
Dengan sangat terpaksa Reymond membuka kaca jendela mobil karena dia sangat mengenal pria yang tadi mengetuk kaca mobilnya.
"Theodor, ada apa?." Tanya Reymond pada tuan Theodor yang pada saat itu juga bersitatap dengan Jasmin.
"Kenapa kau membawanya?, tadi aku dengar dia meminta tolong." Tanya tuan Theodor melihat kearah Jasmin yang mengatupkan kedua tangan kearah tuan Theodor.
Kesempatan baik ini, jelas tidak disia-siakan oleh Jasmin. Dia segera meminta tolong pada tuan Theodor untuk mengeluarkan dirinya dari mobil Reymond. Dan pastinya sangat berhasil.
Kini Jasmin sudah di luar namun dengan tubuh yang bergetar hebat. Dirinya sangat ketakutan dengan kejadian ini. Dia tidak ingin hal buruk itu terjadi lagi padanya.
Reymond segera melajukan kendaraannya sebelum Tuan Theodor banyak bertanya ini dan itu. Namun Tuan Theodor bisa mengurus hal itu lain waktu. Dia sangat menyakini kalau ada masalah dengan Reymond. Lebih baik sekarang fokus pada Jasmin yang sangat ketakutan.
"Kau bisa pulang sendiri atau mau aku antar?." Tuan Theodor menawarkan diri, terlebih tubuh Jasmin yang masih bergetar.
"Tolong antar kan aku pulang, tuan!." Ucap Jasmin dengan suara yang bergetar dan disertai dengan air mata.
"Baik lah, aku akan mengantar mu." Tuan Theodor membantu Jasmin untuk masuk ke dalam mobil dan sekarang dia sudah duduk di depan.
Tuan Theodor mengitari mobil sambil mengirimkan pesan permohonan maaf pada Ibu Panti. Sebab dirinya sudah membatalkan janjinya untuk bertemu dengan Ibu Panti. Sebagai gantinya tuan Theodor mengirimkan Romi beserta sumbangan yang akan diberikan.
Ponselnya kembali dimasukkan ke dalam saku jas sebelum tuan Theodor masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Segera membawa mobilnya meninggalkan panti.
Tanpa bertanya apa pun pada Jasmin, mobil tuan Theodor sudah berhenti di depan rumah yang ditempati oleh Jasmin. Karena bagaimana mau bertanya, kalau Jasmin saja dalam sepanjang perjalanan mereka hanya menangis dan menangis.
Masih dengan tubuh yang bergetar, Jasmin berusaha turun dari mobil, namun sepertinya Jasmin masih membutuhkan bantuannya.
"Ayo, aku akan membantu mu." Tuan Theodore mengulurkan tangannya pada Jasmin dan Jasmin menerimanya.
Entah apa yang ada di dalam benak tuan Theodor saat ini, sebab dirinya bisa dipastikan akan bertemu dengan penghuni lain di rumah itu.
Sempat memiliki keraguan untuk mengetuk pintu itu, tapi menjadi tidak tega saat melihat Jasmin menggigil. Akhirnya tuan Theodor mengetuk pintu tersebut.
Tok..tok...tok...
__ADS_1
Pada ketukan ketiga, pintu terbuka dan ternyata wanita yang pernah menjadi istrinya yang membukakan pintu.
Gadis segera memutus pandangan dari tuan Theodor, beralih menatap pada Jasmin yang menggigil dan berkeringat.
Tuan Theodor ikut masuk membantu Jasmin sampai bisa duduk di sofa. Diikuti oleh Gadis yang memperhatikan keduanya, apa yang terjadi dsengan kakaknya?. Kenapa bisa bersama tuan Theodor?.
"Kak Jasmin, kenapa?." Tanya Gadis tapi Jasmin belum buka suara. Dia masih menangis dalam diamnya.
Gadis menatap punggung tuan Theodor yang sedang menghubungi seseorang.
"Kak!, Kak Jasmin, kenapa?." Tanya Gadis sambil merapikan rambut Jasmin yang sebagian menghalangi wajahnya.
Menghapus air matanya yang terus saja mengalir.
