Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 66 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Putus asa, sangat putus asa. Itu yang saat ini dirasakan oleh tuan Theodor. Sudah berminggu-minggu dirinya dan Romi belum juga menemukan keberadaan Gadis. Begitu juga dirinya kesusahan untuk mengecek segala kegiatan Alesandro, sebab sampai sekarang Alesandro masih berada di Jakarta dengan semua kegiatan bisnisnya. Setelah beberapa lama Alesandro berada di rumah sakit karena akibat kebrutalannya.


Tuan Theodor belum mau menyerah untuk menyeret Gadis dan memberinya pelajaran karena sudah menyakiti hatinya sedemikian rupa. Masih mencarinya siang dan malam tanpa lelah dan tanpa henti.


Menghancurkan harapannya dengan sangat mudah, semudah membalik telapak tangan. Namun pergi kemana wanita itu?. Sebab tidak ada jejak penerbangan atas nama Gadis atau pun anak buah Alesandro. Siapa lagi yang sudah membatu Gadis selain Alseandro?, karena setahunya kekayaan Alesandro tidak sampai mampu memiliki pesawat pribadi untuk membawa Gadis pergi dari negara ini.


"Kemana lagi aku harus mencarinya?." Tanyanya sambil menonjok tembok. Dia tidak mempedulikan siapa pun keluarga yang begitu perhatian padanya. Termasuk Darren dan kedua orang tuanya. Dia benar-benar sudah mengabaikan mereka.


"Kau harus segara sadar, Theodor!. Wanita tidak baik seperti itu, memang harus pergi dari hidup kita." Nyonya Mireya membuka pintu ruang kerja tuan Theodor yang ada di rumah itu. Menjadi markas untuk menenggelamkan pikirannya tentang pencarian Gadis.


"Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun, Ma. Tolong segera keluar dari ruang kerja ku!." Tuan Theodor tidak ingin memperlihatkan wajah kehancuran pada Mamanya.


"Cepat lah kau sadar, Theodor!. Kau bisa membalas rasa sakit hati pada wanita itu, buat lah hidup kau lebih baik dan lebih bahagia lagi. Kalau kau ingin membalas, seharusnya kau nikahi Violeta, kau tunjukkan pada wanita itu, kau juga bisa bahagia hidup tanpa dia dan memiliki keluarga baru."


Tuan Theodor menatap wajah sang Mama yang sampai saat ini terus saja memberinya semangat dan dukungan. Tidak pernah sedetik pun pergi dari sisinya. Dan kali ini apa yang dikatakan oleh Mamanya tidak ada yang salah. Kenapa tidak terpikir untuk melakukan hal itu?, bukannya wanita akan sakit jika melihat pasangannya menikah lagi?. Tapi sepertinya bukan jalan yang terkahir yang harus ditempuh saat ini, sebab Gadis yang sudah meninggalkan dirinya. Jadi melihat dirinya bahagia dengan wanita lain itu tidak akan pernah membuat Gadis sakit hati, pikirnya.


Mamanya sangat memahami rasa sakit yang ada di dalam dadanya. Mamanya selalu mencari cara untuk mengembalikan putranya yang dulu. Membawanya bangkit dari keterpurukan.


"Berikan aku waktu untuk memikirkannya, aku janji tidak akan mengecewakan Mama."


"Kau memang putra ku, putra ku bukan pria yang lemah. Mama tunggu kabarnya." Nyonya Mireya memeluk lalu mengecup pipi tuan Theodor dan kemudian meninggalkan ruangan kerja putranya.


Tuan Theodor memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Mamanya. Rasa marah, benci dan kecewa pada Gadis sudah membumbung begitu tinggi. Dan apa pun akan dia lakukan untuk menutupi luka hati itu. Meski dia tidak yakin akan bisa bahagia lagi.

__ADS_1


Tuan Dominic melamun di balkon kamarnya. Menatap pekatnya malam yang disertai dengan hujan yang baru saja turun. Magdalena yang baru datang dan ikut berdiri disampingnya, kembali bertanya mengenai menghilangnya Gadis bukan karena perbuatan suaminya. Karena informasi terkahir yang didapatnya seperti itu.


"Meski aku mencintainya, tapi aku tidak sejauh itu untuk membawanya pergi dari Theodor dan membuat masalah besar seperti ini." Sudah untuk kesekian kalinya tuan Domonic mengakui rasa cintanya pada Gadis.


Magdalena hanya meresponnya biasa saja, sebab wanita itu sudah tidak ada bersama mereka. Dan bagusnya tuan Dominic mau melupakan Gadis dan menerima seutuhnya pernikahan mereka dan mencintai Magdalena.


