
Tuan Theodor merasa begitu tenang, setelah tiga Minggu Gadis dengan sangat terpaksa tinggal di rumah Nyonya Mireya, atas permintaan yang begitu memaksa dari suaminya.
Ketakutan Gadis terbantahkan dengan tiga Minggu ini. Tidak ada hal apa pun yang membahayakan Gadis dan calon anak mereka selama tinggal di rumah itu. Jadi tuan Theodor meminta Gadis untuk tetap tinggal bersama kedua orang tuanya.
Gadis seperti hidup di dalam sangkar emas milik tuan Theodor, tidak bisa melakukan apa pun yang diinginkan atau hanya sekedar untuk memasak.
Dengan sangat terpaksa juga Nyonya Mireya menerima kehadiran Gadis di rumah besar miliknya. Kemarahannya semakin besar ketika mengetahui bayi itu masih kuat bertahan di dalam rahim Gadis. Pemandangannya selalu harus perih melihat perut Gadis yang semakin membesar.
Selama itu pula Darren diantara jemput oleh Violetta yang belum diperbolehkan pulang oleh Nyonya Mireya. Setiap saat Violetta harus menahan rasa cemburu melihat Gadis dan tuan Theodor. Tapi Nyonya Mireya maunya Gadis yang pergi dari rumahnya bukan Violetta. Sehingga dia pun masih mencari celah untuk menyingkirkan Gadis.
"Aku berangkat ke kantor, makan yang banyak. Minta apa saja pada Bibi Dolores atau pun yang lain." Gadis mengangguk. Tuan Theodor mengecup perut lalu berpindah pada bibir.
Minggu depan rencananya mereka akan ke rumah sakit lagi. Melakukan pemeriksaan sekalian untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka.
Setelah mengantar tuan Theodor sampai teras dan menunggunya sampai mobil milik suaminya tidak terlihat lagi. Gadis balik badan hendak masuk kembali ke dalam rumah, ingin membantu Bibi Dolores yang sedang merapikan tuang tamu. Namun tiba-tiba muncul tuan Domonic dari samping dan menarik pelan tangan Gadis.
"Tuan Dominic!." Gadis menatap intens wajah yang ada didepannya.
"Kau semakin cantik dengan kehamilan ini." Puji Tuan Dominic setelah sekian lama menahan diri untuk tidak menyapa wanita yang masih dicintainya.
"Tuan Dominic tolong lepaskan!." Gadis berusaha menarik tangan dari genggaman tuan Dominic.
"Aku hanya ingin melihat dan memastikan kau baik-baik saja di sini." Tuan Dominic belum mau melepaskan tangan Gadis.
"Iya, tuan Domonic. Saya dan bayi saya baik-baik saja. Sekarang, tolong lepaskan tangan saya." Gadis masih berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi belum juga berhasil, sampai suara tuan Patricio yang berhasil membebaskannya dari tuan Domonic.
"Dominic!. Lepaskan tangan Gadis!."
"Pa..."
"Jangan pernah berbuat seperti ini lagi pada Gadis. Jangan pernah membuat orang salah paham tentang Gadis. Dia menantu ku sama seperti Magdalena." Ucap Tuan Patricio begitu membuat Gadis terharu.
"Masuk lah Gadis!. Istirahat di dalam kamar!." Tuan Patricio memberi jalan pada Gadis untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Iya, tuan Patricio. Terima kasih." Gadis segera berlalu dari hadapan kedua pria itu. Dirinya tidak jadi membatu Bibi Dolores karena sudah selesai dengan pekerjaannya. Jadi dirinya meneruskan langkahnya sampai ke dalam kamar.
"Papa tidak mau melihat lagi kau berbuat seperti tadi pada Gadis?."
"Iya, Pa."
Tuan Domonic dan tuan Patricio segera memasuki mobil masing-masing dan meninggalkan kediaman mereka.
Kini giliran para wanita yang hendak berangkat, mengantar Darren ke sekolah. Namun sebelum itu seperti biasa Daren berpamitan pada Gadis. Bagiamana pun Gadis adalah Mamanya juga. Itu kata-kata tuan Theodor yang tidak pernah dilupakannya.