"Mungkin sekarang dia tidak bisa kamu ajak bicara. Lebih kamu menunggu dia tenang dulu. Aku sudah meminta dokter untuk datang ke sini memeriksa kakak mu." Ucap tuan Theodor setelah menghubungi dokter.
Gadis mengangguk lalu membiarkan kakaknya di sana, dia segera ke dapur dan mengambil air putih untuk Jasmin.
"Minum kak!." Gadis membantu Jasmin supaya mau meneguk air minumnya.
Pertemuannya dengan Reymond seakan membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh. Jasmin belum bisa berdamai dengan kenangan buruk itu. Apalagi setelah dia menyadari perasaanya pada Alesandro. Semakin dia mengingat kejadian itu.
Setelah menunggu hampir satu jam, dokter sudah datang dan langsung saja memeriksa Jasmin di ruang tengah. Untungnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang keadaan Jasmin.
Jasmin hanya mengalami syok saja dengan apa yang dialaminya. Dan memang benar, hanya perlu membuat aman dan nyaman Jasmin, nanti Jasmin akan kembali baik. Namun ada obat yang harus di beli juga di apotik dan itu hanya obat penenang dosis rendah.
"Aku akan mengantar dokter dan membeli obatnya."
Gadis hanya mengangguk, entah apa yang harus dikatakannya. Kebaikan yang diberikan mantan suaminya begitu besar pada mereka saat ini.
Gadis segera membawa Jasmin ke dalam kamar, menggantikan pakaiannya lalu merebahkannya di atas tempat tidur.
"Kak Jasmin harus tenang ya, ada aku di sini yang akan menemani kakak." Gadis mengusap rambut kepala Jasmin berulang kali sampai Jasmin tertidur. Meski masih ada buliran bening dari keluar dari matanya.
__ADS_1
Di depan rumah, Erna dan Ramona sudah memarkirkan kendaraannya masing-masing.
"Jasmin belum pulang?." Tanya Rosario pada Erna karena tidak melihat motor Jasmin di garasi.
"Mungkin banyak pekerjaan di panti." Jawab Erna. Keduanya masuk ke dalam rumah setelah Erna mengeluarkan kunci dan membuka pintu.
Gadis yang keluar dari kamar begitu senang dengan kepulangan Erna dan Rosario. Sebenarnya dia merasa takut juga dengan sosok Reymond yang diceritakan oleh Alesandro.
"Untung saja kalian sudah pulang." Ucap Gadis memegang dadanya.
"Jasmin yang belum pulang." Beritahu Erna pada Gadis.
"Kak Jasmin sudah pulang tapi keadaanya kurang baik. Entah apa yang sudah terjadi pada Kak Jasmin?."
"Jasmin kenapa?." Tanya Erna dan Rosario kompak sambil berjalan menuju kamar. Mereka mendapati wajah Jasmin yang sembab dan ada sisa air mata di pipinya.
Mereka kembali ke ruang tengah tanpa menutup pintu kamar Jasmin, karena takut Jasmin butuh bantuan.
Pandangan ketiganya tertuju pada pintu yang diketuk dari luar. Tapi Gadis segera menghampiri pintu karena pasti itu tuan Theodor yang membawa obat.
"Siapa?." Tanya Erna dan Rosario saling melempar pertanyaan yang sama.
Dan benar saja itu tuan Theodor yang membawa obat untuk Jasmin.
Erna dan Rosario saling pandang dan kembali fokus pada Gadis dan Tuan Theodor yang sedang di depan pintu.
"Terima kasih, tuan." Ucap Gadis menerima bungkusan obat.
"Sama-sama, semoga kakak mu cepat sembuh. Dan aku harus pergi." Pamit tuan Theodor. Gadis hanya mampu mengangguk sambil menatap punggung sang mantan suami yang masih memiliki tempat di dalam hatinya.
Gadis masih diam terpaku di depan pintu, menatap mobil tuan Theodor yang perlahan mulai hilang dari pandangannya.
"Semoga tuan selalu bahagia." Batin Gadis yang kemudian menutup pintu.
__ADS_1
Gadis segera duduk dan menceritakan semua pada Erna dan Rosario yang belum menanyakan apa pun tentang tuan Theodor tapi Gadis sudah menceritakannya.