
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Linda segera menelepon ambulans, “Halo, ada orang yang tenggelam di Danau Cinta, tolong mobil ambulans segera datang.”
Jonatan menyeret Herli dan berenang ke tepi dengan berat. Linda segera turun membantunya.
“Jonatan , kamu tidak apa-apa kan?” Melihat Jonatan lemas, Linda berenang padanya dan menarik Herli bersamanya.
Jonatan menggelengkan kepala dan menunjukkan senyuman mempesonanya, “Tidak apa-apa.”
Berdua bersama menolong Herli ke tepi dan mengangkatnya ke rumput di samping.
“Herli , bagaimana denganmu?” Linda menepuk wajah Herli .
Tetapi sepasang mata Herli dipejamkan dengan rapat, raut wajahnya pucat dan bibirnya membiru, sama sekali tidak ada respon apapun.
Linda memegang denyut nadi Herli dan sudah tidak ada gerakan lagi.
__ADS_1
“Linda , Herli sudah mati!” Feli maju lalu menunjuk Linda dan berkata tegas, “Kamu yang sudah mendorongnya masuk ke dalam air dan membuatnya mati tenggelam! Kamu adalah pembunuh!”
Suara Feli berdengung bagaikan lalat, terus berbunyi di telinga Linda.Linda sedikit gusar, dia menoleh dan menatap tajam pada Feli , “Diam!”
Feli tidak pernah melihat Linda yang setajam ini, aura dia yang kuat menyerbunya dan membuat Feli tidak tahan tercengang dan mundur.
Linda berlutut, sepasang tangannya ditekan pada dada Herli dan terus menekannya, melakukan CPR padanya.
Kondisi Herli sekarang sangat berbahaya. Kalau menunggu mobil ambulans datang maka sudah terlambat. Nantinya Dewa juga tidak akan mampu menolongnya.
Sekalipun sekarang, Linda juga tidak ada keyakinan bisa menolong Herli.
Tadinya dia sudah menghitung waktu menolong Herli dan tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi diganggu oleh Feli dan Taufik jadi sudah melewatkan waktu pertolongan terbaik.
Sekarang, Linda juga hanya bisa berusaha semampunya.
CPR adalah pekerjaan tenaga, dalam waktu sepuluh menit, sekalipun fisik Linda bagus juga berangsur-angsur kewalahan.
“Linda , apakah perlu bantuanku?” Jonatan berjongkok di samping Linda. Melihat dia kelelahan hingga keringatan, dia merasa kasihan.
__ADS_1
Linda menggelengkan kepala, “Tidak perlu, kamu desak mobil ambulans.”
Jonatan berdiri menelepon. Feli menyindir di samping, “Linda, kamu jangan pura-pura lagi. Herli sudah mati, kamu berakting untuk siapa? Kamu jangan mengira sekarang berpura-pura sudah bisa mengubah kenyataan kamu adalah pembunuh!”
Linda tidak mempedulikannya, tetap saja melakukan CPR dengan konsentrasi.
Feli hendak berbicara lagi namun mendengar suara mobil polisi di kejauhan.
Sebuah mobil polisi sedang berkendara menuju Danau Cinta.
Feli tidak bisa mengendalikan rasa senangnya dan menatap Linda yang sedang berlutut melakukan CPR dengan dingin, “Linda, polisi sudah datang! Kamu pembunuh ini tidak akan bisa kabur!”
Jonatan menutup telepon mendengar perkataan Feli . Dia tidak tahan mengernyitkan alis, “Aku peringatkan kamu, jangan menuduh Linda!”
“Aku menuduhnya? Hah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!” Mata Feli berputar dan jatuh pada Jonatan , “Apa hubunganmu dengan Linda ? Kenapa begitu perhatian padanya?”
“Tidak ada hubungannya denganmu.” Jonatan berkata dingin dan tidak lagi pedulikan Feli . Dia berjalan ke samping Linda dan membantu menyeka keringat di keningnya, “Linda, tidak apa-apa kan? Mobil ambulans akan segera tiba.”
“Em.” Linda mengangguk pelan. Dia sekarang selain memberikan CPR kepada Herli dengan sekuat tenaga, benar sudah tidak bisa pedulikan yang lain.
__ADS_1
Dan Herli tetap tidak ada perubahan apapun ....