
Seharusnya tidak ada yang lebih membahagiakan saat melihat orang yang dicintai dan disayangi telah hidup bahagia dengan pasangannya. Tapi ini justru sangat terbalik dengan apa yang ada di dalam hati Gadis.
Ada perasaan sakit jauh di lubuk hatinya ketika melihat senyum tawa bahagia antara Violetta, Darren dan juga tuan Theodor yang melintas didepannya.
Saat ini mobil yang dinaiki Gadis berhenti di lampu merah, ketiga orang itu melintas di depan mereka dengan tangan yang saling menggenggam erat.
"Kita harus bahagia untuk Papa." Batin Gadis sambil berusaha menahan hatinya yang sangat bergejolak.
Melihat sang mantan suami sudah hidup bahagia dengan pasangan baru memacu dirinya untuk bisa ikut bahagia. Meski dengan cara yang berbeda.
Gadis sangat terpaksa keluar dari rumah Alesandro saat putri kecilnya demam dan rewel sudah tiga hari. Namun tidak ada dokter yang bisa datang ke rumah Alesandro karena dokternya sedang ada perjalanan ke rumah sakit di negara lain.
Rosario dan Alesandro saling melempar pandang namun tidak berani melihat Gadis yang duduk di kursi belakang.
"Nona cantik!."
"Hem..."
Alesandro memberanikan diri menatap Gadis dari spion tengah, dia bersyukur melihat Gadis yang ternyata sedang memejamkan kedua matanya. Sangat berharap Gadis tidak melihat kebahagian mantan suaminya.
"Apa kita sudah sampai?." Tanya Gadis pura-pura bangun dan melihat sekelilingnya.
"Belum Nyonya Gadis. Ini masih di lampu merah. Sebentar lagi sampai." Rosario menengok ke belakang. Gadis membetulkan gendongan si kecil.
Sesampainya di rumah sakit, bayi kecil itu langsung diperiksa oleh dokter spesialis anak. Untungnya tidak ada yang serius setelah melakukan pemeriksaan. Hal yang biasa dialami.
"Mungkin sebenarnya kamu ingin memperlihatkan pada Mama kalau Papa mu sudah bahagia bersama keluarganya yang baru. Atau kamu yang sangat berharap bisa bertemu dengan Papa. Tapi beribu kali maaf Mama sampaikan pada mu, Mama tidak bisa mempertemukan mu. Bahkan Papa tidak tahu kalau kamu masih ada." Ucap Gadis dalam hati saat mereka kembali menuju rumah setelah menebus obat.
Gadis kembali memejamkan mata, takut melihat hal itu dan dia tidak ingin orang lain merasa kasihan padanya. Pada kisah cinta dan jalan hidupnya.
Sesampainya di rumah, Alesandro bicara pada Gadis dan Rosario di ruang tengah.
"Aku akan memastikan Nona cantik bisa kembali ke Indonesia. Sebisa ku kalian akan berada jauh dari jangkauan Thoedor dan keluarganya.
"Selama satu tahun ke depan, aku tidak bisa sering mengunjungi kalian di sini. Karena sepertinya tuan Patricio mengawasi ku. Karena sampai sekarang tuan Patricio masih mencari tahu keberadaan kalian. Tapi tidak dengan Theodor dan Romi.
"Nona cantik masih akan ditemani oleh Rosario dan beberapa aset yang diberikan Theodor untuk Nona cantik, bisa dicairkan secepatnya.
__ADS_1
"Malam ini juga aku harus kembali ke Indonesia. Ada pekerjaan yang harus segera aku urus. Nanti kita akan bicarakan lagi tempat makan yang bisa Nona cantik urus." Jelas Alesandro begitu panjang lebar. Sementara Gadis dan Rosario hanya mengangguk paham.
"Sebelum aku kembali ke Indonesia, aku ingin Nona cantik memberi nama si baby cantik. Apa Nona cantik sudah memiliki sebuah nama untuknya?."
Gadis nampak berpikir sejenak, menatap Rosario dan Alesandro silih berganti sebelum akhirnya sebuah nama yang cantik keluar dari bibirnya.
"Hanin Raihana Syahira."
"Hanin Raihana Syahira." Alesandro mengulang kembali apa yang diucapkan oleh Gadis tentang nama anak perempuannya.
