
"Mana Gadis?." Tanya Tuan Patricio ketika Marco sudah berada di ruangan Dominic.
"Gadis dan Theodor ada meeting di luar, jadi mungkin nanti siang mereka baru kembali." Jawab Marco sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi.
"Meeting dengan perusahaan mana?." Tanya Tuan Patricio pada Tuan Dominic serius.
"Ada klien dari Spanyol mereka mau melihat pabrik, karena tadi aku sudah sampai di kantor maka Theodor yang menawarkan diri untuk pergi ke sana."
Tuan Patricio mengangguk mempercayainya.
Memang ada meeting di luar namun hanya sebentar saja, selebihnya akan digunakan tuan Theodor untuk sesuatu yang besar dalam hidupnya.
"Selamat datang Marco di perusahan kami. Semoga kau, Domonic dan Theodor bisa bekerja sama." Tuan Patricio menepuk pundak Marco.
"Iya, Om Patricio. Terima kasih banyak atas kepercayaannya pada ku. Aku akan bekerja dengan baik." Balas Marco.
"Baik lah sekarang kalian mulai bekerja. Aku harus ke ruangan."
"Iya, Pa...Om.." Sahut keduanya berbarengan. Tuan Patricio pergi dari ruangan Dominic dan menuju ruangan kerjanya.
Ada beberapa dokumen penting yang harus ditandatanganinya, namun sebelum itu Tuan Patricio mengecek dan memastikan tidak ada kesalahan di dalam dokumen tersebut.
Sepasang anak manusia yang sudah sah menjadi pasangan suami istri sedang menandatangi dokumen penting yang melegalkan pernikahan mereka, baik secara agama mau pun negara.
Gadis menatap lekat buku nikah yang sudah dimilikinya dan cincin berlian yang sudah melingkar di jari manisnya. Hal tersebut terjadi dengan begitu sangat cepat. Dia pun masih diam, belum ada bertanya apa pun pada Tuan Theodor yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Paman dan Bibinya serta yang lainnya langsung meninggalkan rumah tersebut setelah semua urusan mereka selesai.
"Aku tidak menyangka jika Gadis akan mendapatkan suami yang begitu tajir melintir. Tidak seperti Yuna, anak kita yang malah mau dinikahi pria kere." Ucap Bibi Rumiati sebelum masuk ke dalam mobil. Dia begitu kesal dengan nasib yang dimiliki putri semata wayang mereka.
"Sudah lah, Kau jangan mengeluh. Kita kan masih banyak uang dari suami Gadis." Paman Wandi tidak ingin ambil pusing dangan semuanya. Paman hanya ingin bersenang-senang dengan uang yang dimilikinya saat ini.
"Kau benar." Sahut Bibi Rumiati sambil masuk dan duduk di kursi samping Paman Wandi.
__ADS_1
Mobil mereka sudah meninggalkan rumah tersebut.
Romi ikut berpamitan juga, sebab dia tidak memiliki urusan lagi di sana. Meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
"Kamu tidak ingin mengatakan apa pun pada ku yang sekarang sudah menjadi suami mu?." Tuan Theodor mengulurkan tangan dan Gadis meraihnya, berjalan mendekati pria yang memiliki dirinya seutuhnya.
"Kenapa tuan mau melakukan ini?. Karena terlalu banyak perbedaan diantara kita. Bagaimana dengan pernikahan Tuan dan Nona Violetta?, Bagaimana dengan Darren?, bagaimana dengan Nyonya Mireya dan Tuan Patricio?, belum lagi sekarang ada Marco, Nyonya Maria dan Tuan Rizzo?. Belum lagi ada yang lain-lainnya." Semua pertanyaan yang sejak tadi ada dalam benaknya kini tersampaikan langsung pada orangnya.
Tangan kekar itu meremas kedua bokong Gadis sebelum melingkar pada pinggang Gadis. "Itu semua akan menjadi urusan ku, kamu hanya perlu melayani ku saja." Tuan Theodor menyelipkan rambut Gadis lalu merambat ke area belakang leher dan mengusap lembut tengkuk Gadis.
