Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 168


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


Setelah menuangkan anggur itu kepada Nia An, Linda menyuruh Anthony menyelediki catatan pembelian Nia An, dan benar saja berhasil melacaknya.



Para wartawan melihat catatan pembelian online Nia An, tidak tahan merendahkannya.



“Ternyata benar adalah Nia An, sungguh tidak menyangka.”



“Sungguh keji, untung saja Nona Linda tidak mudah tertipu!”



Menghadapi percakapan semua orang, wajah Nia An menjadi pucat dan buruk. Dia hendak mengatakan sesuatu namun tidak bisa mengatakan apapun. Mulutnya seperti terkena lem.



“Nia An, masalah hari ini, semua salahmu sendiri, kamu jagalah dirimu sendiri!” Selesai mengatakan ini, Linda lantas berbalik pergi.



Tempat seperti ini, dia sama sekali tidak ingin lagi tinggal.



Edgar melangkah mengikuti Linda, “Linda, kamu pergi kemana?”



“Pulang.” kata Linda dengan datar.



Bolak balik sepanjang malam, dia merasa lelah.



“Aku pergi bersamamu.” kata Edgar dengan suram.



“Buat apa pergi bersamaku?” Linda tersenyum sinis dan nadanya mencibir, “Bukankah kamu masih harus menemani Milla berdansa?”



Menemani Milla berdansa?



Edgar setengah tersenyum dan berkata rendah, “Linda, kamu cemburu.”



“Siapa yang cemburu?” Linda melototi Edgar dengan kesal.



Disaat itulah, lift sudah tiba.



Ada tenaga besar yang menyerang pinggang, Linda ditarik oleh Edgar ke dalam lift.



“Kamu mau apa?” Linda mundur dan melihat lelaki di depan dengan waspada.



Edgar melangkah mendekati Linda, lalu menaikkan alis dan berkata, “Linda, kamu memang cemburu.”



“Cemburu? Bapak jangan terlalu narsis.” Linda menggosok pelipisnya dan mengalihkan tatapan tidak melihatnya.



“Kenapa kamu mengabaikan perasaanmu?” Sepasang tangan Edgar diletakkan di atas dinding lift dan mengurung Linda di dalam.

__ADS_1



Ruang lift sangat sempit, seluruh diri Linda dikelilingi oleh Edgar.



Suasana saat ini sedikit canggung.



Suara ding dong, lift tiba di lantai satu dan memecahkan kecanggungan ini.



Pintu lift secara otomatis terbuka. Linda segera mendorong Edgar, “Aku tidak tahu kamu sedang mengatakan apa.”



Berjalan keluar lift, Linda menoleh dan berkata kepada Edgar, “Kamu pulang saja dulu, aku masih ada urusan.”



“Sudah begitu larut, kamu masih ada urusan apa?” Edgar menyipitkan mata.



Linda tersenyum dan berkata dingin, “Kamu tidak perlu urus, jangan mengikutiku.”



Selesai bicara, Linda berjalan ke pintu masuk dan menghentikan sebuah taksi.



Melihat taksi yang menjauh, mata Edgar tidak tahan menjadi redup.



Sekarang sudah begitu larut, wanita ini masih mau pergi kemana?



Linda duduk di dalam taksi dan merasa gusar. Dia mengeluarkan handphone dan mengirimkan pesan untuk Yuna.



\[ Temani aku minum di bar. \]




Ketika Linda tiba, Yuna sudah menunggunya di sana.



“Di sini!” Yuna melambaikan tangan kepada Linda.



Linda duduk di samping Yuna, “Bawakan aku koktail.”



Yuna menyerahkan gelas bir kepada Linda dan tersenyum melihatnya, “linda,kamu kenapa? Suasana hati tidak baik?”



“Tidak apa-apa.” Linda meneguk arak di tangannya.



Lampu redup bar menyinari wajah Linda. Kulit dia yang putih dan fitur wajah yang indah samar-samar di bawah lampu yang redup, menambah rasa misterius yang sedikit tertekan.



Yuna kembali menuangkan segelas koktail untuk Linda, “Biarkan aku tebak, siapa orang yang sudah membuat Nona besar kita marah, apakah Edgar?”



Begitu mendengar nama Edgar, hati Linda anehnya menjadi gusar.



Dia meletakkan gelas ke atas meja dengan kuat, “Apakah bisa jangan mengungkit dia?”



