
Reymond yang babak belur sudah mendapatkan perawatan dan kini sudah sadar dari pingsannya. Dia begitu membenci kejadian yang sudah menimpanya. Kenapa dia begitu bodoh melakuakan itu di depan tuan Theodor dan Gadis?. Pasti setelah ini akan ada masalah besar dalam hidupnya.
Belum lagi, Alesandro yang sekarang menjadi calon suami dari Jasmin. Dirinya harus siap mendapat balasan dari tuan Tuan Theodor dan Alesandro.
Galang yang sejak tadi menunggui Reymond di rumah sakit. Karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya khwatir. Meski sebenarnya Galang sangat marah pada Reymond atas apa yang baru diketahuinya dari tuan Theodor tentang perbuatan Reymond.
Kerena dia juga tidak ingin memiliki masalah dengan keluarga calon istrinya.
"Kenapa kau bisa begitu brengsek, Kak?. Kau tahu bukan Gadis dan Jasmin keluarga dari Theodor sekarang?." Dan seharusnya kau tahu kalau perbuatan kau itu salah." Galang begitu geram pada Reymond yang tidak pernah memikirkan keluarganya. Terlebih sekarang dirinya memiliki hubungan dengan Ramona.
"Kau sudah memiliki istri dan masih suka mempermainkan wanita di luar sana. Kau itu memang pria brengsek." Lanjut Galang sambil bangkit dan hendak pergi dari sana.
"Kau mau kemana?." Tanya Reymond sambil menahan sakit seluruh tubuhnya.
"Aku akan meminta Mama dan Papa untuk menjaga kau di sini. Supaya mereka tahu apa yang sudah kau lakukan." Jawab Galang sambil beranjak dari hadapan Reymond yang memejamkan matanya.
Galang duduk di kursi depan ruangan Reymond. Dia hanya ingin menggertak Reymond karena selama ini, Reymond selalu melakukan apa pun sesuka hatinya. Tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya.
Sementara itu di dalam sebuah unit apartemen yang mewah, ******* dan lenguhan silih berganti keluar dari mulut Gadis akibat goyangan tuan Theodor.
Tidak ada lelah bagi keduanya, setelah acara pembukaan restauran sampai larut malam, dilanjutin ke rumah Alesandro kemudian mengantarkan Erna dan Rosario ke rumah lalu berakhir di unit apartemen mereka.
Gadis dan tuan Theodor mengakhiri percintaan mereka ketika setelah dua jam lamanya dan beberapa kali Gadis mendapatkan pelepasannya dan hanya satu kali pelepasan bagi tuan Theodor.
Keesokan paginya...
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Jasmin membuka kedua matanya yang kena silau matahari.
"Selamat pagi, sayang." Alesandro merapikan rambut yang menutupi wajah cantik Jasmin.
Sesaat Jasmin memejamkan matanya, kembali mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya dan Alesandro.
Kejadian yang bermula di dapur dan berakhir di tempat tidur, sampai mereka tidak menemukan Erna, Rosario, Gadis dan tuan Theodor.
"Selamat pagi." Balas Jasmin membuka matanya malu-malu.
"Bagaimana perasaan mu pagi ini?."
"Hem..." Jasmin menutupi wajahnya dengan guling bantal, dia merasa malu dengan pertanyaan itu. Seolah menanyakan kegiatan panas mereka semalam.
__ADS_1
"Kenapa malu, sayang?. Aku ingin mengetahuinya." Alesandro mengelus punggung Jasmin.
"Aku...aku jauh lebih baik." Jawab Jasmin memperlihatkan wajahnya dari balik guling bantal.
"Benar kah?."
Jasmin mengangguk lalu duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.
"Iya, aku merasa lebih baik sekarang." Jujur Jasmin sambil mengembangkan senyumnya.
"Kalau begitu, boleh aku memintanya lagi?." Goda Alesandro aji mumpung.
Jasmin menggeleng lemah.
"Baik kalau begitu, ayo kita mandi!. Aku akan mengantar mu ke restauran." Gadis mengangguk, turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi. Diikuti oleh Alesandro yang membawa handuk untuk mereka.