"Iya bagus kalau kau sadar. Tapi kira-kira kemana perginya Gadis?."


"Entah lah, Papa juga tidak bisa melacak keberadaannya. Padahal Papa sudah mengerahkan semua orang yang bisa membantunya. Tapi tidak menemukan hasil apa-apa."


Magdalena sudah tidak bisa berkomentar lagi dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Bersaman dengan semakin derasnya air hujan yang turun. Dirinya mengajak tuan Dominic untuk segera ke dalam kamar dan beristirahat.


Sementara itu, Nyonya Mireya sedang bersama Violetta. Dia sedang berusaha untuk menyakinkan Violetta kembali supaya mau melanjutkan lagi rencana pernikahan dirinya dan Theodor yang tertunda. Yang disebabkan oleh Gadis, tapi sekarang Gadis sudah tidak ada lagi.


"Sudah bisa aku pastikan jika Theodor tidak akan menolak lagi. Asal kau mau menerima dia kembali, setidaknya demi Darren, demi Theodor yang sedang patah hati dan terluka."


"Aku tidak menginginkan wanita lain yang menjadi istri putraku, kau harus bisa mengambil hati Theodor kembali bagaimana pun caranya. Itu bukan perkara sulit karena kau pernah berhubungan dengan Theodor."


Violetta tidak berkata tidak dengan permintaan Nyonya Mireya yang sebenarnya sangat diinginkannya. Kembali menjalin hubungan dengan tuan Theodor, apalagi menjadi istrinya, memiliki status dan diri tuan Theodor.


"Baik lah aku menerimanya, Ma. Tapi aku minta jangan sampai batal lagi. Kalau perlu jangan membuat pesta yang terlalu mewah asal kan aku bisa memiliki status hubungan yang jelas bersama Theodor." Akhirnya Violetta menyetujui apa yang diinginkan oleh Nyonya Mireya dan tentunya dirinya juga.


"Ok sayang, Mama bisa memastikannya kali ini tidak akan gagal lagi."

__ADS_1


Violetta hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Meski masih ada terselip rasa ragu di dalam hatinya. Namun dia berusaha untuk percaya kembali pada Theodor dan calon ibu mertuanya.


Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Rosario selalu dimanjakan dengan makanan enak yang selalu dibuat Gadis. Tidak ada berhenti, dirinya menguyah. Ada saja yang berhasil masuk ke dalam mulutnya. Makanan yang diolah Gadis sungguh luar biasa.


"Kenapa Nyonya Gadis tidak membuka tempat makan?." Lagi-lagi Rosario megambil makanan yang baru saja dihidangkan oleh Gadis.


"Itu pernah ada terlintas, untuk menyambung kehidupan kami nanti, mungkin aku akan membuka tempat makan kecil-kecilan."


"Masakan Nyonya Gadis sungguh luar biasa."


"Terima kasih Rosario."


Gadis mematikan kompor dan meletakan makanan terakhir yang berhasil dibuatnya, yaitu churros.


"Ah Nyonya Gadis, bisa-bisa saya menjadi gemuk karena makanan enak ini. Oh tidak!." Rosario bangkit dan berdiri, menatap makanan yang terhidang di meja memiliki cita rasa yang begitu tinggi. Sungguh luar biasa enaknya.


"Ayo habiskan, Rosario!. Bukannya kamu sangat menyukai makanan itu semua?."


"Oh, tidak Nyonya Gadis!. Yang ada aku akan menghabiskan makanan kalian berdua. Sekarang Nyonya Gadis yang makan, saya hanya akan duduk untuk menemani saja." Rosario kembali duduk di depan Gadis. Ah rasanya tidak mungkin dirinya bisa mengabaikan makanan seenak itu.


Di saat keduanya sedang asyik menikmati makanan, tiba-tiba terdengar suara pria masuk ke ruang dapur dengan dandanan yang berbeda. Gadis dan Rosario saja sampai tidak mengenalinya. Sampai Rosario harus waspada dan melindungi Gadis dengan berdiri didepannya.


"Kau tenang saja Rosario. Ini aku!." Pria itu melepaskan beberapa aksesoris yang melekat pada wajahnya dan penampilannya.

__ADS_1


"Tuan Alseandro!." Keduanya begitu kaget sekaligus senang, ternyata pria itu tuan mereka yang sama-sama baik terhadap keduanya.


"Kau bagus sekali Rosario, kau memang sangat bisa diandalkan." Lanjut Alesandro memuji kerja Rosario dalam menjaga dan melindungi Gadis.


__ADS_2