Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 149


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""_""


Nafas lelaki dewasa mengalir dan membungkus Linda dengan erat.


Linda tercengang sejenak dan berkata, “Adalah ... Kakekmu.”


“Em? Iyakah?” Edgar menaikkan alis. Suara dia yang magnetis itu rendah dan penuh dengan pesona.


Linda segera mengangguk, “Iya, Kakekmu yang suruh kamu makan itu ... bukankah memang bilang kamu tidak bisa?”


“Masih berani bilang?” Raut wajah Edgar menjadi suram, tetapi sepasang mata yang dalam malah sama-samar ada nyala api.


Juga entah makanan apa yang diberikan kakek untuknya. Saat ini, Edgar hanya merasa darah melonjak ke seluruh tubuhnya.


Wanita di dalam pelukan begitu lembut dan cantik, bagaikan kuncup bunga dan membuatnya ingin memetiknya.


Linda menjilat bibir yang sedikit kering, “Aku tidak bilang ....”


Gerakan tidak sengaja ini penuh dengan godaan. Membuat Edgar menunduk dan menciumnya tanpa ragu.


Jantung Linda mendadak berdetak kencang.


Hanya terlihat wajah tampan Edgar terus membesar di depannya, terus membesar ....


Hingga bibirnya jatuh pada bibir merah menggoda yang bagaikan sakura.


Dua bibir bersentuhan, di atas bibir ada suhu panas yang menyebar. Linda mendadak sadar dan memalingkan wajahnya.


Detak jantung terus menjadi cepat, Linda mendorong Edgar dengan wajah merah, “Aku pergi mandi dulu.”


Selesai berkata, Linda berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan buru-buru.


Namun, ketika datang ke kediaman tua,Linda sama sekali tidak berencana menginap, jadi dia tidak membawa baju ganti.


Matilah ....


“Edgar, kamu ke sini sebentar.” Linda berwajah tebal memanggil.


Suara Edgar yang rendah terdengar di pintu kamar mandi, “Ada apa?”


“Aku tidak bawa baju, apakah kamu bisa bantu aku ambil di Kota Baru Air Moon?” Linda mengelus wajah panasnya dan berkata.

__ADS_1


Edgar mengaitkan bibir berkata, “Kakek sudah mengunci pintu, bagaimana aku pergi mengambilnya?”


“Apakah kamu tidak bisa menyuruh dia membuka pintu sebentar?” Linda sangat canggung.


“Tidak bisa.” Edgar menolak dengan datar.


Linda kehilangan kata, hendak menelepon Tuan besar dan menyuruhnya membuka pintu, suara Edgar yang magnetis kembali terdengar, “Masih tidak buka pintu.”


“Mau lakukan apa?” Linda berkata dengan waspada.


“Kasih kamu baju.” Suara Edgar yang jelas terdengar.


Baju?


Linda ragu sejenak, menggunakan handuk membungkus erat dirinya, kemudian membuka pintu kamar mandi menjadi satu celah kecil.


Edgar menjejalkan sebungkus barang padanya.


Linda segera menutup pintu kemudian membuka kantong di tangan dan melihatnya.


Di dalam benar saja adalah baju.


Ada satu set dalaman wanita yang baru, dan juga ada satu helai kemeja putih bersih.


Hanya saja, kemeja begitu besar dan adalah milik lelaki. Apakah ini adalah kemejanya Edgar?


Linda dengan cepat memakai baju dan membuka pintu kamar mandi lalu berjalan keluar.


Ketika Linda berjalan keluar, mata dalam Edgar ada sebuah panas yang bergejolak, dan menatap perempuan di depan.


Hanya terlihat rambutnya basah, di ujung rambut masih meneteskan air. Memakai kemeja putihnya, sosok yang indah menerawang di bawah kemeja putihnya, sepasang kaki panjang juga begitu seksi dan mempesona.


Dia diam-diam menggerakan jakunnya.


“Edgar, darimana dalaman wanita ini?” Wajah Linda panas dilihat oleh Edgar jadi mengalihkan pembicaraan bertanya, “Apakah kamu sering membawa perempuan pulang?”


