Tuan Theodor.
"Kau bisa belajar banyak di apartemen bersama Theodor. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kalau kau merasa tidak bisa untuk mengerjakannya. Dan Minggu besok kau sudah bisa bergabung di perusahaan kami." Ucap Tuan Patricio sambil mengarahkan job desk nya sebagai sekertaris Tuan Theodor.
"Iya, Tuan Patricio. Terima kasih banyak." Balas Gadis menerimanya.
"Iya, aku harap kau akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Jangan mengecewakan kami yang sudah berharap pada kemampuan yang kau miliki."
"Iya, Tuan Patricio. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh."
Tuan Patricio keluar dari ruang kerja Tuan Theodor yang baru Gadis ketahui dari papan nama yang ada di atas meja kerjanya. Karena tadi mereka duduk di sofa yang menghadap ke sebuah lapangan golf yang biasa mereka gunakan jika sedang memilki waktu senggang. Kini di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.
Entah lah, Gadis harus merasa senang atau tidak dengan salah satu pencapaiannya ini. Mungkin akan senang jika atasannya bukan Tuan Theodor. Tapi ini pun harus dia syukuri karena kebaikan dari Tuan Patricio dan Nyonya Mireya tentunya, dirinya bisa bekerja di perusahaan besar yang ada di kota Jakarta. Dengan posisi yang bukan main-main, yang akan menguras tanaga dan pikirannya.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan, hanya tiga puluh menit. Lalu kita akan pulang bersama." Ucap Tuan Theodor duduk di kursi kebesarannya sambil menatap layar monitor yang masih menyala.
Gadis hanya mengangguk sambil tidak tahu yang harus dilakukannya di ruangan Tuan Theodor. Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk menunggunya di luar.
"Apa boleh saya menunggu Tuan Theodor di luar saja?."
"Kau duduk di sofa itu, lalu kau mulai buka job desk yang diberikan oleh Papa. Kau baca baik-baik pada bagian apa saja yang boleh dan tidak boleh kau lakukan saat bekerja dengan ku. Dan aku memiliki standard pakaian yang harus dipenuhi oleh sekertaris ku, kau bisa mulai mempelajari hal itu. Dan aku tidak menerima protes apa pun."
__ADS_1
Gadis diam sambil melangkah mendekati sofa lalu mendaratkan bokongnya di sana. "Belum apa-apa saja sudah sangat otoriter, dasar manusia tidak punya hati." Batin Gadis mengumpat pria yang sedang bekerja di balik laptopnya.
"Tidak perlu mengumpat di belakang ku. Katakan saja di depan sini!."
"Ya ampun, bagaimana orang itu tahu kalau aku mengumpat?." Batinnya lagi, Gadis segera membuka dan membaca apa yang diperintahkan oleh Tuannya. Dari pada harus terlibat.banyak obrolan yang tidak penting.
Tuan Theodor tersenyum tipis ketika melihat Gadis yang duduk manis sambil mulai fokus membaca.
Tiga puluh menit sudah berlalu, Tuan Theodor dan Gadis sudah berada di dalam mobil, tentunya duduk di depan menemani Tuan Theodor. Jalanan sore itu cukup padat namun masih bisa bergerak.
Hening sudah pastinya, Gadis tidak berniat untuk berbicara apa-apa pada Tuannya dan tidak ingin melihat kearah Tuannya sekali pun. Berbeda dengan Tuan Theodor yang tanpa sepengetahuan Gadis dia melirik dan melirik kearah Gadis. Tapi tidak juga untuk membuka obrolan. Dan hasilnya sampai apartemen, mereka tetap diam.
"Malam ini aku tidak ingin makan nasi. Jadi kau bisa buat kan aku salah sayur, roti baguette dan satu mangkuk krim Catalan." Ucap Tuan Theodor saat Gadis akan menuju dapur.
"Iya Tuan Theodor." Gadis meneruskan kembali langkahnya. Dia masuk ke dalam kamar dan mengikat tinggi rambutnya lalu mengganti pakaian dengan pakaian santai. Kemudian dia kembali lagi ke dapur untuk membuat apa yang diminta oleh Tuannya.
