Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 88 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Semenjak kejadian malam itu, Reymond seperti menghilang di telan bumi satu bulan ini. Tidak pernah mengganggu atau muncul di hadapan Jasmin lagi. Sehingga Jasmin bisa kembali bekerja di panti Ibu Yanti tanpa merasa takut.


Itu semua pastinya karena kerja sama dari Romi dan juga Alesandro. Kedua pria itu sangat menjaga Gadis dan Jasmin dengan sangat baik.


Hubungan Alesandro dan Jasmin justru semakin dekat dengan adanya kejadian Reymond. Terkadang Alesandro merasa harus berterima kasih dengan keberadaan Reymond yang sebantar itu tentunya. Kalau dibiarkan takutnya malah akan menghancurkan Jasmin dan juga Gadis sekaligus.


Saking dekatnya hubungan mereka, sampai tanpa sadar perasaan Alesandro kini sudah berpindah pada Jasmin, bukan lagi pada Gadis.


Alesandro baru menyadari setelah sore ini saat dia datang ke rumah Gadis untuk membicarakan peresmian restauran untuk Minggu depan.


Dia yang kini biasa saja berada dekat dengan wanita berhijab itu, sampai Alesandro menatap Gadis dengan intens dan cukup lama.


"Kenapa tuan menatap ku seperti itu?." Tanya Gadis merapikan catatan yang sudah disimpannya di dalam tas.


"Kamu setuju tidak, kalau aku menikahi Jasmin?" Tanya Alesandro spontan dan menatap Gadis dari jarak yang cukup dekat.


"Setuju sekali, itu salah satu doa yang sering aku panjatkan. Karena menurut aku, pria seperti tuan yang bisa melindungi dan menjaga Kak Jasmin. Alhamdulilah lagi kalau tuan mencintai kak Jasmin." Ucap Gadis terharu.


"Kamu benar, aku sudah mulai memiliki perasaan pada Jasmin. Dan aku juga memiliki pemikiran sama seperti mu. Aku ingin melindungi dan menjaga Jasmin." Ucap Alesandro begitu senang mengakui perasaanya pada Jasmin.


Gadis ikut tertawa dengan begitu lepas, ikut merasakan Kebahagiaan Alesandro untuk sang kakak. Hal itu ternyata di lihat oleh Jasmin yang baru sampai di rumah. Jasmin sampai mengurungkan niatnya untuk masuk dan lebih memilih duduk di kuris yang ada di depan.


Pandanganya jauh ke depan, sepertinya akan sulit menemukan pria yang bisa menerima dirinya. Lebih baik sekarang dirinya fokus pada pekerjaan untuk membantu mewujudkan mimpi Gadis.


Gadis langsung berdiri saat mobil Rosario masuk dan parkir di garasi.


"Kenapa kamu tidak masuk?." Tanya Rosario menatap Jasmin.


"Tidak apa-apa, aku baru sampai juga." Bohong Jasmin namun berbarengan dengan itu, Alesandro keluar dari dalam rumah ditemani oleh Gadis. Baru lah Rosario paham.


"Kalian tidak tahu kalau Jasmin sudah dari tadi di luar?." Rosario menatap Gadis dan Alesandro bergantian.


Jasmin segara menggeleng dan mendekati Rosario dan meyakinkan semua orang. "Tidak, Rosario!. Aku juga baru sampai, sama seperti mu."


"Sudah, ayo kita masuk!." Jasmin segara menarik tangan Rosario meski harus melewati Alesandro dan Gadis.


Gadis dan Alesandro hanya diam mematung, menatap Jasmin yang berlalu dari hadapan mereka.


"Sepertinya kak Jasmin salah paham pada kita."

__ADS_1


"Biarkan saja seperti itu, nanti aku yang menjadikan pada Jasmin. Sekarang aku pulang dulu, terima kasih kamu sudah mau merestui ku dengan Jasmin."


"Iya tuan, sama-sama. Aku menunggu kabar baik dari mu dan juga kak Jasmin."


"Ok." Lalu Alesandro masuk ke dalam mobil dengan wajah yang berseri-seri.


Gadis menutup pintu dan tidak lupa untuk menguncinya. Karena Erna membawa kuncinya sendiri.


.


.


.


Siang ini, setelah pulang dari kampus. Gadis menyempatkan diri untuk bertemu dengan Nyonya Mireya di rumahnya. Ini kali ketiga dirinya datang ke rumah itu setelah pertunangan Galang dan Ramona.