"Sebuah nama yang sangat cantik." Rosario ikut menimpali.
"Baik lah Nona cantik, aku harus segera berkemas."
"Iya tuan."
Rosario ikut bangkit dan menyusul tuannya untuk membantu menyiapkan berkas sekalian meminta izin untuk pulang menjenguk kedua orang tuanya. Namun tidak mendapatkan izin saat akan membawa Gadis bersamanya.
"Pulang lah dulu sekarang, kau harus sudah sampai di sini sebelum aku berangkat ke bandara."
"Iya tuan Alesandro. Terima kasih." Walau pun tidak bisa mengajak Gadis bersamanya, tapi dia cukup senang saat dirinya diperbolehkan pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tepat. Baru saja Alesandro berangkat ke bandara. Dan Rosario sudah sampai di rumah itu satu jam yang lalu.
.
.
.
"Mama...Mama...Mama..." Dengan begitu riang seorang anak kecil berlari menyambut kepulangan Mamanya, Mamanya baru pulang dari pasar sedang menurunkan banyak belanjaan dari dalam mobil.
"Hanin jangan lari!. Lantainya masih licin." Teriak seorang wanita dewasa dari arah dapur.
"Mama...Mama...Mama..." Tunjuk Hanin kearah wanita yang mengenakan cadar, baru selesai membayar taksi online.
"Iya ayo, kita bantu Mama." Wanita dewasa itu menggendong Hanin dan berjalan menuju ke depan rumah.
__ADS_1
"Mama..."
"Hanin."
"Gadis."
"Kak Jasmin."
"Dari tadi lari terus, enggak mau jalan." Keluh Jasmin. Bukan kenapa-kenapa hanya saja Jasmin takut jika Hanin jatuh. Bagaiman pun dirinya belum berpengalaman dalam mengurus dan menangani sekarang anak.
"Iya kak Jasmin, aku juga setiap hari harus teriak-teriak, takut Hanin jatuh. Kakak baru satu Minggu ini tahu kan Hanin suka lari ketimbang jalan?." Karena baru satu Minggu ini Jasmin dan Erna keluar dari pabrik. Mereka lebih memilih membantu Gadis yang mulai kewalahan banyak orderan.
"Kamu banyak banget belanjanya!."
"Iya kak, banyak pesanan, alhamdulilah."
Gadis mulai membawa barang belanjaan ke dalam rumah, dibantu dengan Jasmin setelah menurunkan Hanin. Bahkan anak yang baru berumur satu tahun itu sudah pintar untuk membantu Mamanya.
"Gadis!." Teriak Erna sambil memarkir motor persis di samping Gadis. Namun Gadis terus melanjutkan langkahnya karena berat juga dengan barang belanjaannya.
"Erna kebiasaan banget kalau sudah teriak-teriak." Jasmin mengoceh setiap kali Erna berteriak untuk hal apa pun.
"Bagaimana aku tidak berteriak, Jasmin?. Aku begitu senang, saat Ibu Panti meminta ku untuk membuat makanan untuk dua ratus orang. Dan itu pun Ibu Panti meminta lima puluh untuk menu istimewa."
"Oh mungkin untuk para donatur panti. Kan biasanya memang mereka beramal di panti Ibu Yanti." Balas Jasmin.
"Tadi Ibu Panti sudah menentukan pilihannya. Sebentar, aku ambil dulu dan akan aku tunjukan langsung pada Gadis." Erna segera berlari mengejar Gadis yang sudah masuk ke dalam rumah. Dan Erna melihat Gadis baru keluar kamar tanpa cadar. Karena selama satu tahun ini, Gadis memakai cadar itu untuk menutupi wajahnya dan menghindari dari siapa pun yang mengenalnya.
"Ada apa, Kak Erna?."
Erna segera meletakkan pesanan dari Ibu panti untuk Minggu besok.
"Pesanan dari Ibu panti lagi?."
"Iya, Gadis. Tapi kali ini menunya sangat berbeda dari biasanya. Coba kamu baca baik-baik menu makanan yang paling bawah untuk 50 0rang."
Gadis menelan saliva, setelah hampir satu tahun tidak membuat makanan asal negara Spanyol, kini dia diminta untuk membuatnya lagi.
__ADS_1
"Untuk para donatur Ibu Panti." Ucap Erna menjawab tanya Gadis lewat sorot matanya.