Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 61 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Kehamilan Gadis sudah mulai terlihat dengan perutnya yang sedikit menyembul. Itu dikarenakan kehamilan Gadis yang sudah memasuki usia empat bulan.


Gadis sudah tidak lagi bekerja sebagai sekretaris suaminya di perusahaan. Padahal Gadis masih sanggup untuk bekerja. Mau tidak mau tuan Theodor harus mengambil keputusan itu, sebab dirinya pun tidak ingin melihat Gadis kelelahan. Namun dibalik itu semua, sebenarnya campur tangan Nyonya Mireya lebih berperan dalam memengaruhi tuan Patricio.


Hanya sesekali saja Gadis mengantar jemput Darren di saat tuan Theodor benar-benar disibukkan dengan proyek barunya.


"Siang ini aku harus terbang ke Batam. Aku usahakan tidak sampai menginap. Jadi kamu yang menjemput Darren."


"Iya, aku akan menjemput Darren."


"Kalian baik-baik saja ya di sana!. Jangan sampai membuat Mama kelelahan. Ada Abang Darren juga yang akan menemani kalian." Tuan Theodor mengajak bicara calon anaknya sambil dielusnya perut Gadis berulang kali. Gadis hanya tersenyum melihat pemandangan manis di depan matanya.


Gadis sudah bisa menerima dengan penuh kesadaran jika dirinya saat ini tengah hamil anak dari suaminya sekaligus tuannya. Dia mau bertahan dan melakuakan apa pun supaya bayi ini bisa lahir dan bertemu dengan mereka yang menyayanginya dengan tulus.


Tuan Theodor sudah memberikan keamanan ekstra untuk kenyamanan Gadis dan juga Darren di unit apartemen milik mereka.


"Kalau ada apa-apa dengan kalian segera hubungi aku." Ucap tuan Theodor sambil beranjak. Mengecup bibir Gadis lalu pindah ke perut buncit istrinya.


"Aku sangat mencintai mu, sangat." Ucapnya sambil kembali mengecup bibir Gadis cukup lama. Gadis membalas kecupan menjadi sebuah ciuman yang sangat lembut.


"Tuan harus baik-baik saja di sana, jangan lupa selalu telepon kami." Kata Gadis saat ciuman mereka terlepas.


"Kalian juga."


Terasa berat sekali tuan Theodor meninggalkan Gadis. Tapi dirinya harus tetap segara pergi supaya tidak tertinggal pesawat. Padahal ini bukan kali pertama dirinya melakukan perjalanan bisnis selama Gadis hamil. Sudah tercatat ada empat kali perjalanan sebelumnya ke luar kota namun tidak sampai menginap. Tuan Theodor selalu mengusahakan untuk selalu pulang. Walau harus tengah malam sekali pun.


Untung saja kehamilan Gadis tidak ribet, tidak banyak maunya, malah terkesan sangat santai.


Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum menjemput Darren. Gadis melanjutkan merapikan kamar tidur. Baru kali ini dirinya membuka lemari yang selalu di kunci oleh suaminya. Dan ternyata itu hanya untuk menyimpan bad cover dan selimut yang terdapat bercak darah yang sudah mengering.


"Apa bercak darah ini milik ku?. Untuk apa tuan Theodor masih menyimpannya?." Tanya Gadis pada dirinya sendiri. Gadis merapikan kembali dan berpindah pada lemari yang lain.

__ADS_1


Selesai merapikan kamar dan isi lemari. Gadis berpindah ke area dapur. Dirinya segera membuat puding coklat kesukaan Darren dan suaminya. Serta membuat beberapa cemilan lagi sampai waktunya tiba untuk menjemput Darren.


.


.


.


Sampai di sekolah Gadis di buat kelimpungan karena Darren sudah tidak ada di sana. Mendatangi pihak sekolah untuk mendapatkan informasi yang jelas. Pihak sekolah mengatakan jika Darren sudah di jemput pulang oleh nenek dan Mama kandungnya. Violetta dan Nyonya Mireya pastinya.


Gadis terdiam, lalu berterima kasih pada pihak sekolah karena sudah memberinya informasi yang Valid.


