
Dua ratus kotak berisi makanan yang memiliki cita rasa tinggi dan kemasan lebih baik serta berstandar tinggi ditampilkan Gadis kali ini. Gadis ingin membangun image nya sebagai penyedia jasa makanan yang berkelas terutama bagi ibu panti, untuk menjamu pada para donaturnya.
Kotak makanan tersebut sudah tersusun rapi di dalam mobil yang biasa dipakai untuk bekerja mengantar pesanan.
Jasmin dan Erna yang akan mengantarkan pesanan makanan tersebut ke panti Ibu Yanti. Kurang dari setengah jam lokasi panti dari rumah yang ditempati Gadis saat ini.
Seperti biasa Hanin selalu ikut kemana pun Jasmin dan Erna pergi, tapi tidak pernah ikut kalau hanya salah satu dari mereka yang pergi. Entah itu untuk urusan mengantar makanan atau hanya sekedar jajan ke supermarket.
"Hanin, tidak ikut sama Tante Jasmin dan Tante Erna ya!." Hanin ikut Mama saja ke ruko." Hanin yang belum bisa bicara banyak namun mengerti dengan yang dikatakan Gadis, menggeleng berulang kali karena tetap mau ikut pergi bersama Jasmin dan Erna. Lalu Hanin menangis seketika kala Gadis kembali melarangnya lagi.
"Tidak ada apa-apa Gadis, kita lewat jalan biasa saja, tidak lewat jalan raya." Erna selalu mengerti tentang kecemasan Gadis.
"Biar saja ikut, Gadis. Biar kami ada hiburan di jalan ya!. Nanti aku saja yang bantu menurunkan semua kotaknya. Biar Erna yang menjaga Hanin." Jasmin membuat kesepakatan bersama Erna. Dan Erna hanya mengangguk mengiyakan. Supaya Gadis lebih santai dalam menyerahkan Hanin dalam pengawasan mereka.
"Ok, aku percayakan Hanin pada kalian ya. Aku jalan ke ruko duluan. Ojeknya sudah sampai di depan." Pamit Gadis pada Jasmin dan Erna serta menyempatkan untuk mengecup pipi Hanin. Lalu memakaikan pakaian serba panjang lengkap dengan hijab untuk anak kecil pada Hanin.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?." Tanya Erna sambil menautkan kedua alisnya. Namun tetap membantu Gadis merapaikan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuh mungil Hanin.
"Tidak ada yang berlebihan jika kita ingin yang terbaik untuk anak kita." Jawab Gadis menatap Erna.
"Baik lah tidak masalah. Kami juga akan berangkat sekarang." Ucap Jasmin menengahi. Karena ini sudah yang ketiga kalinya Erna bertanya hal yang sama dan jawaban yang sama juga dilontarkan oleh Gadis.
Mereka sama-sama meninggalkan rumah yang ditempati mereka saat ini. Jasmin dan Erna sudah menjual rumah yang dibelikan oleh tuan Theodor beberapa hari yang lalu sebelum mereka resmi keluar dari pabrik. Kemudian lebih memilih untuk tinggal bersama Gadis dan Hanin.
__ADS_1
Gadis segera menaiki ojek online langganannya untuk segara sampai di ruko. Ruko yang sudah hampir tujuh bulan ini dibelinya untuk menyalurkan kesenangannya dalam mengolah bahan makanan.
Erna dan Jasmin segara menaiki mobil dan di kecil Hanin didudukkan di kursi khusus untuk dirinya jika harus ikut. Erna yang mengemudikan mobil kali ini, langsung tancap gas meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang.
Lebih cepat dari biasanya, mobil yang dikendarai Erna sudah sampai di depan panti. Sudah terdapat beberapa mobil mewah yang terparkir di sana.
"Anak-anak kecil yang tinggal di panti ini pasti merasa sangat senang ya. Bisa mendapatkan donatur sebanyak ini dan mudah-mudahan mereka juga baik." Ucap Jasmin membuka kaca mobil dan melihat mobil-mobil mewah itu.
"Iya, hati-hati kau buka pintu. Takutnya kena mobil mereka, nanti kita harus menggantinya." Ucap Erna memperingatkan Jasmin dan dirinya juga.
