
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Milla tercengang, kemudian dia tersenyum manis dan berkata malu, “Benar, aku adalah Candy . Edgar, aku adalah Candy-mu!”
Edgar nggosok pelipisnya, hanya merasa dirinya sangat tidak nyaman karena mabuk.
Apakah Candy dia sudah datang?
Benarkah adalah Candy nya?
“Kamu sudah mabuk, aku antar kamu pulang ya.” Milla menurunkan tubuhnya dan memegang Edgar dengan kuat.
“Candy, kamu ya? Benarkah ini kamu?” Edgar terhuyung dan bersandar di tubuh Milla. Nadanya penuh rasa tidak percaya dan terkejut.
Candy yang dia cari bertahun-tahun ... apakah akhirnya kembali?
“Iya, tentu saja ini aku.” Tatapan cinta Milla jatuh pada lelaki di samping ini.
Dia pertama kali bersentuhan begitu dekat dengan Edgar. Tubuh dia yang tinggi besar, wajah yang begitu tampan. Sekalipun sudah mabuk juga tetap membuat orang terbuai.
Milla mengulurkan tangan, jari tangan yang dingin sedikit gemetaran. Dia mengelus wajah tampan Edgar dengan lembut.
Ini adalah lelaki yang dia cintai selama bertahun-tahun. Sebelumnya selalu dingin padanya, sekarang akhirnya ada kesempatan dekat dengannya.
Tetapi, Edgar malah disaat mabuk menjadikan dia sebagai perempuan lain.
“Candy, kenapa kamu berubah?” Sekalipun perempuan di depan mengatakan kalau dia adalah Candy, tetapi Edgar merasa dia begitu asing.
Tidak ada rasa yang membuat hatinya tergerak dan terbuai.
“Aku tidak berubah, kamu sudah mabuk jadi memiliki ilusi.” Hati Milla bergetar, segera menarik kembali tangannya.
Dia takut Edgar menyadari kalau dia sebenarnya bukanlah Candy.
Dia memegang Edgar dengan berat, akhirnya Milla berhasil memegangnya menuruni gunung.
“Masih tidak cepat bantu aku.” Milla memanggil Lenira dan supir.
Supir dan Lenira segera turun dan membantu Milla memegang Edgar masuk ke dalam mobil.
“Ayo pulang.” Milla berkata kepada supir.
Supir melihat Milla dengan ragu dan bertanya hati-hati, “Antar CEO Lion pulang ke rumah ya?”
__ADS_1
“Tentu saja pulang ke rumah Xu.” Milla melototi supir dengan kesal.
Hari ini susah payah bisa dekat dengan Edgar. Bagaimana mungkin dia melewatkan kesempatan bagus ini?
Supir segera memutar arah dan menuju rumah Xu.
Edgar bersandar di jok belakang, wajah tampannya sedikit merah karena mabuk. Rasa acuh dan asing sebelumnya sudah hilang, saat ini nampak begitu lembut.
Milla memandanginya dengan terpesona, detak jantung anehnya menjadi cepat.
Edgar bergumam pelan, “Candy.. Candy....”
“Aku di sini.” Milla tersadar dan segera menggenggam tangan Edgar.
“Candy, jangan tinggalkan aku.” Edgar secara refleks menggenggam kembali tangan Milla .
Tangannya membawa suhu yang panas, seolah-olah membakar seluruh tubuh Milla .
“Milla, siapa Candy?” Lenira tidak tahan bertanya penasaran.
Milla mengernyitkan alis dan melotot Lenira dengan kejam, “Aku juga tidak tahu. Bukankah kamu mau pulang?”
Lenira turun dari mobil dengan tahu diri.
Sepanjang jalan berkendara, satu jam kemudian, mobil lantas memasuki pintu rumah Xu.
Milla memegang Edgar turun dari mobil dengan hati-hati, “Edgar , sudah tiba.”
Edgar jarang-jarang tidak menelepon menyuruhnya pulang. Linda lantas menaiki taksi pulang ke Kota Baru Air Moon.
Di dalam rumah gelap gulita dan tidak ada orang.
