Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 63 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Sejak tadi Bibi Dolores yang menunggu Gadis di ruangannya. Menunggu kedatangan keluarga yang lain yang sudah diberi kabar.


Gadis masih tidak percaya dengan apa yang baru saja menimpanya. Jika saja Bibi Dolores tidak cepat membawa dirinya ke rumah sakit mungkin sekarang sudah tidak ada nyawa dalam rahimnya lagi.


Keluarga yang ditunggu pun sudah datang, namun ternyata hanya Nyonya Mireya saja yang datang ke rumah sakit.


"Nyonya Mireya..." Sapa Bibi Dolores.


"Mobil aku ada di depan lobby, ambil makanan dan buah-buahan untuk Gadis." Perintahnya pada Bibi Dolores.


"Baik, Nyonya Mireya." Bibi Dolores keluar dari ruangan dan langsung menutup rapat pintunya.


Gadis yang menatap wajah Nyonya Mireya sedari tadi berusaha mengerti dengan senyum tipis yang ditunjukannya.


"Apa bayi mu masih ada atau sudah hilang?." Tanyanya sambil berbisik.


Deg


Gadis semakin tidak mempercayai jika apa yang dialaminya hari ini karena perbuatannya Nyonya Mireya.


"Aku turut prihatin jika bayi mu sudah tidak ada. Kalau pun masih ada, aku sangat berharap tidak akan lama lagi keberadaanya di dunia ini." Lanjut Nyonya Mireya lagi sambil menatap perut Gadis yang tertutup selimut rumah sakit.


"Kenapa Nyonya Mireya melakukan hal keji ini?." Tanya Gadis setelah mendapatkan kekuatan untuk menghadapi Nyonya Mireya. Menatap Nyonya nya dengan berani.


"Kau sangat tahu alasannya apa. Jadi aku tidak perlu menjelaskan lagi. Theodor sedang dalam perjalanan kemari, gunakan kesempatan ini untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan putra ku." Nyonya Mireya mendaratkan bokongnya pada kursi. Menatap Gadis yang sudah berkaca-kaca.


"Lebih baik bukan jika bayi kalian pergi?, sebab bayi itu tidak ada pernah mendapatkan pengakuan apa-apa dan tidak akan mendapatkan kasih sayang dari keluarga ku. Hanya Darren dan anak-anak yang lain sebagai cucu dan penerus semua bisnis Oliver."


Gadis sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam mematung, menatap sendu dengan apa yang telah diperbuat oleh Nyonya nya.

__ADS_1


Nyonya yang begitu baik, peduli terhadap masa depan dan pendidikannya kini berubah menjadi orang yang tidak dikenalnya hanya karena dirinya menjadi istri dari tuan Theodor Oliver.


"Aku harus segera pergi, kau bukan menantu ku dan bayi itu sudah tidak ada lagi. Kau harus pikirkan dengan matang, apa yang bisa terjadi pada kau selanjutnya jika tetap berada di sisi Theodor." Nyonya Mireya segara pergi dari ruangan Gadis berpapasan dengan Bibi Dolores yang datang membawa makanan dan buah-buahan.


"Aku tunggu Bibi Dolores di mobil. Theodor yang akan menemani Gadis di sini."


"Baik, Nyonya Mireya."


Nyonya Mireya kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil. Setelah ini dia sangat berharap jika Gadis segera pergi atau kalau perlu menghilang dari kehidupan mereka semua.


Bibi Dolores meletakkan buah-buahan dan makanan tersebut di atas lemari kecil. Dia mendekati dan memegang tangan Gadis.


"Tuan Theodor sedang dalam perjalanan ke sini. Bibi harus ikut pulang bersama Nyonya Mireya. Kau harus segera pulih dan kembali bersama kami lagi." Ucap Bibi Dolores dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, Bibi Dolores. Aku akan segera pulih. Bibi dan yang lainya jaga kesehatan. Tolong peluk aku, Bibi Dolores." Air mata Gadis meluncur seketika. Dia tidak bisa menahan kesedihannya seorang diri. Biarlah ini menjadi pelukan terkahir yang akan selalu diingatnya.


Bibi Dolores memenuhi permintaan Gadis, memeluknya dengan begitu sangat erat. "Aku menyayangi kalian semua. Sampai kan salam ku pada Bibi Veronica dan Tiara." Lanjut Gadis masih dalam posisi memeluk Bibi Dolores.


