
Violetta menatap Darren yang sedang menunggu adik laki-lakinya yang sudah diberi nama Devan Alonso Oliver.
"Kamu masih suka memikirkan Mama Gadis?." Tiba-tiba saja Violetta mau menanyakan itu pada Darren. Padahal setelah sebelumnya melarang Darren untuk mengingat atau berbicara mengenai Gadis.
"Apa Mama akan memarahi ku kalau aku bicara jujur?." Tanya balik Darren beralih menatap Violetta.
"Tidak, Mama tidak akan marah." Jawab Violetta berdiri dan mengambil ponsel di atas meja.
"Iya, aku masih suka memikirkan Mama Gadis, bahkan setiap hari aku memikirkan Mama Gadis." Aku Darren dengan jujur.
"Papa?."
Darren semakin lekat menatap wajah cantik sang Mama.
"Kalau mau jujur, Papa lebih memikirkan Mama Gadis bila dibandingkan dengan aku. Kalau Mama sering melihat Papa menyendiri, itu karena Papa sedang bekerja keras untuk melupakan Mama Gadis. Karena yang aku tahu..."
"Papa mu sangat mencintai Mama Gadis, begitu maksud mu?."
Darren mengangguk lalu mendekati Mamanya.
"Jangan terus menyalahkan Mama Gadis, Ma. Selama aku tinggal bersama Mama Gadis, tidak sedikit pun Mama Gadis berbicara buruk mengenai Mama. Makanya aku juga begitu menyayangi Mama Gadis."
Violetta menggeleng sambil mengusap rambut kepala Darren dengan begitu sayang. Anak pertama dari pria yang sangat dicintainya dan mencintainya juga.
Dan sekarang dia kembali melahirkan anak kedua dari pria yang masih sangat dicintainya namun keadaannya sudah berbeda. Karena pria itu sudah melabuhkan hatinya pada wanita lain sampai sedemikian rupa, sampai sudah tidak ada tempat baginya lagi meski sudah ada anak diantara mereka.
Nyonya Mireya dan Tuan Patricio segera mendatangi rumah sakit karena mendapatkan telepon dari tuan Theodor.
Langkah kedua orang lansia itu begitu tergesa-gesa, dengan raut wajah yang begitu panik. Ingin segera sampai di tempat yang sedang ditujunya.
Sudah ada Ibu Airin, Erna dan Jasmin yang berusaha menguatkan Gadis di sana. Menguatkan untuk menerima dan berusaha mengikhlaskan kepergian Hanin dari sisi mereka untuk selamanya.
__ADS_1
Satu jam lalu, setelah melakukan pemeriksaan terhadap Hanin yang tidak memberikan respon apa pun, dengan sangat menyesal team dokter menyampaikan kabar duka bagi Gadis dan tuan Theodor. Kalau putri mereka sudah pergi, tidak bersama mereka lagi.
Menangis pun rasanya sangat percuma, tidak akan bisa mengembalikan putri cantiknya ke dalam pelukannya. Lebih baik mendoakan Hanin, putri kecilnya.
Nyonya Mireya menatap tidak percaya pada tubuh anak kecil yang telah menyelamatkan anggota keluarganya kini sudah pergi untuk selamanya. Dan hatinya pun sedang gamang, bagaimana kalau yang telah mengorbankan nyawanya adalah cucunya, darah dagingnya?.
Terlebih dirinya belum sempat meminta maaf dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang diberikannya. Anak kecil itu malah sudah pergi terlebih dulu meninggalkan rasa sesal dan sesak yang begitu dalam.
"Aku begitu kehilangan anak kecil itu, Theodor. Aku belum meminta maaf dan memohon ampun padanya." Isak tangisnya pecah sambil memeluk tubuh sang putra.
Tuan Theodor hanya diam, sambil menenangkan Mamanya. Hati dan pikirannya sungguh sangat kacau. Kekacauan yang dibuat karena ulahnya sendiri.