Setelah berpikir panjang, Gadis memutuskan untuk mengecek sendiri keberadaan Darren di sana. Karena bagaimana pun dirinya bertanggung jawab atas Darren pada suaminya.


Gadis memesan kembali taksi online menuju rumah Nyonya Mireya, untuk pertama kalinya setelah dirinya berstatus istri yang diketahui oleh Nyonya Mireya dan yang lainnya.


Semenjak dirinya mengajukan diri untuk mengantar jemput Darren, Tuan Theodor memintanya untuk menaiki taksi dari pada ojek. Selain karena kemanan Gadis dan Darren tentunya calon bayi mereka juga.


"Aku harus terbiasa dengan pandangan yang cukup membuat ku bersedih, tapi aku harus lebih kuat dan bisa menerimanya." Gumam Gadis. Sudah memastikan Darren berada di sana, Gadis melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Tapi sepertinya Darren melihat dan langsung berlari kearah Gadis.


"Mama Gadis...tunggu!." Teriak Darren sangat kencang dan berhasil menghentikan langkah Gadis. Gadis membalik tubuhnya dan melihat putra sambungnya sudah berdiri di depan pagar.


"Mama Gadis, maaf aku tidak menunggu mu di sekolah. Jadinya aku ikut Mama dan nenek pulang ke sini. Mama Gadis tidak marah 'kan?."


"Tidak Darren, Mama Gadis tidak Marah. Mama Gadis justru senang kalau Mama Violetta dan nenek menjemput Darren ke sekolah. Tapi maaf ya, Mama Gadis harus pulang sekarang. Kamu baik-baik ya di sini." Pamit Gadis pada putra sambungnya.


"Mama tidak masuk dan bertemu dengan Mama Violetta dan nenek?."


"Tidak Darren, nanti saja."


Gadis ingin segera melangkahkan kakinya dari sana sebab dia melihat Violetta dan Nyonya Mireya berjalan kearah dirinya.

__ADS_1


Violetta menatap tajam pada perut Gadis yang membuncit. Ada sedikit rasa cemburu di dalam hati Violetta melihat hal itu. Seharusnya dirinya yang sedang hamil saat ini mengingat dirinya yang akan menjadi istri dari tuan Theodor.


"Masuk lah Gadis!, kau tidak dengar kalau Daren memintanya." Ucap Nyonya Mireya sambil meminta penjaga rumah untuk membuka gerbang rumahnya.


"Mama Gadis ayo masuk!." Dengan begitu senang Darren keluar lalu menarik pelan tangan Gadis mengajaknya masuk ke dalam rumah Nyonya Mireya.


Meski ada keraguan, tapi Gadis tepat melangkah mengikuti Darren karena tidak ingin mengecewakan putra sambungnya.


Bibi Dolores yang melihat Gadis sudah duduk di ruang tamu begitu senang, karena saking senangnya bersemangat untuk membuat minuman kesukaan istri dari tuannya.


"Minuman itu siapa, Bibi Dolores?." Tanya Tiara dari arah kamar mandi.


"Ada Gadis di ruang tengah. Bibi membuatkan minuman kesukaannya." Jawab Bibi Dolores dengan senyum yang mengembang.


"Biar aku yang mengantarkan minumannya!."


"Kita berdua yang akan mengantarkan."


Keduanya begitu senang dengan kedatangan Gadis ke rumah itu. Hingga kedatangan Nyonya Mireya di dapur dan membuat kaget Bibi Dolores dan Tiara.


"Aku akan membuat minuman untuk Gadis." Ucap Nyonya Mireya.


"Maaf Nyonya Mireya, saya sudah selesai membuat minuman kesukaannya Gadis."


"Oh begitu, bagus lah Bibi Dolores. Ini kah minuman untuk Gadis?."


"Iya Nyonya."


Dengan senyum penuh arti Nyonya Mireya membawa minuman tersebut lalu meletakkannya di depan Gadis.


"Minum lah Gadis!. Minuman ini Bibi Dolores dan Tiara yang sudah membuatnya." Ujar Nyonya Mireya sambil menyodorkan minuman itu langsung pada Gadis lalu duduk di sebelah Violetta.

__ADS_1


"Iya Nyonya Mireya, terima kasih." Gadis menerima Gelas itu lalu mulai meminum minuman tersebut.


__ADS_2