"Tapi aku minta, sementara waktu untuk tetap merahasiakan pernikahan kita. Setidaknya setelah Dominic dan Magdalena menikah." Gadis mengangguk setuju. Tuan Theodor menarik tengkuk dan mencium bibir Gadis dengan begitu menuntut. Tapi sayang ciuman itu harus segera berakhir karena ponsel tuan Theodor berbunyi dan itu dari Romi. Lalu Tuan Theodor menekan tombol spiker.
"Ada apa?." Gadis segera merapikan pakaiannya yang sudah berantakan tapi masih dalam posisi di atas pangkuan Tuan Theodor.
"Tuan harus segera kembali ke kantor. Ada nyonya Mireya, Nona Violetta dan Tuan muda Darren. Mereka meminta tuan untuk makan siang bersama."
Tuan Theodor membuka kembali kancing yang sudah rapi lalu menghisap buah dada itu dan meninggalkan jejak kemarahan di sana sebelum menyanggupi apa yang diminta keluarganya.
"Kata kan pada mereka, satu jam lagi aku akan sampai di kantor." Tuan Theodor menghisap ujung buah dada Gadis yang sudah menegang.
"Ayo, kita harus segara kembali ke kantor." Ucap Gadis di sela kesadarannya yang masih tersisa. Dia memegangi kedua sisi wajah Tuan Theodor. Menjauhkan wajah pria itu dari ujung dadanya yang semakin membesar menantang.
"Kamu bawa bekal untuk makan siang kan?."
"Bawa, ada di mobil."
Tuan Theodor membantu Gadis merapikan kancing kemeja yang sudah berantakan lagi karena ulahnya.
"Kita akan makan bekal makan siang mu, tapi kamu suapi ya?, aku bawa mobil."
"Nanti kamu akan kekenyangan jika makan sekarang." Tuan Theodor hanya menggeleng. Kemudian Gadis dan tuan Theodor sudah meninggalkan rumah yang telah di sewa oleh tuan Theodor sebagai tempat untuk menikahi Gadis.
"Aku tidak akan makan siang di sana, paling hanya menemani mereka saja." Balas Tuan Theodor saat sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Dengan sigap Gadis membuka kotak bekal makan siang yang selalu dibawanya. Dengan senyum sumringah dan penuh ketulusan suapan pertama Gadis berikan untuk suami tercinta.
"Kamu harus makan juga." Ucap Tuan Theodor ketika dirinya sudah mendapatkan tiga suapan sementara Gadis belum ada sama sekali.
Gadis mengangguk lalu menyuapi dirinya sendiri.
Perjalanan yang tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang hidup mereka berdua.
Suapan terakhir Gadis berikan untuk tuan Theodor bersamaan dengan mobil yang sudah sampai di area parkir.
Gadis menyerahkan tissue pada tuan Theodor untuk mengelap mulut yang sedikit berminyak.
"Terima kasih Gadis ku, istri ku." Ucap Tuan Theodor mengecup bibir Gadis lalu turun dari mobil dan membuka pintu satunya lagi untuk Gadis.
"Terima kasih."
"Sama-sama Gadis ku." Tuan Theodor merangkul Gadis dengan sangat posesif.
"Ini di kantor, Tuan. Saya kurang nyaman seperti ini, apalagi kalau sampai ada yang melihatnya." Jujur saja dengan posisi yang sekarang pun, Gadis belum bisa untuk publish mengenai hubungannya dengan tuan Theodor.
Dengan berat hati tuan Theodor mengikuti apa yang diminta oleh istrinya.
Mereka sampai di depan ruangan tuan Theodor dan tanpa mengetuk daun pintu itu tuan Theodor mendorong pintu. Semua orang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Papa..." Darren berlari kearah tuan Theodor dan langsung memeluknya.
"Jagoan Papa..." Tuan Theodor mengecup pucuk kepala Darren.
Pandangan Nyonya Mireya dan Violetta terfokus pada cincin berlian yang melingkar di jari manis Gadis.
"Apa cincin itu pemberian dari Marco?." Violetta meraih tangan Gadis dan mengangkatnya ke atas. Memperlihatkan cincin bernilai fantastis tersebut.
"Ini...ini..." Gadis dan tuan Theodor saling pandang untuk beberapa detik hingga Marco datang bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Kau memang pria yang sungguh baik, Marco. Belum menjadi istri saja kau sudah membelikan Gadis cincin berlian itu." Marco menatap cincin dan Gadis bergantian.