Linda membuka lampu dan melihat kemana-mana, Edgar tidak ada di rumah.
Linda sedikit bingung, Edgar tidak berada di kantor juga tidak berada di rumah, jadi kemana?
Juga tidak mendengar dia mengatakan malam ada sosialisasi apa.
Hanya karena sore, dia menyuruh Edgar untuk kurangi mengurus masalahnya, jadi lelaki pelit ini marah lagi ya?
Linda menaikkan alis, dia sungguh mengira dia siapa.
Kembali ke dalam kamarnya sendiri, Linda menanyakan perkembangan LUIs Design Studio pada Yuna.
Yuna dengan cepat membalas pesannya, “Semua normal.”
Linda membuka laptop dan membuka folder tersembunyi. Dia membuka gaun desain terbarunya dan memperbaikinya.
Setelah menyelesaikan ini semua, Linda melihat waktu sudah pukul 1 subuh.
__ADS_1
Dan Edgar masih belum pulang.
Dulu tidak pernah terjadi kondisi seperti ini.
Sekalipun Edgar ada urusan, juga akan mengirimkan pesan atau menelepon Linda.
Apakah terjadi sesuatu dengan dia?
Dalam hati Linda samar-samar sedikit khawatir. Dia berpikir sejenak tetap mengeluarkan handphone dan menelepon Edgar
Di dalam kamar Milla .
Milla berusaha sekuat tenaga dan susah payah membawa Edgar ke atas ranjang. Dia menurunkan tubuh dan membantu Edgar melepas jaketnya.
Edgar berbaring miring di atas ranjang. Saat ini dia mengenakan kemeja putih, dua buah kancing di depan dadanya terbuka dan menunjukkan dadanya yang kokoh. Dia bergumam, “Candy , jangan tinggalkan aku ....”
“Aku tidak akan meninggalkanmu, selamanya tidak akan.” Mata obsesi Milla jatuh pada Edgar.
Kenapa kalau Edgar menjadikan dia sebagai wanita lain? Asalkan di antara mereka sudah ada hubungan dekat itu, maka dia percaya Edgar pasti akan jatuh cinta padanya!
Sepasang tangan Milla memeluk pinggangnya yang kokoh dan kepalanya bersandar di atas dadanya. Dia berkata dengan penuh kasih, “Edgar, apakah kamu tahu, aku sangat mencintaimu.”
Dalam setengah sadar, Edgar merasakan di dalam pelukannya ada seorang wanita yang mencium dan mengatakan mencintainya. Tetapi rasa ini ... begitu asing.
Ini bukan Candy!
Di atas tubuh Candy ada sebuah aroma yang ringan. Tetapi wanita di dalam pelukan sekarang, di atas tubuhnya ada aroma parfum yang norak, sama sekali bukan aroma Candy.
Milla sedang melepas kemeja Edgar. Edgar mendadak mendorongnya dan berkata suram, “Kamu bukan Candy!”
Milla belum merespon sudah jatuh kuat di atas lantai. Dia mendongak dengan terluka, melihat lelaki yang begitu familiar dan acuh di depan. Mata Milla merah dan berkata, “Edgar , kamu sudah mabuk, aku adalah Candy, aku memang adalah Candy !”
... tidak, ini bukan Candy.
Edgar hanya merasa kepalanya sakit sekali. Dia meronta hendak bangun, tetapi mabuk terlalu hebat jadi bergoyang dan jatuh kembali ke atas ranjang.
Dalam pengaruh alkohol, Edgar memejamkan mata dan perlahan-lahan tertidur ....
Melihat lelaki yang terlelap di atas ranjang, dalam hati Milla penuh rasa tidak rela.
Kenapa?
Kenapa Edgar sekalipun sedang dalam kondisi mabuk juga tidak membiarkan dia menyentuhnya?
Dan disaat itulah, nada handphone Edgar berbunyi.
Milla mengeluarkan handphone dari dalam kantong jaket Edgar.
Di atas tertampil: Linda.
__ADS_1
Dia tersenyum sinis dan mengangkatnya, nada suaranya sedikit menawan, “Halo, siapa?”