
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""__""
Seketika wajah Linda berubah menjadi merah merona.
Dasar laki-laki ini..... dikondisi seperti? Masih sempat-sempatnya mengombal.
"Tangan kamu berdarah, ayo aku bantu obati." Linda berucap sambil menjauhkan wajahnya dengan cepat.
Para karyawan hotel yang mendengar kebisingan diarah toilet pun langsung berdatangan, mereka dikagetkan dengan pemandangan yang ada didepan mereka dan dengan sigap langsung meminta maaf," Mohon maaf CEO , ini adalah kesalahan hotel kami. Membuat kamu dan nona Linda merasa terganggu dan ketakutan."
Para karyawan hotel langsung mengangkat kedua laki-laki yang tergeletak dilantai itu keluar.
Nia An langsung melarikan diri.
"Lenganmu masih mengeluarkan darah, ayo aku bantu menghentikan darahnya." Linda meminta kotak P3K dengan karyawan hotel tersebut, sambil membantu Edgar menuju ke ruang istirahat.
Milla ingin mengikutinya, Linda langsung mencegatnya,"Nona Xu, calon suamiku sedang terluka, sedang tidak bisa melayanimu."
Milla dengan susah payah menahan rasa iri dan bencinya, melihat kearah Edgar yang sedang duduk dikursi dalam ruangan istirahat tersebut,"Edgar, kamu terluka, biarkan aku saja yang menemani kamu, oke?"
Edgar menjawab dengan datar,"Ada Linda saja sudah cukup, disini tidak ada urusannya dengan kamu."
"Apa kamu tidak mendengarnya? Masih tidak pergi?" Linda membanting pintu dan menutupnya.
Tangan Milla hampir terjepit karena telat menghindar.
Kebencian dalam hatinya semakin menjadi dan tidak lagi dapat ditahan.
Linda, anggap saja kali ini kamu beruntung!
Dia tidak percaya kalau Linda akan terus beruntung seperti kali ini.
Lain kali, dia pasti akan membuat si \*\*\*\*\*\* itu mati.
Dalam ruangan istirahat hanya ada Edgar dan Linda.
Saat selesai menutup pintu, Linda melihat Edgar yang sedang melepaskan bajunya.
Edgar adalah tipe laki-laki yang terlihat kurus saat berpakaian, dan terlihat berisi serta atletis saat menunjukkan tubuh bagian atasnya yang kuat dan lurus dengan tulang selangka yang halus, otot dada yang berkembang dengan sempurna membuatnya semakin terlihat seksi membuat pembuluh darah orang yang melihatnya bergejolak.
Seketika Linda merasa wajahnya panas dan bertanya,"Edgar, mengapa kamu melepaskan bajumu?"
"Bagaimana caranya kamu akan membungkus dan menghentikan pendarahanku jika aku tidak membuka baju?" Edgar tersenyum melihat tingkah Linda sambil menunjuk luka dilengannya itu.
__ADS_1
Baiklah…
Linda sedikit tidak berdaya.
Bagaimanapun Edgar terluka karena dirinya.
Linda sedikit memejamkan matanya dan sengaja menghindari apa yang tidak seharusnya dia lihat, mengambil obat dan berusaha mengoleskannya ke luka Edgar dengan pelan.
Melihat Linda yang malu dan berusaha untuk berhati-hati membuat Edgar tersenyum tanpa dia sadari.
Dengan sepenuh tenaga, akhirnya Linda selesai mengoleskan obat pada luka Edgar
"Sudah, cepat pakai kembali bajumu!" Linda berucap dengan ketus sambil membereskan kotak obat yang dia pinjam sebelumnya.
Edgar memakai bajunya dengan elegan kemudian menyerahkan kucing mainan yang dia pegang erat sejak tadi kepada Linda.
"ini untukmu. Jangan ditolak lagi, ya?" Ucap Edgar dengan tegas tanpa ingin dibantah.
Jantung Linda seketika berdetak tidak beraturan.
Bayangan Edgar yang terluka karena menolongnya kembali muncul di dalam pikirannya.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, Edgar menolongnya.
