
Tuan Theodor menemani Gadis untuk mengantar semua pesanannya. Dan tentunya itu atas kemauan dan kehendak tuan Theodor.
Ada lima tempat yang didatangi Gadis, pemesan pesanannya. Dan sekarang tempat yang terkahir yang akan didatangi oleh Gadis dan tuan Theodor.
"Sepertinya sore ini akan turun hujan." Ucap tuan Theodor melihat langit yang sudah sangat gelap, padahal waktu masih pukul empat sore.
"Iya, saya harus menyerahkan pesanan ini sebelum hujan turun." Sahut Gadis, seketika tuan Theodor melajukan kendaraannya dengan cukup kencang karena permintaan Gadis.
Sampai di tempat tujuan, Gadis segera turun dan memberikan pesanannya pada pelayan yang membukakan pintu. Setelahnya Gadis langsung berlari kearah mobil tuan Theodor. Bersamaan dengan air hujan yang mulai turun rintik-rintik.
"Untung saja pakaian mu tidak basah." Tuan Theodor segera melajukan kembali mobilnya, membelah jalanan ibu kota sore ini yang sudah di guyur air hujan.
"Iya." Balas Gadis singkat. Dia juga melihat jalanan yang sudah mulai padat karena sudah waktunya orang pada pulang kerja.
Tuan Theodor dan Gadis terjebak macet di jalan yang masih jauh ke apartemen.
"Kamu tidak mencari masjid?." Tanya tuan Theodor saat melirik jam sudah memasuki waktu maghrib.
"Lalu mobilnya bagaimana?." Tanya Gadis menatap tuan Theodor.
"Kita bisa berhenti di depan, sekalian kita makan." Tuan Theodor menunjuk mall yang ada di kiri mereka.
"Baik lah, ayo." Kali ini Gadis langsung mengiyakan tanpa membantah sedikit pun.
Gadis dan tuan Theodor sama-sama mendatangi sebuah masjid yang tersedia di mall tersebut. Gadis segera memasuki area yang dikhususkan untuk para wanita. Dan diam-diam tanpa sepengetahuan Gadis, tuan Theodor masuk ke tempat yang dikhususkan untuk para pria.
Hampir dua puluh menit Gadis berada di dalam masjid, tuan Theodor sudah duduk di sana, di tempat yang tidak jauh dari masjid tersebut.
Gadis segera menghampiri tuan Thoedor yang terlihat oleh kedua matanya.
Gadis memicingkan mata kala melihat kaos yang di pakai tuan Theodor terlihat sangat basah.
"Kenapa pakaian tuan basah?." Tanya Gadis menatap intens tubuh tuan Theodor yang hampir semuanya basah.
"Iya, tadi kena cipratan air mineral." Balas tuan Theodor bohong.
__ADS_1
"Kenapa tidak langsung beli pakaian ganti, di sini kan dingin?." Ucap Gadis sambil melirik kanan kiri toko pakaian.
"Aku menunggu mu dulu di sini, takutnya kamu kabur lagi saat aku lengah memilih pakaian." Goda tuan Theodor sambil langsung menarik tangan Gadis untuk masuk ke tempat salah satu penjual pakaian pria.
Tuan Theodor memilih beberapa potong pakaian pria lalu mencobanya. Setelah menemukan yang pas dengan selera dan ukuran tubuhnya, Tuan Theodor langsung memakainya. Dan segera keluar dari tempat itu. Karena semua hampir pegawai wanita menatap penuh damba kearahnya.
Gadis hanya tersenyum melihat para pegawai wanita tersebut. Mungkin dirinya pun akan melakukan hal yang sama seperti mereka.
"Kamu mau makan di sini atau di rumah?." Tanya tuan Theodor saat berhenti di tempat makan yang cukup ramai dengan pengunjung.
Sebelum Gadis menjawab tuan Theodor sudah menarik tangan Gadis lagi untuk menjauh dari sana.
"Gadis!." Gadis berbalik ketika ada suara yang memangil namanya dan ternyata itu adalah Yacob.