Bila dua kali pertemuan kemarin selalu diliputi dengan perasaan was-was, karena Gadis masih menghindari Tuan Theodor. Tapi sekarang tidak lagi, sebab Tuan Theodor beserta keluarga kecilnya sudah menetap di Italia.


Gadis turun dari motornya, merapikan hijab yang sempat berantakan saat melepas helm.


Tiara yang melihat kedatangan Gadis segara memberitahu Nyonya Mireya yang ada di dalam kamar. Lalu Nyonya Mireya meminta Tiara untuk membawanya ke ruangan keluarga.


"Nyonya Mireya sudah menunggu mu."


"Iya Bibi Dolores, terima kasih."


Gadis bersama Bibi Dolores dan Bibi Veronica berjalan bersama menuju ruang keluarga. Dan memang benar, kedatangan Gadis sudah di tunggu oleh Nyonya Mireya.


"Gadis..." Nyonya Mireya merentangkan tangan kearah Gadis dan dengan segara Gadis mendekati Nyonya Mireya, Gadis menerima pelukan hangat yang dulu sering didapatnya dari sang Nyonya yang baik hati itu.


"Terima kasih kamu mau datang ke rumah ini lagi. Aku selalu takut kalau kamu tidak mau datang lagi ke sini." Ucapnya sambil melepaskan pelukan. Menatap Gadis yang semakin cantik.


"Kalau ada waktu senggang pasti saya akan ke sini untuk menemui Nyonya." Gadis duduk di samping Nyonya Mireya.


Bibi Dolores dan Bibi Veronica kembali ke dapur setelah melihat pemandnagan manja tersebut. Tiara datang dengan membawa minuman untuk Gadis dan Nyonya Mireya serta ada beberapa cemilan.


"Terima kasih Tiara."


"Sama-sama Gadis."

__ADS_1


Tiara kembali ke dapur, membiarkan Gadis dan Nyonya Mireya berbicara di ruang keluarga.


"Sudah sampai mana persiapan pembukaan restauran?."


"Sudah selesai, Nyonya. Semuanya sudah siap. Tuan Alesandro dan yang lainnya sangat membantu saya. Termasuk Nyonya Mireya yang sudah banyak membantu. Terima kasih."


"Sama-sama Gadis, aku senang bisa melihat kamu sukses seperti sekarang ini."


Gadis tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu dan Alesandro, memiliki hubungan khusus?."


Gadis tersenyum sambil mengambil gelas berisi air lemon untuk Nyonya Mireya.


"Tuan Alesandro yang sudah banyak membatu saya, namun kami sudah seperti saudara sendiri."


Nyonya Mireya menyerahkan gelas itu pada Gadis setelah meminum air lemon yang dibuatkan oleh Tiara.


"Lalu kamu belum memiliki keinginan untuk menikah lagi?."


Gadis menggeleng lemah. "Mungkin saat ini belum. Saya masih ingin mewujudkan impian saya untuk memiliki sebuah restauran."


"Iya, pastinya aku sangat mendukung mu. Tapi kan tidak ada salahnya kamu memikirkan kembali untuk kebahagiaan mu, biar kamu ada yang menemani dan menjaga."


Gadis kembali tersenyum, mengambil minuman air lemon tersebut lalu di teguk nya sedikit demi sedikit.


"Mungkin tidak sekarang, Nyonya Mireya."


Obrolan yang kembali terjalin hangat diantara Gadis dan Nyonya Mireya, cukup memberikan hal positif bagi Nyonya Mireya sendiri.


Gadis segera berpamitan pada Nyonya Mireya dan Tuan Patricio yang baru sampai di rumah bersama Ramona.


"Kenapa harus buru-buru pulang?. Kita makan malam bersama dulu." Tuan Patricio menahan Gadis untuk tetap tinggal di sana.


"Iya Gadis, makan malam lah dulu di sini. Aku akan sangat senang sekali." Nyonya Mireya ikut menimpali dan menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Tapi..." Belum sempat Gadis menyampaikan penolakannya. Ramona sudah memotong dengan sebuah ajakan yang mungkin tidak bisa di tolak lagi oleh Gadis.


"Ayo lah Gadis!. Sekalian aku ingin belajar membuat Churros dengan mu, sekarang!. Makanya aku pulang kantor lebih cepat karena mau belajar pada mu. Galang sangat menyukai makanan yang satu itu." Ramona memintanya dengan penuh permohonan dan kesungguhan.

__ADS_1


Akhirnya Gadis menerima permintaan Rosario dan langsung ke dapur untuk mulai mengajari Rosario.


__ADS_2