Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 259


__ADS_3

Linda menggerakan bahunya dan berkata "Siapa yang tahu? Sudah biarkan saja dia."


Yuna menganggukan kepalanya dan melanjutkan topik yang tadi mereka bicarakan, "Linda, sebenarnya, Edgar benar-benar lelaki yang sudah cukup baik dan susah ditemukan lagi. Kamu jangan menyerah begitu saja."


"Kapan aku bilang aku akan menyerah?" Kata Linda sambil merapihkan poninya dengan pandanganya yang dingin.


Tetapi dihati Linda sebernarnya masih ada sedikit rasa bimbang.


Menurutnya, Edgar sudah menemukan Candy, dan dia selama ini juga selalu mencintai dan memikirkannya.


Rasa gengsi dan harga dirinya membuat Linda tidak bisa untuk menurunkan kepalanya, untuk bersaing atau berebut dengan Lalita .


Namun, jika dia menyerah begitu saja dari perasaan ini, dia tampaknya juga tidak bisa melakukannya.


Jadi sekarang, apa yang bisa Linda lakukan hanya memeriksa Lalita dan membuat Edgar melihat perilaku asli dari Lalita dengan secepat mungkin.


“Benar, ini baru Linda yang kukenal! " Yuna melakukan gerakan untuk menyemangati dan berkata, "Waktunya sudah lumayan dekat. Aku harus naik pesawat dulu.


"Semoga perjalanan menyenangkan." Kata Linda sambil melambaikan tanganya ke arahYuna.


Yuna melihat kembali dan berkata, "Semoga aku bisa mendengar kabar baik darimu segera mungkin."


Linda melihat Yuna, hingga Yuna naik pesawat dan Linda masih tidak ingin untuk meninggalkan bandara.


Begitu beruntungnya memiliki teman seperti Yuna.


Linda mengemudi mobilnya, dari bandara sampai ke kota.


Sudah mulai larut malam dan di jalan raya sudah mulai sepi hanya terlihat beberapa mobil saja.


Tiba-tiba, dia melihat satu mobil Maserati di depan yang tiba-tiba keluar dari jalan raya.


Dengan suara tabrakan yang sangat keras, mobil itu menabrak pembatas jalan raya.


Ada kecelakaan!


Linda dengan panik segera memberhentikan mobilnya dan turun dari mobil untuk memeriksa apa yang sudah terjadi.


Dia menarikdengan kuat untuk membuka pintu Maserati dan melihat seorang pria berbaring di setiran pengendara, yang terlihat sangat familiar.


"Apakah kamu baik-baik saja, Tuan?" Linda memukul ringan bahu pria itu. Tapi pria itu tidak merespon.


Linda menarik pria itu dengan sekuat tenaganya untuk keluar dari mobilnya dan setelah itu saat melihat wajah pria itu, Linda sedikit terkejut.


Dan ternyata pria ini adalah pria yang dia tidak sengaja tertabrak di bandara tadi.


Kebetulan sekali...

__ADS_1


Linda melihat sekitar, tidak ada orang lain yang melewati jalan raya tersebut.


Dahi pria itu membengkak dan meninggalkan darah akibat kecelakaan tadi, dia harus segera pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan melakukan pengobatan secepat mungkin.


Linda dengan sepenuh tenaganya membantu pria untuk masuk ke mobilnya, dan mengambil Kotak obat / Kotak P3K dari bagasi mobilnya, dan mencoba untuk berhentikan darah yang ada diluka dahinya lanjut mengambil pengobatan sederhana, setelah itu langsung menuju kearah rumah sakit.


Ketika mereka tiba di rumah sakit, dokter memberikan lelaki itu pemeriksaan terperinci. Dan mengatakan "Kepalanya terbentur, tapi itu bukan masalah besar. Hari ini boleh istirahat dulu di rumah sakit untuk pengawasan lebih lanjut, dan dia seharusnya akan sadar sebentar lagi."


Setelah perbincangan tadi, dokter melihat Linda lagi, dan bertanya "Apakah kamu keluarga dari pasien ini?"


"Aku tidak mengenalnya." Linda tersenyum dan mengatakan. "Aku juga tidak tahu bagaimana menghubungi keluarganya."


"Yah..." Dokter mengangkat kacamatanya, dan kebingungan


Linda berkata, "Aku tadi sudah menghubungi polisi, jadi seharusnya polisi akan menghubungi keluarganya."


Linda baru saja mengecek tubuh dan bawaan dari lelaki itu, tidak ada yang sesuatu yang dapat membuktikan identitasnya. Tampaknya dia hanya bisa menunggu sampai dia bangun atau menunggu polisi menemukan keluarganya.