"Baik-baik kau di rumah, kami akan mengantar Darren ke sekolah." Ucap Nyonya Mireya tanpa melihat wajah Gadis. Di sana sudah ada Magdalena, Violetta dan Ramona yang hendak berangkat ke kampus.
Berarti di rumah ini, hanya ada dirinya dan para pekerja yang lain.
"Iya, Nyonya Mireya." Sahut Gadis sambil melihat kepergian mereka dari depan kamarnya.
Gadis segara keluar kamar dan menuju dapur, dimana Bibi Dolores dan yang lainya di dapur.
"Kau mau apa?, biar kami buatkan." Bibi Dolores meminta Gadis untuk duduk di kursi yang ada disebelahnya.
Gadis masih betah berlama-lama di dapur, apalagi kini ada Tiara dan Bibi Veronica yang ikut bergabung di sana mereka mereka.
Bibi Veronica membuka kulkas dan memberikan minuman kesukaan Gadis. Gadis langsung meneguk habis minuman tersebut tanpa tahu siapa yang sudah membuatnya.
"Sekarang Nyonya Mireya begitu baik dan perhatian pada kau dan cucunya. Hampir setiap hari dia menyiapkan minuman kesukaan kau, Gadis."
Seketika Gadis terdiam sambil menatap minuman yang sudah habis lalu kembali menatap Bibi Veronica.
Tanpa banyak bicara lagi Gadis segera pergi dari dapur, ketiganya hanya melihat Gadis yang berjalan sedikit lebih cepat lalu keluar dari rumah tanpa membawa apa pun.
Gadis segera menyeret langkahnya, berharap bisa segera sampai di rumah sakit ketika sudah merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Bertahan lah untuk Mama!, tolong bertahan lah!, setelah ini kita akan pergi dari sini. Mama berjanji pada mu. Kita akan hidup berdua saja." Gadis sudah tidak bisa manahan rasa sakit yang teramat sangat luar biasa.
__ADS_1
Gadis memegangi perut, dia menundukkan kepalanya, menatap pada kakinya yang sudah terdapat aliran darah.
"Ya Allah, tolong selamatkan bayi ku. Aku mohon ampun pada mu, Ya Allah." Gadis menangis dengan sejadinya.
Gadis berhasil menyetop sebuah Taksi dan hendak segara masuk, tapi kepalanya begitu berat dan tiba-tiba saja terjatuh di saat pintu Taksi sudah terbuka.
.
.
.
Gadis membuka kedua matanya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan tersebut. Ternyata dirinya sudah berada di rumah sakit. Gadis langsung merasa perutnya yang masih besar. Namun dirinya belum tahu apa yang terjadi dan siapa yang sudah membawanya ke rumah sakit.
"Hei Nona cantik, kamu sudah sadar." Tanya seorang pria yang baru saja masuk beserta seorang dokter muda.
"Tuan Alesandro?. Apa tuan yang membawa saya ke sini." Tanya Gadis.
"Aku dan supir taksi itu yang sudah membawa mu ke sini. Kau pingsan dan..."
"Dan apa?. Bagaimana dengan bayi saya, dokter?. Apa semuanya baik-baik?."
"Tenangkan dulu diri mu, Nyonya Gadis. Kau dan si jabang bayi selamat. Tapi kalian berdua harus mendapatkan perawan terlebih dulu. Untuk memastikan semuanya baik-baik saja."
"Alhamdulilah..." Setidaknya bayinya selamat dan sampai tidak kenapa-kenapa.
Setelah dokter selesai memeriksa Gadis, dokter pun berpamitan dan meninggalkan Alesandro di ruangan Gadis.
"Aku akan menghubungi suami mu."
"Tidak!, jangan!. Tolong jangan beritahu suami saya." Ucap Gadis setelah menelan saliva.
"Kenapa?." Gadis menggeleng lemah.
__ADS_1
Sekarang dia memikirkan bagaimana bisa lepas dari suami dan keluarga suaminya?. Dia tidak ingin membahayakan lagi anaknya yang masih selamat.
"Apa saya boleh meminta bantuan pada tuan Alessandro?."