Rasanya lebih sakit mengetahui Hanin di saat terkahir hidup Hanin. Tidak ada kesempatan dirinya untuk memperbaiki semuanya. Namun Hanin tetap tersenyum di saat terakhirnya, memberikan kenangan indah yang tidak akan pernah dilupakannya.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Nyonya Mireya. Tuan Patricio begitu terharu, tersentuh oleh anak kecil yang sedang dipertanyakan asal usulnya. Anak baik yang telah membuatnya begitu saja menyukainya. Tapi sayang, waktu yang dimiliki mereka begitu singkat untuk mengenal anak yang begitu cantik dan baik itu.
.
.
.
"Aku masih ingin di sini, kalian pulang saja lebih dulu, aku tidak akan kenapa-kenapa." Ucap Gadis pada Erna dan Jasmin yang sedari tadi menemaninya.
"Tapi..."
"Baik lah, kami akan menunggu mu di penginapan. Kamu jaga diri baik-baik."
"Iya, Kak. Tunggu aku di penginapan saja. Kalian berdua yang harus memasak untuk aku."
"Iya..." Jasmin segera menarik Erna untuk menjauh dari Gadis. Lalu memeluk Erna dengan begitu kuat sambil menangis kencang. Dan keduanya pun saling menguatkan setelah menangis bersama-sama.
__ADS_1
Tanpa ada kata yang terucap, air mata Gadis kembali membasahi kedua pipinya. Masih ada sebuah rasa yang mengganjal di dalam hatinya, yang berusaha dia cari tahu tapi belum menemukannya dengan pasti.
Setelah hampir satu jam berdiri di sana, Gadis memutuskan untuk pulang karena hari semakin sore.
Gadis berjalan meninggalkan rumah Hanin dengan perasaan yang begitu tidak bisa dia jelaskan dengan gamblang. Yang ada hanya sebuah rasa yang begitu sakit karena kehilangan.
Langkah Gadis terhenti karena melihat tuan Theodor yang masih ada di sana, cukup jauh dari posisinya saat ini.
Menghindar pun untuk apa, Hanin sudah pergi meninggalkan dirinya. Dia tetap berjalan santai dan berhenti tepat di depan tuan Theodor.
"Aku..."
"Besok saja datang ke penginapan, hari ini aku begitu lelah." Gadis menaiki mobil yang disediakan oleh Ibu Airin untuk kembali ke panti, tentunya ada supir yang akan menghantarkan Gadis.
Sampai di penginapan, Gadis langsung mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih santai. Dirinya duduk di tepi ranjang dan menatap cermin yang ada didepannya.
Bayangan tentang Hanin kembali memenuhi pikirannya. Kerinduan dan kehilangan yang sama-sama mendalam dia rasakan pada sosok Hanin yang selama tiga tahun ini menemani dirinya.
"Ayo kita makan, semuanya sudah siap." Ucap Jasmin dari arah pintu.
"Iya, Kak." Gadis segera keluar dan duduk di teras yang ada di penginapan.
Makanan yang disiapkan merupakan makanan yang biasa dimakan juga oleh Hanin. Karena Gadis tidak pernah membiarkan Hanin untuk memilih makanan. Hanin selalu berusaha menyukai apa yang dimakan oleh mereka semua.
Gadis terdiam sambil menatap makanan tersebut. Air matanya kembali menetes lalu dengan paksa dia menghapusnya. Berusaha tegar dalam menghadapi cobaan ini.
"Ayo kita makan!, selamat makan." Gadis memaksakan dirinya untuk menelan makanan yang sedang dikunyah nya.
Pikirannya terus saja pada Hanin, walau sebenarnya Erna dan Jasmin juga begitu terluka dengan kehilangan Hanin. Tapi pastinya yang lebih terluka adalah Gadis sebagai ibu dari Hanin.
Sejenak Gadis menundukkan kepalanya, tapi setelahnya dia menarik nafas panjang lalu menghabiskan makanan yang ada di atas piringnya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, aku duluan ke kamar ya Kak." Gadis pamit undur diri dari keduanya. Dia segera masuk ke dalam kamar dan duduk di kuris sambil mengingat kembali setiap memon bersama Hanin.