Edgar tertawa ringan dan berkata suram, “Linda , kamu cemburu?”


“Tolong jawab pertanyaan.” Linda berkata serius.


Edgar membersihkan tenggorokan, “Aku juga tidak tahu, itu diletakkan di atas sofa. Mungkin kakek yang suruh Ibu Wang menyiapkannya untukmu ....”


Baiklah ....


Linda kembali kehilangan kata terhadap Tuan besar , dia memikirkan semuanya dengan baik.


“Aku sudah lelah, mau tidur lebih awal.” Linda melihat ranjang di tengah kamar, nada suara serius, “Malam ini aku tidur di atas ranjang, kamu tidur di sofa.”

__ADS_1


“Tidak bisa.” Edgar menolak dengan dingin, “Aku pilih ranjang, tidak terbiasa tidur di atas sofa.”


“Kalau begitu aku tidur di sofa.” Linda berkata dan berjalan ke arah sofa.


Baru melangkah sudah ditarik oleh Edgar “Kamu adalah tamu, bagaimana bisa tidur di atas sofa?”


Linda tidak berdiri dengan stabil dan jatuh ke dalam pelukan Edgar.


Dia segera berdiri dan melototi Edgar dengan kesal, “Kalau begitu, bagaimana menurutmu?”


“Tentu saja ... tidur bersama di atas ranjang.” Edgar mengangguk dan berkata dengan rendah serak di telinga Linda.


Selanjutnya, Linda masih belum bereaksi sudah digendong oleh Edgar.


“Hei , kamu sedang apa? Cepat lepaskan aku!” Linda meronta, lelaki ini sudah gila ya!


Edgar menggendong Linda ke atas ranjang, menurunkan tubuh menekan padanya dan menaikkan alis berkata, “Aku akan gunakan tindakan nyata beritahu kamu bisa atau tidak.”


“Kamu sudah cukup ya. Kalau masih manfaatkan aku, aku tidak akan sungkan lagi!” Linda hendak bangun, tetapi sekujur tubuh ditimpa oleh Edgar , dia tidak tahan kesal dan malu.


Edgar tadinya hanya ingin bercanda dengan Linda. Melihat rupa dia yang kesal, tidak lagi menggodanya jadi berdiri.


Linda duduk dengan sedikit takut, dia bersandar di kepala ranjang dan melotot marah pada Edgar, “Kamu jangan mendekat.”


Mata Edgar menjadi dalam, dia duduk di samping Linda dan menoleh melihatnya, “Linda, sebenarnya, kamu pernah tidak mempertimbangkan saran kakekmu?”


Linda tercengang, “Apa?”


Mata Edgar suram, “Mungkin, kita bisa mencoba mengembangkannya?”


Sekalipun kesan terhadap Linda di awal tidak baik, mengira dia sama dengan wanita lain yang menikah dengan keluarga kaya demi uang, menghalalkan segala cara membujuk kakek untuk menyetujui pernikahan ini. Tetapi berhubungan selama satu bulan, dia sudah mengubah pandangan sepenuhnya terhadap Linda.


Kemampuan kerja dia yang luar biasa, sifat yang tegar dan mandiri, sama sekali berbeda dengan wanita yang pernah dia temui.


Bahkan sering kali, dia tertarik oleh Linda dengan aneh. Ketika dia bertemu masalah, dia hendak membantu dan melindunginya tanpa ragu.


Bertatapan dengan mata dalam dan serius Edgar, Linda menarik nafas dalam dan berkata dengan tenang, “Edgar, aku mau tanya sama kamu.”


“Apa?” Edgar tercengang.


Linda menekan berbagai emosi yang rumit di hatinya dan berkata dengan wajah datar, “Apakah bisa ceritakan Candy padaku?”


Candy.. ..


Mata Edgar meredup, belakangan ini, dia sepertinya semakin jarang teringat dengan Candy ....


Sejenak kemudian, Edgar barulah berkata suram, “Kamu ingin tahu apa?”

__ADS_1


Linda bertanya langsung, “Orang yang kamu sukai itu Candy, benar tidak?”


__ADS_2