"Bukannya itu teman Nona Ramona?."
"Tidak masalah kalau dia hanya teman Ramona, tapi dia juga pernah mengatakan perasaanya pada mu, bukan?." Tuan Theodor semakin erat menggenggam tangan Gadis dan tanpa sadar mereka sudah berada di area parkir.
"Kita makan di apartemen saja, kamu yang harus memasak untuk kita!." Ucap tuan Theodor setelah membuka pintu mobil dan meminta Gadis untuk segera masuk.
"Iya, tuan." Jawab Gadis singkat.
Sesampainya di apartemen, Gadis langsung ke area dapur, dan langsung saja mengeksekusi bahan-bahan makanan menjadi sebuah makanan yang sangat enak dan lezat di tangan Gadis.
Makanan sudah terhidang di atas meja makan. Setelah satu jam lamanya Gadis berkutat di dapur.
Tuan Theodor yang baru keluar dari kamar pun langsung menuju dapur. Karena sudah tercium dari aroma wangi makanan yang di buat Gadis.
"Menu baru lagi?."
"Iya, semoga saja tuan suka."
"Sepertinya sangat lezat."
"Hem."
__ADS_1
Tuan Theodor mulai mencicipi satu persatu menu baru yang dibuatkan Gadis. Dan yang paling sangat mencuri perhatiannya, jatuh pada makanan yang terkahir dicicipinya.
"Yang ini, rasanya sangat enak, tapi cukup pedas di lidah dan mulut ku. Ini daging kan?."
"Ya, itu daging. Namanya Rendang." Jawab Gadis sambil mengambil satu potong daging untuk dirinya.
"Rendang, sangat enak tapi aku kepedasan." Tuan Theodor sudah menghabiskan air putih beberapa gelas. Tapi rasa pedasnya sangat menempel di mulut dan lidahnya.
"Kenapa kamu baru sekarang membuat makanan seenak ini?."
"Karena lagi bisa saja. Kalau dulu kan tuan lebih senang makanan khas negara tuan. Jadi, ya simpel saja saya memasaknya."
Tuan Theodor mengelus senyum, melupakan rasa pedas yang masih tertinggal di sana.
"Kalau sekarang, aku akan memakan apa pun yang kamu buat kan untuk mu. Dan kamu harus mengenalkan masakan negara mu pada ku, aku sangat menyukainya. Terlebih karena kamu yang membuatnya."
Gadis hanya diam, tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh tuannya.
Selesai makan makan, Gadis yang hendak merapikan meja makan langsung menatap kearah pintu. Karena ada orang yang sudah mengetuknya berulang kali.
"Biar aku yang buka pintunya." Tuan Theodor segera membuka pintu dan semua keluarga besar tuan Theodor datang mengunjungi mereka di sana. Termasuk ada Violetta dan kedua anaknya.
Gadis seketika diam mematung, dia mengingat kejadian ini seperti kejadian beberapa tahun silam. Dimana Nyonya Mireya memergoki dirinya yang tanpa busana.
Air mata itu kembali turun, jatuh membasahi pipinya. Gadis segera berbalik badan, membelakangi mereka semua dan segera menghapus air matanya.
"Mama Gadis." Panggil Darren dengan lirih, kemudian berjalan melewati tubuh Gadis dan sekarang mereka berhadapan.
"Aku rindu sama Mama Gadis." Ucap anak itu sambil mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Gadis.
"Kenapa Mama Gadis menangis?." Tanya Darren, Kembali menghapus air mata Gadis.
"Maaf kan Mama Gadis, kamu harus berpisah dari Papa. Tapi kamu tenang saja, Mama Gadis akan meminta Papa untuk kembali pada kalian." Gadis meraih tangan Darren yang beberapa di pipinya.
Darren menggeleng sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ini bukan salah Mama Gadis, tapi aku yang terlalu memaksa Papa untuk ikut bersama kami. Padahal aku tahu Papa tidak bisa hidup tanpa Mama Gadis."
"Tidak, Darren. Tempat Papa memang berada bersama kalian." Isak Gadis.