
Dengan tergesa-gesa Jasmin segara menaiki mobil Alesandro. Jasmin tidak menyangka jika di pesta itu akan bertemu dengan pria-pria yang telah merusak hidupnya.
Mobil sudah melaju meninggalkan hotel mewah tersebut. Sesekali Alesandro memandangi Jasmin yang sangat ketakutan.
"Siapa pria-pria itu?. Kenapa mereka begitu berani pada mu?. Apa kau mengenal mereka?." Alesandro memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Jasmin masih diam, dia kira tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi. Kenangan buruk itu kembali datang memenuhi isi kepalanya. Bayangan masa lalu yang tidak bisa di hapus atau di buang dengan mudah.
Alesandro menemani Jasmin yang masih betah di dalam mobil.
"Terima kasih tuan sudah mengantar ku." Jasmin hendak membuka pintu tapi tangannya di tarik Alesandro.
"Kamu belum menjawab pernyataan ku, Jasmin."
"Mereka semua orang brengsek!." Ucap Jasmin melepaskan tangan dari pegangan Alesandro.
Jasmin membuka pintu dan segera berlari kearah rumah. Langsung mengunci pintu rumah .
Alesandro melihat sendiri apa yang dilakukan oleh pria-pria itu pada Jasmin. Bersama-sama melakukan pelecehan terhadap Jasmin. Alesandro harus kembali ke pesta dan mencari tahu sendiri siapa mereka. Sebelum dia pergi, dia meminta pada anak buahnya untuk menjaga rumah ini dan Jasmin.
Tukar cincin antara Ramona dan Galang baru saja selesai, cincin berlian sudah tersemat di jari manis Ramona. Cincin yang dipilihkan langsung oleh Galang.
Kebahagiaan terpancar jelas dari kedua belah keluarga besar, saudara-saudara dan para tamu undangan.
Riuh tepuk tangan terdengar menggema di Ballroom. Menandakan Ramona dan Galang sudah resmi bertunangan, dalam waktu satu bulan ke depan mereka akan melangsungkan pernikahan yang akan di gelar di hotel mewah yang berbeda.
Acara pun dilanjutkan pada acara yang lebih santai, makan-makan, menikmati hidangan yang sudah tersaji.
Bibi Dolores dan Bibi Veronica saat ini sedang bersama Gadis di salah satu pojok ruangan saat bertemu di meja prasmanan, ketika Bibi Dolores menambahkan menu makanan.
"Kau semakin cantik dan sangat dewasa." Bibi Dolores menghapus air matanya. "Kami ikut prihatin atas apa yang menimpa kau selama tiga tahun ini. Kau pasti sangat menderita dan merasa sendiri." Lanjut Bibi Dolores menghapus air matanya dengan tissue yang diberikan oleh Bibi Veronica. Bibi Veronica juga ikut menangis di belakang tubuh Gadis.
"Terima kasih Bibi Dolores, Bibi Veronica. Masa-masa sulit itu sudah bisa aku lewati. Meski berdarah-darah, sekarang mungkin jauh lebih baik." Balas Gadis.
"Kami selalu berdoa yang terbaik untuk kau dan Tuan Theodor."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Nyonya Mireya?." Sejak tadi di pesta dia tidak melihat keberadaan Nyonya Mireya.
"Nyonya Mireya jatuh sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur setelah tahu Hanin adalah cucunya. Setiap hari dia menangisi Hanin dan semua kesalahannya." Jelas Bibi Veronica.
Satu bulan dari meninggalnya Hanin, hasil tes DNA antara tuan Theodor dan Hanin sudah keluar. Yang isinya menyatakan 99.99% mereka adalah ayah dan anak. Saat itu Nyonya Mireya begitu terpukul dengan kenyataan Hanin adalah cucunya. Cucu yang sangat tidak diinginkan namun malah menjadi penyelamat menantu dan cucunya yang lain.
"Iya, semoga saja Nyonya Mireya cepat sembuh." Balas Gadis.
Cukup lama bercerita, hingga suara dari pria yang masih dikenalnya terdengar dari arah belakang tubuhnya.
"Bibi Dolores, tolong bawakan makanan ke kamar Darren."
Sekilas Bibi Dolores menatap Gadis sebelum dirinya dan Bibi Veronica pergi dari sana. Gadis belum mau membalik tubuhnya sebab dia masih mencium aroma parfum yang biasa di pakai oleh mantan suaminya. Yang artinya saat ini mereka ada di tempat yang sama dengan jarak yang cukup dekat. Tapi keduanya hanya saling diam tanpa ada yang mau buka suara.
"Papa!, aku sudah menunggu Bibi Dolores tapi belum juga datang ke kamar, nenek sudah lapar minta makan." Ucap Darren, suara yang masih di kenal Gadis meski sudah tiga tahun ini mereka tidak pernah bertegur sapa.
