
Nyonya Mireya menautkan kedua alisnya ketika yang keluar dari dalam kamar itu hanya Violetta dan Darren. Padahal semalam dia sudah memastikan ketiganya berada dalam kamar yang sama.
"Kemana perginya Theodor?." Tanya Nyonya Mireya pada Violetta yang baru duduk bersama mereka di ruang makan.
"Theodor ada pekerjaan ke luar kota. Tapi tidak apa Ma, semalam Theodor sudah memberitahu ku dan Darren. Nanti pulang dari luar kota dia akan menemui kami." Violetta mengerti dengan perkejaan calon suaminya.
"Benar Pa, Theodor ada pekerjaan di luar kota?." Tanyanya lagi pada Tuan Patricio yang sudah menghubungi Romi dan segera mematikan ponselnya.
"Iya, Ma. Theodor ke Bali, ada pekerjaan di sana selama tiga hari." Jawab Tuan Patricio setelah mendapat informasi dari Romi.
"Syukur lah kalau benar ada pekerjaan di Bali. Mama juga ikut senang kalau kalian sudah berkomunikasi dengan baik." Nyonya Mireya cukup merasa tenang karena Theodor sudah mau membangun kembali hubungannya bersama Violetta.
Ramona yang baru bangun dan bergabung dengan mereka pun cukup kaget dengan Theodor kecil yang berada di sana.
"Ma, dia siapa?." Tanya Ramona sambil menunjuk Darren. Kalau Violetta, Ramona sudah pernah bertemu dan masih mengenalinya.
"Ini Darren, anaknya Theodor dan Violetta." Nyonya Mireya memperkenalkan Darren pada Ramona.
"What?." Wajah terkejut Ramona tidak bisa disembunyikan. "Sudah besar seperti ini Ma?." Ramona mencubit gemas pipi Darren yang memerah. Darren menepis tangan Ramona yang hendak mencubit pipinya lagi.
"Jangan sentuh!." Ucap Darren dingin.
"Kau memang anak kakak ku, kau dan Theo sama-sama dingin." Ramona mengakui jika Darren memang anak dari kakaknya.
Tuan Domonic yang tidak berniat untuk ikut sarapan bersama mereka pun berlalu melewati mereka semua. Hingga suara Nyonya Mireya menghentikannya.
"Dominic kau langsung ke kantor, tidak sarapan dulu?."
Tuan Dominic menolah pada Nyonya Mireya sambil menunjukkan beberapa dokumen ditangannya. "Aku sarapan di kantor Ma. Aku ada meeting pagi." Tuan Dominic melanjutkan kembali langkahnya menuju mobil.
Tuan Dominic melihat ponselnya ketika ada sebuah pesan masuk. Tangannya terkepal kala membaca isi pesan tersebut dimana pesan itu berbunyi kalau Tuan Theodor ke Bali membawa Gadis bersamanya.
"Aku tidak akan memandang kau sebagai kakak kalau kau sampai menyakiti Gadis." Gumam Tuan Domonic sebelum masuk ke dalam mobil. Dan mulai lanjutkan kendaraannya.
__ADS_1
Sudah sampai di Bali sekitar tiga puluh menit yang lalu. Gadis dan Tuan Theodor sudah berada di dalam kamar yang sama. Tuan Theodor segera bersiap untuk menghadiri meeting sebelum meninjau proyek mereka yang ada di sana.
"Kau istirahat saja di sini, persiapkan diri sebaik mungkin untuk nanti malam." Gadis mengangguk mengiyakan, Tuan Theodor mengecup bibir itu dengan begitu lembut. Dengan kedua tangan yang memainkan gunung kembar milik Gadis.
"Aku akan pulang cepat!." Gadis kembali mengangguk. Tuan Theodor harus puas dengan hanya memegang gunung itu tanpa bisa melahapnya. Sebab sudah waktunya dia harus pergi untuk menghadiri meeting.
Usai kepergian Tuan Theodor, Gadis merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur yang super empuk dan nyaman. Rasanya tidak jauh berbeda dengan tempat tidur milik Tuan Theodor. Gadis tidak dapat menolak ketika kedua matanya terpejam karena mengantuk.
Setelah dua jam tertidur, Gadis merasa bosan dan berencana untuk turun melihat ke bawah siapa tahu ada yang bisa dibelinya.
Gadis mengeluarkan seluruh isi dalam tasnya. Dia cukup kaget karena pil yang selama ini di konsumsinya tidak terbawa. Untuk menjaga hal-hal yang sangat tidak diinginkannya jika mengingat jalan salah yang telah diambilnya.