Sementara itu, di rumah Nyonya Mireya. Lebih tepatnya di ruang kerja Tuan Theodor. Tuan Dominic tidak main-main dengan protesnya. Bagiamana tidak, saat dirinya keluar ruangan meeting dan ke lantai 48, dia sudah tidak menemukan ketiga orang itu. Apa hasil diskusi mereka?. Apa Gadis akan bekerja padanya atau justru malah bekerja pada Tuan Theodor. Dan ternyata jawabannya sangat membuat dirinya kecewa, dimana Gadis bekerja untuk Tuan Theodor.
"Papa sudah mempertimbangkan segala sesuatunya untuk Gadis. Dan menurut Papa, Gadis lebih bisa menghandle pekerjaan Theodor untuk urusan administrasi. Dari pada membantu pekerjaan lapangan yang kau pimpin."
"Tapi aku juga butuh Gadis untuk membantu ku, Pa. Dia bisa diandalkan untuk berbicara dengan klien juga."
"Papa tidak ingin berdebat lagi. Kau masih bisa meminta bantuan apa pun pada Gadis. Tapi tidak untuk menyusahkan nya."
"Pa, sekali ini saja, Papa memberikan apa yang aku minta. Aku yang meminta Gadis untuk bekerja membantu ku di perusahaan, bukan Theodor!."
Tuan Patricio menggelengkan kepala sebelum meninggalkan ruang kerja. Meninggalkan rasa sakit bagi Tuan Dominic yang selalu dinomorduakan sesuai urutannya lahir.
__ADS_1
"Kau bersabar lah dulu, nanti Mama akan coba bicara pada Papa. Siapa tahu dia berubah pikiran. Tapi jawab jujur pertanyaan Mama." Tuan Dominic mengangguk sambil menatap Nyonya Mireya. "Apa kau suka pada Gadis?."
Dengan cepat Tuan Dominic menggeleng. "Tidak, Ma. Aku sudah menganggap Gadis seperti Ramona. Hanya saja aku melakukan ini, karena hanya ingin membantunya saja."
Nyonya Mireya tersenyum senang, karena Tuan Dominic tidak menaruh hati pada Gadis. "Baik lah, nanti kita bicarakan masalah ini lagi. Sekarang kita ke meja makan."
"Iya, Ma."
Keduanya bangkit dan segera keluar dari ruangan, kemudian Tuan Dominic yang menutup pintu.
Hampir satu jam lamanya Gadis membuat menu makan malam untuk Tuan Theodor. Kini makanan itu sudah terhidang di meja makan. Seperti biasa, Gadis segara masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dia tidak ingin menunjukkan wajahnya pada di hadapan Tuan Theodor.
Baru setengah jam dirinya berada di dalam kamar, pintu kamarnya sudah ada yang mengetuk. Gadis segera menghampiri dan membuka pintu kamarnya.
"Makan lah bersama ku, tidak mungkin bisa aku menghabiskan makanan sebaik itu."
"Em...bukannya Tuan tidak mau melihat penampakan saya di sekitaran Tuan?."
Tuan Theodor terlihat menarik nafas, mencoba berbicara baik dengan wanita sudah membuatnya makan malam yang super lezat.
"Mulai sekarang kau boleh berkeliaran di dalam apartemen ini sesuka hati. Melakukan apa pun di dalam sini dan depan ku, boleh, silakan!. Sekarang keluar lah dan kita makan bersama."
Sebelum sempat Gadis memikirkan permintaan Tuanya, tangannya sudah di tarik oleh Tuan Theodor. Menuntunnya sampai meja makan lalu mendudukkannya di kursi.
"Makan lah!." Tuan Theodor menyodorkan salad sayur yang sudah dibaginya dari mangkuk besar miliknya.
"Nanti Tuan tidak kenyang makannya?."
__ADS_1
"Masih banyak, kau lihat lah!."
Gadis menatap itu dan sepertinya cukup karena masih ada makanan lain yang bisa di makan oleh Tuannya.