"Mama Gadis!." Seru Darren, dia percaya wanita yang saat ini membelakanginya adalah Gadis. Rasa rindu yang selama ini tersimpan rapi tidak bisa di tahan juga saat mereka dekat seperti ini.
"Mama Gadis!." Kini Darren melangkah mendekati Gadis yang sudah berkaca-kaca. Kini Darren bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang sangat dirindukannya.
"Mama Gadis!. Aku sangat merindukan mu. Boleh aku menyalami tangan Mama Gadis?."
Dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahannya. Gadis menangis di depan Darren sambil mengangguk. Dia mengulurkan tangan pada Darren dan Darren menciumnya dengan takzim. Semua perasaan menjadi satu. Darren cukup lama mencium punggung dan telapak tangan Gadis bergantian.
"Aku sangat merindukan Mama Gadis." Ucapnya sambil menangis juga di depan Gadis. "Aku benar-benar sangat merindukan Mama Gadis." Ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan, menghapus air mata Gadis yang sedari tadi berjatuhan.
"Apa Mama Gadis mau memeluk ku?."
Gadis mengangguk lalu memeluk Darren dan begitu juga sebaliknya. Berulang kali Gadis menciumi pucuk kepala Darren dengan perasan yang lebih besar tentunya, setelah kehilangan Hanin. Seakan semuanya tercurah pada Darren yang hanya beberapa waktu tinggal bersama dan memanggil dirinya dengan sebutan Mama.
Tuan Theodor yang masih berada di sana, ikut menitikkan air mata saat melihat interaksi kedua orang yang sangat disayanginya. Gadis merupakan wanita yang sampai kapan pun akan tetap mendapatkan hati dan cinta dari Tuan Theodor.
"Jangan pergi dari ku lagi, Ma!. Aku ingin tetap menjadi anak Mama Gadis. Terima aku, Ma!. Aku akan jadi anak yang baik, manis untuk Mama Gadis." Mohon Darren dengan begitu memelas.
__ADS_1
Gadis memegangi wajah Darren, menghapus air matanya lalu kembali memeluknya dengan erat.
"Kamu akan tetap menjadi anak Mama Gadis sampai kapan pun. Kamu boleh berkunjung ke rumah Mama Gadis. Kamu mau?." Tanya Gadis setelah melepas pelukannya. Yang di sambut anggukan kepala oleh Darren dengan begitu antusias.
"Sekarang aku harus kembali ke kamar, nenek sakit dan nenek sangat menyesal atas perbuatannya pada Mama Gadis dan adik Hanin." Ucap Darren kemudian menundukkan kepala.
"Apa Mama Gadis mau memaafkan dan menemui Nenek?." Tanya Darren lagi semakin menundukkan kepalanya.
Gadis terdiam sejenak, rasanya sungguh tidak mungkin untuk tidak terus terlibat dengan keluarga yang satu itu.
"Ayo, Mama Gadis mau menemui nenek Darren!." Ucapan Gadis sontak saja membuat wajah Darren seketika terangkat dan menatap wajah Gadis.
"Mama Gadis memang yang paling baik. Ayo kita ke kamar nenek!. Pasti nenek senang dengan kedatangan Mama Gadis." Gadis dan Daren berjalan melewati tuan Theodor yang masih mematung ditempatnya.
Tuan Theodor mengikuti langkah mereka dari belakang dengan posisi yang cukup jauh. Tidak ingin membuat Gadis takut atau tidak nyaman saat berdekatan dengan dirinya.
Sementara itu di ballroom, Alesandro memperhatikan sosok pria yang telah menganggu Gadis. Satu nama sudah dikantongi yaitu Raymond. Namun siapa Raymond dan apa hubungannya dengan Jasmin itu yang masih harus diselidiki.
Terlihat Raymond merangkul pinggang seorang wanita yang sangat cantik dengan tubuh yang seksi. Keduanya tidak segan untuk menunjukkan kemesraannya di depan banyak orang.
Alesandro melihat Erna dan Rosario yang sedang mengitari meja prasmanan. Lalu Alesandro melangkah cepat menghampiri keduanya.
"Tuan!. Kau membuat kami kaget saja." Ucap Rosario sambil memundurkan langkahnya.
"Kau tahu pria yang bernama Reymond?." Alesandro bertanya pada Rosario namun yang terkejut malah Erna.
"Mana Reymond?. Ada dimana dia?. Jangan sampai dia melihat Jasmin!." Tanya Erna mengedarkan pandangan lalu menangkap sosok yang sangat dihindari dirinya dan juga Jasmin.
"Benar itu Raymond. Tapi dia siapa?."
Kekagetan Erna semakin terlihat saat suara seorang yang dikenalnya memanggil Reymond dengan sebutan Kakak.
"Kak Reymond!. Mama mencari mu dan Kak Lola."
"Reymond, kakaknya Galang." Ucap Erna dan Alesandro bersamaan.
__ADS_1