"Ah...gawat kalau sampai aku tidak meminumnya. Aku harus segera membelinya sebelum tuan Theodor menginginkan tubuh ku." Gumam Gadis segera keluar dari kamar dan dengan langkah cepat menuju lift yang terbuka. Langkah kakinya semakin lebar karena dia harus bisa menemukan apotik terdekat yang bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki. Karena tidak fokus pada sekitarnya, tubuh Gadis sedikit terhuyung ketika menabrak tubuh seseorang.
Bugh
"Hei...Nona cantik, kau tidak apa-apa?." Tanya Pria itu membatu memegangi tubuh Gadis.
"Ah...iya, Tuan. Saya minta maaf, saya sidak sengaja menabrak anda." Gadis merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Tidak, Tuan. Sekali lagi maaf kan saya." Ucap Gadis memutar balik tubuhnya. Lebih baik dia bertanya pada resepsionis hotel saja dari pada mencarinya sendiri.
"Em...Gadis yang sangat cantik." Kata si pria itu lalu melanjutkan lagi perjalanannya.
Gadis cukup bingung karena tidak ada apotik yang bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?, apa aku harus jujur?." Gadis terpaksa segera kembali ke dalam kamar karena sebentar lagi Tuannya akan pulang.
Selesai meeting Tuan Theodor tidak lantas segera pergi sana, justru dia menyempatkan diri untuk mengecek beberapa email yang masuk.
Pada saat dirinya selesai membaca beberapa email dan meletakkan ponselnya di atas meja, tuan Theodor bertemu dengan salah satu pesaing bisnisnya, Tuan Alesandro Miguel.
"Sudah lama kita tidak bertemu, aku kira kau akan menetap di Spanyol atau Italia ternyata kau ke sini juga." Tuan Alesandro menghampiri dan menyapa tuan Theodor lebih dulu.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat, aku bisa dimana saja." Balas Tuan Theodor menatap Tuan Alesandro yang berdiri didepannya.
"Kau tidak ingin mengundang ku hanya untuk sekedar minum kopi." Tuan Alesandro hendak duduk di kursi sebuah Tuan Theodor.
"Tidak, karena setelah ini aku akan kembali ke hotel." Tuan Theodor segera memasukkan ponsel ke dalam saku dan mengambil tasnya.
"Ok, tidak masalah. Tapi aku cukup senang karena kita bertemu di sini." Tuan Alesandro memberi jalan pada Tuan Theodor yang hendak pergi dari sana.
Tuan Theodor sudah tidak sabar untuk segera sampai di kamar hotel. Karena dia ingin melakukan penyatuan dengan penuh kelembutan seperti yang diinginkan Gadis.
Sampai di kamar hotel, tuan Theodor melihat Gadis masih dengan penampilan yang sama saat ditinggalkan oleh dirinya.
"Ada apa?." Taun Theodor meletakkan tas kerja, membuka jas dan menaruhnya di atas kursi. Tuan Theodor mendekati Gadis yang seperti orang kebingungan.
"Kau kenapa?." Tanyanya lagi karena Gadis belum menjawab pertanyaannya. Gadis menatap Tuan Theodor yang menarik tangannya untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Jangan membuat ku menunggu, katakan ada apa?." Tangan tuan Theodor memegangi wajah cantik Gadis, ibu jarinya mengusap bibir yang sudah menjadi candunya.
"Apa tuan akan marah kalau saat ini saya tidak ingin melayani tuan di atas tempat tidur?." Tanyanya hati-hati.
Kedua alis tuan Theodor saling bertaut. Kemudian mencecarnya dengan banyak pertanyaan. "Ada apa?. Apa karena kau sedang datang bulan?. Bukannya setiap akhir bulan kau akan mendapatkan tamu bulanan?."
Gadis menggeleng lemah dengan menundukkan kepalanya. "Pil penunda kehamilan yang biasa saya minum tidak terbawa. Saya sudah mencari apotik terdekat, namun tidak ada. Ada, tapi jaraknya cukup jauh dari sini."
Tuan Theodor mengusap wajahnya kasar lalu membuang nafasnya perlahan. "Jadi selama ini kau meminum itu?." Gadis mengangguk.
"Apa kau tidak ingin mengandung anak dari ku?." Gadis menggeleng.
Ada perasaan tidak suka ketika wanita itu tidak menginginkan anak darinya.
"Kenapa?." Dagu Gadis di tarik hingga tatapan keduanya bertemu.
"Saya hanya pemuas, tuan sudah memiliki anak dengan Nona Violetta, tuan juga akan menikahi Nona Violetta dan saya tidak ingin memiliki anak saat tidak memiliki ikatan. Karena saya hanya akan menyengsarakan anak yang tidak berdosa itu."
__ADS_1
"Bagaimana kalau setelah lepas dari ku, tidak ada pria yang mau menerima kau karena sudah tidak gadis lagi?."