Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 25 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Tuan Theodor tidak bisa menolak Violetta yang meminta dengan sedikit memaksa untuk masuk ke dalam apartemen Tuan Theodor.


Kini keduanya duduk saling berhadapan.


"Dominic yang sudah memberitahu ku, kau tinggal di sini bersama seorang pembantu. Aku cukup lega mengetahui jika wanita itu pembantu yang merangkap menjadi sekertaris kau di perusahaan. Aku kira wanita itu yang mampu membuat kau bertahan hidup tanpa aku. Dan Domonic juga sudah banyak cerita tentang kau selama ini." Ucap Violetta panjang lebar. Dirinya memang mencari tahu keberadaan Tuan Theodor dari Tuan Domonic karena untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda kemarin.


Dengan tubuh yang bukan hanya demam, tapi mulai menggigil. Tuan Theodor berusaha menahannya supaya tidak terlihat lemah di depan wanita itu.


"Aku sedang tidak ingin menerima tamu siapa pun saat ini, jadi aku minta kau segara keluar dari apartemen ini!." Usir Tuan Theodor pada Violetta, dia sudah merasakan dirinya mau ambruk.


"Tapi..."


"Nanti kau akan aku hubungi lagi." Tuan Theodor bangkit dan mendekat kearah pintu.


"Cepat lah keluar!." Perintahnya tidak ingin di bantah. Dengan sangat terpaksa Violetta meninggalkan apartemen walau belum bicara apa pun tentang dirinya.


Tuan Theodor segara masuk ke dalam kamar Gadis dan langsung naik ke atas tempat tidur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Cepat lah pulang, Gadis!. Kau sangat aku perlukan." Guammya sebelum dia menutaup matanya.


Sedangkan Gadis yang sedang ditunggunya, begitu asyik bercerita banyak dengan Jasmin dan juga Erna setelah menghabiskan semua makanan yang di masak oleh Gadis.


"Kamu sangat pintar sekali memasak, Gadis. Aku perlu banyak belajar pada mu." Puji Erna sambil melahap habis sisa makanannya.


"Iya Erna benar, makanan yang kamu masak sangat enak-enak." Jasmin ikut menimpali Erna.


"Kak Erna dan kak Jasmin bisa saja. Aku juga masih perlu banyak belajar." Balas Gadis merendah.


Mereka memulai hubungan yang baru yang lebih baik dari hubungan sebelumnya. Jasmin begitu bersyukur memiliki adik seperti gadis yang sudah melapangkan setiap kejadian di masa lalu. Dia sangat berhutang budi atas setiap kebahagian yang diberikan Gadis.


"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?." Tanya Gadis pada kedua kakaknya.


"Lancar, semuanya berjalan baik. Aku dan Erna sangat beruntung bisa bekerja di perusahan keramik terbesar di dunia." Jawab Jasmin yang sudah dua bulan ini bekerja sebagai karyawan pabrik pembuatan keramik bersama Erna.


"Syukur kalau lancar." Jawab Gadis sambil melirik jam yang melihat di tangan kakaknya.


"Kamu harus pulang ya?." Tanya Erna.

__ADS_1


"Iya, Kak. Aku harus segera pulang. Karena sudah sore. Kapan-kapan lagi aku main ke sini." Gadis merapikan isi tas dan mengeceknya takut ada yang tertinggal.


Sampai di apartemen sekitar pukul lima sore, Gadis segera masuk kamar dan betapa terkejutnya ketika melihat Tuan Theodor yang berada di balik selimut dengan tubuh yang menggigil.


"Kau sudah pulang ?, kenapa lama sekali?, tubuh ku terasa sakit semua." Tuan Theodor masih mampu berbicara meski terbata.


"Maaf kan saya, Tuan Theodor. Saya kan megambil obat dan air hangat untuk mengompres tubuh anda." Gadis bergegas keluar dan menyiapkan semuanya.


Sepuluh menit Gadis sudah kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi obat penurun demam, air hangat beserta handuk kecil di dalam wadah dan makanan yang sudah dihangatkan. Lalu diletakkan di atas nakas.


"Kenapa kau lama sekali?." Tanya Tuan Theodor sambil menyingkap selimut lalu beringsut duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.


Tanpa menjawab pertanyaan tuannya, Gadis duduk berhadapan dengan Tuan Theodor. Sambil memegang piring berisi makanan sudah lengkap dengan daging dan sayur.


"Tangan ku gemetar, aku tidak bisa memegang sendok." Ucapnya sambil menunjukkan tangannya yang bergetar dan terkulai lemas.