"Iya bawel." Balas Jasmin lalu turun dan segara membuka bagasi.
Jasmin segera menurunkan kotak tersebut dan membawanya masuk ke dalam panti melalui pintu samping.
"Ibu Yanti." Jasmin berdiri menunggu Ini Yanti yang mendekatinya.
"Biar dibantu Pak Iwan ya, kasihan kamu sampai harus membawanya ke sini." Ibu Yanti langsung meminta tolong pada Pak Iwan yang baru selesai meneguk minumannya.
"Biak Ibu Yanti." Pak Iwan segera keluar dan langsung menurunkan sisa kotak makanan sampai beberapa kali bolak balik. Itu pun yang terkahir di bantu oleh Jasmin dan Erna.
"Hanin ikut?. Sudah besar ya Hanin!. Semakin cantik dan menggemaskan." Ibu Yanti menggendong tubuh Hanin lalu memberikan satu mainan yang di bawa oleh salah satu donatur untuk anak-anak panti. Namun Ibu Yanti terlanjur jatuh hati dan sayang pada Hanin makanya Hanin selalu mendapatkan jatah hadiah, karena yang diketahuinya Hanin sudah tidak memilki seorang ayah.
"Terima kasih banyak Ibu Yanti." Balas Erna dan Jasmin bersamaan.
__ADS_1
Mereka begitu asyik, tertawa begitu gemas dengan tingkah lucu Hanin yang diberi hadiah mainan. Tanpa malu Hanin memeluk leher Ibu Yanti.
"Permisi, Ibu Panti. Kamar mandi di sebelah mana ya?." Suara bariton yang begitu tegas terdengar tidak asing di telinga Jasmin dan Erna. Keduanya saling pandang dan bersamaan menengok ke belakang dan ternyata tuan Theodor yang berdiri saat ini bersama mereka.
Keduanya bersamaan menelan saliva menatap tuan Theodor lalu beralih pada Hanin yang berada dalam gendongan ibu panti.
Masih dalam gendongan ibu panti, Hanin dibawa pergi oleh ibu panti untuk menunjukkan kamar mandi pada Tuan Theodor dan seorang anak yang diyakini mereka adalah Darren. Dan memang benar itu adalah Darren.
"Di sini tuan Theodor!." Ibu Panti mempersiapkan tuan Theodor dan putranya saat sudah di depan pintu kamar mandi.
Setelah Darren masuk, Darren tidak bisa menyalakan keran kamar mandi, hingga Ibu panti masuk ke dalam dan membantunya. Tapi tidak sampai keluar air dan seperti ada yang menyumbat.
Tanpa ada yang menduganya, Tuan Theodor meminta Hanin yang ada di dalam gendongan Ibu panti untuk diberikan padanya.
"Ibu Panti bisa mencari tukang untuk memperbaiki keran airnya." Ucap Tuan Theodor kala Hanin sudah ada dalam gendongan tuan Theodor. Dan meminta Darren untuk memakai air yang ada di dalam ember saja.
"Baik tuan Theodor. Terima kasih." Ibu Panti segera pergi dari sana untuk menelepon tukang yang biasa membantu panti kalau ada kerusakan seperti ini.
Tuan Theodor begitu terhipnotis dengan kecantikan yang dimiliki wajah mungil itu. Meksi serba tertutup seperti ini, tapi tetap cantik, cantik khasnya anak kecil.
"Kamu sungguh sangat cantik sekali." Entah dorongan dari mana, tuan Theodir mengecup kedua pipi Hanin silih berganti sampai beruang kali. Hanin hanya diam saja mendapatkan perlakuan orang yang baru ditemuinya.
"Pa...Pa...Pa..."
__ADS_1
Seketika Jasmin dan Erna tidak bisa bernafas saat melihat sekaligus mendengar apa yang terjadi di depan mereka. Kemudian mereka duduk di kursi yang ada di dekat mereka. Kedua kaki mereka begitu lemas, kehilangan tenaga ketika melihat perlakuan manis tuan Theodor pada Hanin dan berulang kali Hanin mengucapkan kata yang baru dikuasainya.