"Baiklah jika begitu." Dokter menganggukan kepalanya, dan berbalik keluar dari ruang pasien.


Linda melihat waktu rupanya sudah subuh, karena pria itu baik-baik saja maka seharusnya dia tidak perlu menemani pria itu disini lagi.


Saat Linsa ingin berpaling dan segera keluar dari ruang pasien. Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dengan suara terkejut datang dari belakangnya, dan mengatakan "Tunggu! Siapa kamu?'


Terdengar suara dingin dan tajam di belakang, Linda menghentikan langkah.


Dia menoleh dan melihat lelaki di atas ranjang pasien sudah sadar. Lelaki itu mengernyitkan alis, bibir tipis tertutup rapat, sepasang mata yang tajam dan dalam sedang menatapnya.


Lelaki yang mendengarnya menyipitkan mata dan bertanya, “Iyakah?”


Linda mengangguk, “Tenang saja, Dokter sudah lakukan pemeriksaan detail padamu, tidak ada masalah besar. Kamu bisa memberitahu keluargamu untuk datang menemanimu.”


Linda mengangkat tangan melihat waktu dan melanjutkan, “Sekarang sudah sangat larut, kalau tidak ada urusan lain, aku pergi dulu. Istirahatlah dengan baik.”


Linda langsung berbalik pergi setelah mengatakan ini semua.


Tatapan lelaki yang dalam menatap punggung Linda, bibir tipis yang seksi ada lengkungan yang penuh makna dalam.


Linda ya?


Percaya kita akan segera bertemu lagi.


Keesokan harinya, kebetulan adalah akhir pekan.


Linda bangun pagi.


Dua hari lagi, dia harus pergi ke rumah sakit lakukan akupuntur untuk Tuan besar .

__ADS_1


Linda tetap sedikit tidak tenang. Bagaimanapun juga berhubungan dengan nyawa dan pihak lawan masih adalah Kakek, dia tidak boleh ada kesalahan.


Oleh karena itu, Linda mengeluarkan kotak obat yang ditinggalkan Paman Qi untuknya, serta data medis yang relevan dan menelitinya dengan cermat.


Mengingat kembali teknik akupuntur yang dilakukan Paman Qi hari itu pada Tuan besar . Linda mencoba beberapa kali di tubuhnya agar bisa lebih cepat menemukan titik akupuntur.


Dia merasa lega, seharusnya sudah tidak ada masalah.


Linda berlatih lagi beberapa kali, kemudian membereskan barang. Dia melihat waktu masih pagi jadi memutuskan untuk jalan-jalan dan pergi membelikan hadiah ulang tahun untuk Jonatan .


Dia datang ke toko butik.


“Nona, ada yang bisa saya bantu?” Pelayan menyambut dengan antusias.


“Aku lihat-lihat dulu,” Linda tersenyum.


Pelayan mengangguk dengan sopan, “Ada perlu apa silahkan panggil saya kapan saja.”


Linda tersenyum, “Terima kasih!”


Disaat itulah, pintu butik terbuka dan berjalan masuk seorang wanita muda yang mengenakan gaun putih. Langkah kakinya elegan, cantik dan mulia.


Ketika melewati Linda , tatapan yang dingin berhenti selama beberapa detik dan tidak ramah.


Linda mendongak menatapnya sekilas.


Sedikit familiar.


Sepertinya adalah Rania, pianis terkenal yang sedang populer akhir-akhir ini.


“Nona Rania, ada yang bisa kami bantu?” Pelayan juga mengenali Rania, jadi menyapanya dengan antusias.


Rania menarik tatapan dan menyahut datar, “Ambilkan syal itu untukku.”


Melihat Rania tidak lagi menatapnya, Linda juga tidak pedulikan. Dia melanjutkan memilih hadiah untuk Jonatan.


Pada akhirnya, dia suka pada sebuah dasi, “Pelayan, tolong ambilkan dasi ini.”


Disaat itulah, Milla dan Lenira lewat di depan pintu masuk toko butik.


“Milla, bukankah itu Linda?” Lenira mendadak melihat sosok Linda di dalam jadi segera berhenti.


Milla melihat ke dalam, memang benar adalah Linda.


“Buat apa dia di dalam?” Milla menyipitkan mata dan bertanya dingin.


Lenira menjawab, “Seharusnya sih beli sesuatu.”

__ADS_1


“Kita lihat ke dalam,” Milla mendengus dingin.


Dulu,Linda menggunakan status sebagai tunangan Edgar dan mengandalkan dukungan Edgar jadi berkali-kali tidak menganggap serius dirinya.


__ADS_2