
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
“Ah?” Linda membuka mata dan merasa aneh.
Edgar menoleh dan menatapnya sekilas dengan dalam, “Aku pelit? Pemarah?”
Linda , “...”
Oh Tuhan, percakapan dia dan kakek barusan memang sudah didengar oleh Edgar.
Sungguh canggung sekali.
Linda memegang keningnya, “Edgar, kamu ada kebiasaan menguping percakapan orang ya?”
Edgar mengernyitkan alis, “Seharusnya dikatakan kalau kamu memiliki kebiasaan membicarakan orang sembarangan di belakang.”
“Membicarakan orang sembarangan?” Linda sedikit marah dan melototi Edgardengan kejam, “mana ada bicara sembarangan, yang aku katakan itu adalah yang sebenarnya.”
Raut wajah Edgar sedikit dingin, “Jadi, bagian mana diriku yang tidak sebaik Jonatan ?”
Linda sungguh kehilangan kata, lelaki ini terlalu pandai menghubungkannya. Apa hubungannya dengan Jonatan ?
__ADS_1
“Kamu mengira begitu maka aku juga tidak berdaya.” Linda berkata kesal.
Edgar mendengar menjadi Linda mengakuinya. Di dalam hatinya, dia tidak sebaik Jonatan.
Jadi, dia bisa dengan mudah menggunakan Jonatan sebagai juru bicara?
Apakah dia pernah berpikir kalau dirinya barulah tunangannya?
“Shit!” Edgar membayangkan rupa Linda dan Jonatan yang bermesraan di kafe. Tangan kiri memukul kemudi dengan kuat dan raut wajahnya suram, “Linda, kamu sebaiknya ingat dengan statusmu!”
Perkataan Edgar belum selesai, mobil mendadak kehilangan kendali dan menyimpang. Dia menginjak rem dengan cepat, tetapi mobil itu tetap saja menabrak pagar pembatas.
Zzzzttt ...
“Apa yang terjadi?” Linda menggosok kepalanya dan masih terkejut.
Edgar berwajah buruk, lalu membuka pintu dengan diam dan memeriksa mobil.
Melalu jendela kaca, Linda melihat Edgar menurunkan tubuh memeriksa mobil. Hujan deras jatuh di tubuhnya dan dia basah kuyup dalam seketika.
Linda mengeluarkan sebuah payung dari dalam laci dan turun. Dia membuka payung untu Edgar.
Edgar mengernyitkan alis melihatnya, “Buat apa kamu turun?”
__ADS_1
“Mobil tidak masalah kan?” Linda membuka payung di atas kepala Edgar, setengah tubuhnya sendiri di luar. Hujan deras jatuh di tubuhnya dan tidak lama kemudian dia sudah basah kuyup.
Edgar mengulurkan tangan dan mengambil payung dari tangan Linda lalu mengarahkan payung padanya.
Satu payung untuk dua orang memang tidak cukup. Linda lantas mendekati Edgar.
Saat ini seluruh dirinya hampir basah kuyup terkena hujan, rambut masih meneteskan air, air turun mengikuti wajahnya. Gaun putih melekat di tubuhnya dan menunjukkan tubuhnya yang indah, begitu mempesona.
Edgar hanya merasa bagian bawah perutnya menegang, dia mengulurkan tangan memeluk pinggang Linda dan membiarkannya menempel pada dirinya.
Edgar menundukkan kepala, matanya yang dalam menatap pada perempuan di dalam pelukannya. Mata yang dingin saat ini seperti ada api yang membakar dan membuat orang tenggelam.
Gerakan yang begitu mesra, membuat wajah Linda memerah dalam seketika.
Dia menarik nafas dalam dan meronta kuat, lalu berkata dengan pelan dan tegas, “Edgar, jangan begini.”
Malam begitu sunyi.
Hujan, terus jatuh di atas payung hitam.
Di bawah payung, wajah tampan Edgar penuh dengan rasa dingin, dan tekanan rendah tubuhnya menekan Linda hingga membuatnya seperti jatuh ke dalam gudang es saja.
Terdiam sesaat, Edgrr barulah berkata dingin, “Apakah karena Jonatan? Apakah aku benar-benar tidak sebaik dia?”
__ADS_1