Gadis mengangguk dan mulai menyuapi Tuan Theodor hingga sampai habis, meski dibumbui drama hanya mau makan sedikit namun pada akhirnya habis juga tanpa sisa.


Gadis menyodorkan air mineral beserta obat dan Tuan Theodor langsung meminum obat penurun demam tersebut.


Dengan patuh Gadis menuruti apa yang diminta oleh tuanya yang lagu sakit.


Tidak lama, hanya tiga puluh menit Gadis sudah keluar dari kamar mandi hanya dangan kimono yang membalut tubuhnya.


"Lepas kimono itu dan cepat lah ke sini!." Perintahnya tidak sabaran. Dia menepuk sisi kanan, segera meminta Gadis bergabung bersama dirinya di atas tempat tidur.


"Saya pakai ini saja, Tuan." Gadis bernegosiasi karena meski mereka sering melakukannya namun malam ini sangat berbeda. Tuan Theodor tidak sedang berhasrat terhadap dirinya. Jadi sangat terasa sangat malu.


"Cepat lah, Gadis!. Atau aku yang akan melepasnya?." Sifat memaksanya tetap ada meski sedang sakit sekali pun.


Gadis segera melepas kimono dan cepat-cepat baik ke atas tempat tidur lalu menutup tubuhnya menggunakan selimut yang sama dengan Tuan Theodor.


"Kau begitu wangi." Ucapnya sambil memeluk tubuh Gadis dengan posisi saling berhadapan. Wajah tampan Tuan Theodor terbenam pada ceruk leher Gadis dan memberikan kecupan-kecupan lembut di sana.


Tangan Gadis di tuntun untuk melingkar pada pinggang Tuan Theodor. Nafas keduanya sangat teratur. Tidak ada gairah, hasrat untuk melakukan penyatuan.


Keduanya hanya saling memandang, menyalami apa yang telah mereka lakukan selama ini. Keintiman yang terjadi atas kesepakatan kini perlahan menciptakan kebiasaan yang begitu candu bagi Tuan Theodor. Untuk Gadis sendiri, dia tidak ingin menggunakan perasaannya dalam memenuhi hasrat tuannya. Terlebih dia hanya dijadikan seorang pemuas oleh tuannya. Dan sekarang wanita yang sangat dicintai tuannya sudah kembali, bersiap untuk melanjutkan kisah mereka yang belum selesai.

__ADS_1


"Tidur lah, aku tahu kau pasti sangat lelah." Gadis hanya diam dengan tatapan yang masih fokus pada wajah tuannya.


"Aku tahu, aku pria paling tampan." Tuan Theodor mengelus pipi halus Gadis dengan tangannya.


Gadis tersenyum tipis tanpa bersuara lalu memejamkan mata.


.


.


.


Siang ini Gadis sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ada beberapa menghandle pekejan Tuan Theodor dan Taun Domonic. Karena Tuan Theodor belum bisa ke kantor karena masih harus istirahat. Dan Tuan Dominic akan ke bandara untuk menjemput Tuan Patricio sekaligus meeting di sana.


Sudah selesai dengan beberapa pekerjaan, Gadis berencana untuk menundanya karena makan siang. Dan kini dia sudah berada di kantin bersama Puput.


"Aku salut pada mu, Gadis. Sudah sejauh ini masih bertahan dengan menjadi sekretaris dari Tuan Theodor."


"Hem...mungkin karena aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."


"Benar juga. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama kalau di posisi mu."


Gadis hanya mengangguk sambil menyantap bekal makan siangnya.


"Tapi ngomong-ngomong, Nona Violetta pacar dan cinta pertama dari Tuan Theodor datang dengan membawa seorang anak yang sangat mirip sekali dengan Tuan Theodor. Apa kau sudah tahu berita itu?."


Gadis menggeleng lemah, dia tidak ingin terlalu jauh masuk dalam urusan kehidupan pribadi tuannya. Karena ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"Wah kau ketinggalan informasi kalau begitu. Harusnya kau lebih dulu tahu berita ini dari pada yang lain. Kemungkinan mereka akan menikah karena sudah memiliki anak."


Gadis hanya diam, melanjutkan kegiatan makan yang hampir habis.


Puput tidak ada hentinya memberikan informasi yang tidak penting padanya. Katena itu cerita tentang tuannya yang tidak ingin dicampurinya.


Saat asyik dengan lamunannya, tiba-tiba suara Ramona dan Yacob mengangetkan.


"Gadis..."

__ADS_1


__ADS_2