Sangat terkejut dengan penjelasan yang disampaikan oleh dokter. Dimana dokter itu mengatakan ada indikasi percobaan untuk menghilangkan si jabang bayi.


"Apa kamu masih berusaha untuk melenyapkannya?." Batin Tuan Theodor, bergejolak dengan berbagai perasaan.


Sampai di situ tuan Theodor tidak sanggup lagi untuk mendengarkan lagi lebih terperinci. Dirinya lebih baik keluar dan segara menemui istrinya untuk meminta penjelasan.


Sesampainya di ruangan Gadis, Gadis sedang terbaring membelakangi pintu. Sehingga Gadis tidak menyadari jika suaminya sudah berada di dalam ruangan itu bersamanya. Namun setelah tuan Theodor berjalan mendekat baru lah Gadis tahu jika itu suaminya. Karena wangi parfum yang biasa digunakan oleh tuan Theodor.


Bukanya menyambut kedatangan suami tercinta, namun Gadis malah memejamkan matanya. Memilih berpura-pura untuk tidur.


Gadis merasakan ada pergerakan di tepi tempat tidur dan ternyata tuan Theodor duduk didekatnya.

__ADS_1


"Aku berharap ini semua hanya mimpi buruk atau sebuah kesalahpahaman." Tuan Theodor mengelus lembut punggung istrinya. Sekuat tenaga Gadis berusaha tidak untuk terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Kamu tahu betul, jika aku sangat menginginkan anak dari rahim mu. Apa kamu belum bisa melupakan yang pernah Mama lakukan pada mu, sehingga kamu harus menghukum aku?. Bukannya kamu sudah berjanji untuk bertahan dan menerima calon bayi kita, tapi kenapa kamu malah masih berusaha melenyapkannya tanpa sepengetahuan ku?." Lanjut Tuan Theodor menjatuhkan kepalanya pada punggung Gadis.


Gadis tidak ingin menyanggah apalagi membela diri, dia cukup paham jika saat ini tuannya begitu kehilangan calon bayi mereka.


Malam sudah berganti pagi, suster yang berjaga pagi membawa makanan untuk sarapan Gadis dan beberapa obat.


"Jangan lupa diminum obatnya ya, Bu!." Suster itu meletakkan makanannya di atas meja


"Iya suster terima kasih." Kata Gadis sambil menatap suster itu.


Suster itu keluar dari kamar bersamaan dengan tuan Theodor keluar dari kamar mandi.


"Kamu mau makan?." Tuan Theodor menatap wajah Gadis yang lesu. Lalu mengambil nampan berisi bubur dan beberapa lauk dan buah. Menaruhnya di depan Gadis.


"Saya bisa sendiri." Tolak Gadis saat tuan Theodor mau menyuapinya.


Tatapan mereka saling bertemu untuk beberapa saat namun Gadis langsung memutus tatapan itu dengan melihat bubur yang ada didepannya.


Gadis mulai melahap bubur yang tidak memiliki rasa itu. Dia harus bisa menghabiskan makanan itu untuk memulihkan tenaganya.


Selesai menghabiskan makanannya, Gadis langsung meminum obatnya. Dia masih dalam posisi duduk, tidak ingin bertanya apa pun mengenai kepulangan tuan Theodor dari Batam.


"Setelah kejadian ini, kita akan tinggal di rumah Mama. Supaya kamu ada yang mengawasi dan membatu mengurus semua keperluan mu." Tuan Theodor sudah memikirkannya dengan matang, tidak ingin mengambil resiko lagi dengan kejadian seperti ini. Jika tinggal lagi di apartemen tidak ada yang mengawasi apa saja yang dilakukan oleh Gadis.


"Bagiamana kalau saya menolaknya?." Gadis mencoba mengeluarkan pendapatnya.


"Aku tidak ingin dibantah!, kamu harus istirahat total di rumah Mama." Gadis menggeleng lemah sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku takut kamu akan mencoba menghilangkan nyawanya lagi. Aku kesulitan bernafas saat mendengar kabar buruk itu." Akunya dengan jujur, tuan Theodor menempelkan keningnya pada kening Gadis.


"Apa tuan akan percaya jika saya katakan kalau saya tidak aman berada di rumah itu?."


__ADS_2