“Aduh, kelihatannya tebakanku benar.” Yuna tersenyum, “Jujur saja, Edgar lumayan. Aku sudah lama mendengar nama besarnya di luar negeri. Hari ini melihat dia, memang benar begitu.”

__ADS_1



“Apanya yang memang benar begitu.” Linda mengernyitkan alis, entah kenapa, di dalam pikirannya muncul apa yang dikatakan Edgar tadi di dalam lift.



“Tinggi dan ganteng, kaya dan berkuasa, sangat serasi denganmu.” kata Yuna bercanda.



Linda mengangkat gelas dan meminumnya, “Norak!”



Yuna batuk pelan, “Mataku ini jelas sekali. Di koneferensi pers kalian bekerja sama dengan begitu baik. Benar-benar pasangan yang alami. Linda, jangan beritahu aku kalau kamu tidak jatuh hati padanya.”



“Jangan asal bicara.” Linda bersandar ke belakang dan menarik nafas dalam, “Aku dan Edgar tidak ada apa-apa. Kamu tahu kan, hanya saja kakekku memaksaku ke kota A dan berhubungan dengannya selama tiga bulan. Aku sudah bilang dengan dia, setelah tiga bulan akan mengakhiri ikatan pernikahan.”



Yuna mengangkat bahu, “Baiklah, saudariku, bagaimana kalau kita bertaruh.”



“Taruhan apa?” tanya Linda dan tubuhnya bersandar ke belakang.



Yuna tersenyum, “Taruhan tiga bulan kemudian, apakah kamu akan mengakhiri ikatan pernikahan dengan Edgar atau tidak. Kalau kamu kalah, maka berikan kalung buatan tanganmu untukku, bagaimana?”



Yuna sudah lama menginginkan kalung Linda, juga entah peri aneh apa Linda ini, dari desain busana, sampai hacker, semuanya begitu mahir. Bahkan kalung buatan tangannya juga sudah level master.



Dikatakan, hanya Edgar lelaki yang begitu luar biasa barulah bisa serasi untuknya.



“Kalau begitu kamu pasti kalah.” Linda tersenyum, “Sudah, jangan bahas aku terus. Bahas kamu, mana Timo Wu pangeran berkuda putihmu?”



Begitu mengungkit Timo, mata Yuna menjadi redup. Dia menatap gelas di tangannya dan sayup-sayup berkata, “Dia pergi mengajar di kawasan pegunungan.”



Linda kehilangan kata, “Mengajar di pegunungan ... baiklah, juga lumayan bermakna. Hanya saja dia begitu apakah berencana menyerah dengan hubungan kalian?”



Timo adalah senior Yuna waktu kuliah. Orangnya tinggi dan ganteng, prestasi belajar juga sangat bagus. Adalah tokoh ternama di sekolah.



Dalam sebuah lomba debat, mereka saling berdebat dan kenal kemudian berubah menjadi kekasih.



Hanya saja keluarga Yu tidak menyetujui hubungan mereka. Karena Timo sudah kehilangan ayah sejak lama, keluarganya juga miskin. Keluarga Yu adalah keluarga cendekiawan dan berkecukupan.



Yuna ribut besar dengan keluarganya karena masalah ini. Lalu berlari keluar negeri sendirian dan hampir saja ditindas oleh beberapa preman di jalanan.



Juga disaat itulah, Linda muncul menyelamatkan Yuna dengan tepat waktu. Mereka berdua kemudian menjadi sahabat baik.



Kemudian, Linda membuka Luis Desaign Studio, Yuna lantas menjadi penanggung jawab dan membantu Linda mengelola studio.



Hanya saja antara Yuna dan Timo , sudah bertahun-tahun malah selalu seperti ini.



Linda berkata sedikit tidak puas, “Jika dia tulus padamu, seharusnya menemanimu di luar negeri. Membangun karir dan memberitahu keluargamu, jika dia juga bisa berikan kebahagiaan untukmu. Sekarang buat apa dia berlari ke pegunungan ... sungguh tidak tahu, apa yang kamu suka darinya?”



Yuna menghela nafas, “Cinta itu buta. Begitu mencintainya maka sudah sulit melepaskannya.”


__ADS_1


Linda menutup rapat bibirnya hendak mengatakan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara terkejut di belakangnya, “Hi, Kak Carryn, lama tidak berjumpa!”


__ADS_2