Sementara itu di rumah Nyonya Mireya, Darren sudah berdandan rapi dan sangat tampan. Menunggu kedatangan Mama Gadis dan Papa Theodor menjemput dirinya untuk tinggal di apartemen.
"Sudah sampai mana Mama Gadis?." Tanya Violetta pada Darren saat sudah mematikan sambungan teleponnya.
"Sebentar lagi sampai, Ma." Jawab Darren.
"Satunya lagi dong sayang!." Pinta Violetta karena dirinya menggendong Devan.
"Punya siapa, Ma?." Tanya Darren penuh tanya dan sangat merasa heran karena koper itu bukan miliknya.
"Adik mu sayang." Jawab Violetta santai sambil berjalan keluar, membiarkan Darren membawa kedua koper yang berukuran sedang.
Devan yang masih merasa heran pun tetap membawa koper itu ke luar dan meletakkannya di ruang tengah.
"Devan, Ma?." Darren bertanya lagi pada sang Mama sambil menatap Devan yang tidur di dalam gendongan Mamanya.
"Iya sayang. Kamu harus menjaga Devan dengan baik. Bantu Mama Gadis dan dan Papa ya." Jawab Violetta mengecup pucuk kepala Darren.
Seketika wajah Darren menjadi sendu. Kalau mereka berdua ikut Mama Gadis, lalu siapa yang akan menemani Mama Vioetta nya?.
Ada beberapa hal yang tidak bisa di katakan oleh Violetta pada Darren, karena dia tidak ingin membebani Darren dengan permasalahan orang tuanya.
"Kenapa harus murung?. Nanti Mama Gadis akan menjelaskannya pada Darren." Violetta terus saja mengembangkan senyum, supaya Darren tidak mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Di tengah obrolan Violetta dan Darren, Nyonya Mireya dan tuan Patricio ikut bergabung. Tuan Patricio meminta Darren untuk sebentar duduk di atas pangkuannya dan si Devan di atas pangkuan Nyonya Mireya.
"Itu Mama Gadis dan Papa sudah sampai." Ucap tuan Patricio saat mendengar Bibi Dolores memanggil nama Gadis dan tuan Theodor. Dan benar saja, kedua orang yang sudah dinanti Darren sekarang berada di sana bersama mereka.
"Halo Ma, Pa." Sapa Tuan Theodor menyalami kedua orang tuanya kemudian mengecup pipi Darren dan Devan. Yang diikuti oleh Gadis menyalami semuanya, termasuk Violetta.
"Mama Gadis, Papa." Darren bangkit lalu memeluk kedua orang yang sangat dirindukannya. Karena baru kali mereka benar-benar bertemu setelah pernikahan.
Mereka semua langsung menuju ke meja makan, karena waktunya untuk sarapan sebelum memulai aktivitas pagi mereka.
Devan kembali diletakkan di dalam box tempat tidur yang tidak jauh dari meja makan.
Sedangkan Ramona yang sejak tadi sudah berada di kantor, kedatangan Romi yang ingin menemui Alesandro. Tapi ternyata Alesandro masih dalam perjalanan menuju kantor.
"Romi!." Panggil Rosario cukup kencang karena pria itu fokus pada ponselnya.
"Romi!."
"Hem..." Baru lah Romi mengangkat wajahnya sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
"Kau sudah memiliki tunangan?."
Romi langsung menautkan kedua alisnya ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Rosario.
"Informasi dari mana?." Romi malah balik pada Rosario.
"Tuan Alesandro." Jawab Rosario jujur.
Romi tergelak cukup kencang, kini giliran Rosario yang menautkan kedua alisnya. Memang ada yang lucu dengan perkataanya.
Fokus keduanya kini beralih pada Alesandro yang baru saja sampai dengan wajah yang berseri-seri.
"Tuan Alesandro!." Panggil keduanya bersamaan.
"Hem, Romi keruangan ku sekarang!."
Romi segera mengikuti Alesandro yang sudah menutup pintu ruangannya.
"Aku mau kau urus Reymond, kirim pria itu ke penjara. Aku tidak peduli pada kontrak kerja sama ku dengan Galang atau pun Papanya, Rizal."
__ADS_1
"Baik tuan Alesandro."