Apakah Edgar benar-benar menganggapnya sebagai Candy sehinga dia menolong dirinya terus menerus?
Seketika, hati Linda tidak karuan.
Dia mengangkat pandangannya dan melihat ke arah laki-laki didepannya, mata mereka saling bertemu dan bertukar tatapan, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hati Linda.
"Terima kasih." Linda menerima boneka kucing itu.
Bagian tubuh kucing tersebut terkena darah Edgar. Tubuh kucing yang dirajut dengan benang berwarna putih berubah menjadi merah gelap. Edgar tersenyum saat melihat Linda menerima pemberian darinya.
"Tidak marah lagi, kan?" Edgar menarik Linda ke dalam pelukannya, dan berucap dengan lembut disamping telinganya, "Apa yang aku katakan kemarin semuanya sungguhan, bisakah kamu percaya padaku?"
Linda hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
Dia mendorong Edgar dengan pelan,"Lepaskan aku terlebih dahulu."
"Kamu tersenyum, apa artinya kamu tidak marah lagi." Edgar bertanya dengan suara seraknya.
"Apa penting aku marah atau tidak?" Ucap Linda sambil mengelus kucing itu.
"Sangat penting" Ucap Edgar dengan tatapan tulus dan mendalamnya kepada Linda.
__ADS_1
Linda hanya menggigit bibirnya tanpa berkata apapun.
Edgar pun diam dan bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi di toilet tadi?"
"Hmm, tidak ada apa-apa, Nia An tidak menyukaiku jadi dia menyuruh dua orang preman untuk menangkapku." Ucap Linda dengan santai.
Mengingat kembali kejadiannya, Edgar menaikkan kedua alisnya, "Jadi…. dua orang tadi diserang kamu hingga seperti itu?"
"Jika tidak?" Linda menaik turunkan bahunya dan bertanya kembali dengan santai.
Mata Edgar sedikit menyipit, dan pandangan penuh Tanya menyapu seluruh tubuh Linda yang kurus.
Calon istrinya yang berasal dari kampung, bisa sehebat itu?
Melihat tatapan Edgar, Linda langsung berdiri, "Ayo, acara lelang pasti belum selesai."
Karena kucing ini telah dimenangkan oleh Edgar, maka dia harus memenangkan barang lainnya. Bagaimana pun sebagai bos besar di balik acara lelang ini dia juga ingin mengerahkan sedikit kemampuannya untuk kegiatan amal.
Saat Linda hendak melangkahkan kakinya, tangannya ditarik oleh Edgar.
Edgar menarik dengan pelan Linda menuju ke pelukannya.
Linda yang tidak seimbang itu pun dengan mudahnya jatuh ke pangkuan Edgar.
Tindakan ini, kelihatan sangat menggoda.
Linda ingin kembali bangun namun tangan kekar Edgar menekan dan menguncinya dengan kuat.
Suaranya yang berat dan serak itu membisikkan,"Linda, didalam hatimu ada aku, kenapa tidak ingin mengakuinya?"
Linda menarik nafasnya,"Kamu jangan bicara sembarangan."
Edgar memandangnya dengan tulus, "Kenapa tidak bisa menghadapi perasaan kamu sendiri?"
Linda berusaha membela diri," Tidak ada."
Saat Linda tidak fokus, Edgar menghujaninya dengan ciuman yang luar biasa bagaikan badai. Ciumannya yang dingin dan sedikit membawa kehangatan membuat jantung Linda berdetak kencang bagai anak rusa yang kehilangan arah.
Atmosfer diruangan itu mulai terasa hangat dan berputar….
"Linda , jangan menolakku lagi." Dengan penuh ketulusan dan rasa cinta dimatanya, Edgar berkata.
Saat Linda tersadar, dia tidak mendorong Edgar menjauh saat dirinya dicium.
Linda menarik nafasnya dengan dalam, menormalkan nafasnya, menatap Edgar, " kamu jangan keterlaluan! Sebelum aku memberimu jawaban, kamu tidak boleh bertindak seperti itu kepadaku!"
__ADS_1