
“Bukankah bilang tergantung pertunjukkanmu?” kata Linda, dia menarik nafas dan mendorong Edgar dengan kuat.
Melihat punggung Linda yang berbalik pergi, tatapan Edgar naik dan turun, kemudian berubah menjadi sangat tegas.
Dia pasti akan membuat Linda memberikannya sebuah jawaban yang pasti.
Dia percaya, dia tidak akan menunggu terlalu lama.
Kembali ke rumah, Linda merasa sedikit lelah, tadinya berencana meningkatkan desain “Ice and Fire”, namun juga sementara tertunda.
Dia berbaring di atas ranjang dengan malas, di dalam pikirannya tidak tahan muncul pemandangan Edgar yang melamarnya dengan romantis malam ini dan tidak bisa hilang.
Dia tidak bisa tidur, entah lewat berapa lama barulah tertidur.
Di dalam mimpi, dia bertemu dengan Edgar!
Dan, masih adalah mimpi yang tidak bagus untuk anak-anak.
Dia bermimpi Edgar menciumnya dengan dominan dan dia tidak hanya tidak melawan, malah sangat menikmatinya. Mereka berdua saling berpelukan dan berciuman panas di atas ranjang ....
Ia mendadak bangun, dia membuka lampu dan melihat ke sekeliling barulah menyadari hanya mimpi saja.
Sungguh mematikan!
Kenapa dia bisa memimpikan hal seperti ini?
Semua salah Edgar yang suka menggodanya.
Ia menarik nafas dalam beberapa kali, barulah bisa mengusir pergi perasaan aneh itu.
....
Vila keluarga Xu.
Di dalam kamar kerja, Milla sedang mengganggu Mikhael, “Kakak, mengenai masuk kerja di perusahaan Lion yang kamu janjikan sebelumnya, kapan baru bisa diwujudkan?”
Mikhael menggosok pelipisnya dengan gusar, lalu mendongak menatap Adik kesayangannya, “Milla, hal ini tidak boleh buru-buru.”
“Aku sudah menunggu begitu lama!” Milla menarik lengan Mikhael dan bermanja, “Kakak, aku tahu kamu paling menyayangiku. Aku tidak mau tahu, aku harus pergi ke perusahaan Lion.”
Mikhaeltidak berdaya dan menghela nafas, “Milla, lelaki baik di dunia ini begitu banyak, kenapa kamu hanya menatap Edgar?”
“Aku tidak peduli, aku hanya menyukai dia!” Tatapan Milla terlintas tekad pasti akan mendapatkannya.
Mikhael berkata dengan asal, “Baiklah, aku pikirkan cara lagi.”
“Kakak, kamu pasti harus membantuku!” Milla menekankan.
Dia sudah tidak sabar ingin pergi ke perusahaan dan bertemu dengan Edgar setiap hari.
Keluar dari kamar kerja dan baru saja kembali ke kamar, Milla sudah mendapat telepon dari Lenira.
__ADS_1
“Ada apa mencariku malam-malam begini?” Milla melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Lenira berkata dengan ragu, “Milla, ada satu hal aku tidak tahu harus memberitahumu atau tidak.”
Melihat Lenira hendak berkata namun terhenti, Milla berkata kesal, “Ada apa langsung saja.”
Lenira segera berkata, “Malam ini Kakak sepupuku dan anaknya pergi main di Pantai Habin, mereka melihat Edgar dan Linda.”
“Apa? Sudah begitu larut mereka masih bersama?” wajah Milla menjadi dingin dan nada suaranya iri.
“Iya, dan ....”
“Dan apa?” tanya Milla tidak sabar.
Lenira berkata hati-hati, “Dan, Edgar masih melamar Linda.”
Melamar?!
Tatapan Milla tidak tahan terlintas rasa benci.
Pasti Linda yang menggoda Edgar dengan tidak tahu malu!
“Milla, jangan khawatir, sepertinya lamaran tidak berhasil,” melihat Milla tidak bicara, Lenira segera menambahkan.
“Tidak berhasil? Pasti Linda memainkan trik tarik ulur!” Milla berkata dengan benci, “Linda, aku pasti tidak akan melepaskannya!!”
Di dalam tatapan Milla ada kebencian pada Linda yang tidak dapat dikendalikan.
Edgar melamarnya , dia masih tidak setuju.
Memainkan trik tarik ulur dengan begitu baik. Pantas saja siluman rubah tidak tahu malu ini bisa menggoda begitu banyak lelaki.
Kemarin Jonatan , hari ini Edgar.
Dua lelaki paling unggul di kota A, melamarnya!
Apakah mata lelaki ini sudah buta?
Kenapa satu persatu hanya berputar pada Linda saja?
Sebenarnya apa baiknya wanita Linda ini?!
“Milla, kita sekarang harus bagaimana?” Melihat Milla mendadak diam, Lenira di telepon sana tidak tahan bertanya.
Milla tersadar dan berkata dingin, “Bantu aku ajak Rania bertemu.”
“Milla, maksudmu adalah ....” Lenira sengaja bertanya.
Sebenarnya dia tentu saja tahu, Milla hendak membunuh orang dengan tangan orang lain.
“Yang menginginkan Linda mati, bukan hanya aku sendiri!” Milla menaikkan bibir dan di dalam matanya ada hawa dingin yang kejam.
__ADS_1
“Aku sudah tahu Milla,” Lenira mengangguk, sambil tidak lupa memuji, “Milla kaumemang lebih pintar.”
Keesokan harinya adalah hari cerah.
Linda baru saja keluar dan bersiap pergi bekerja, mendadak mobil Rolls Royce hitam yang familiar berhenti di depannya.
Dia kenal, ini adalah mobilnya Edgar.
“Linda, ayo naik,” Edgar membuka pintu dan menatap wanita cantik dengan setengah tersenyum.
Linda duduk di kursi penumpang depan dan bertanya bingung, “Kenapa kamu datang?”
Edgar menaikkan bibir dan tatapan yang dalam jarang-jarang lembut, “Datang menjemput istri bekerja adalah hal yang wajar.”
Istri?!
Kenapa dia tidak tahu, Bapak CEO yang angkuh, serius dan tidak bisa didekati, bisa begitu tidak tahu malu di depannya.
“Siapa istrimu?” Linda mengkerling Edgar dengan kesal.
Edgar tersenyum pelan dan di dalam matanya ada rasa optimis pasti bisa mendapatkannya, “Segera akan menjadi iya.”
“Wajahmu sungguh tebal,” Linda menarik sudut mulut, begitu menoleh hampir saja bertabrakan dengan wajah tampan Edgar yang mendekat.
Wajah yang tampan bagaikan ukiran, fitur wajah yang 3D, mata yang dalam, hidung yang mancung, bibir tipis yang seksi ... tampannya membuat orang sesak.
“Kamu sedang apa?” Linda mundur dengan waspada.
Edgar mendekat lagi, wajah tampannya hampir menempel kening Linda, bibir tipisnya membuka dan suara yang magnetis berbunyi di telinganya, “Aku bantu kamu kencangkan sabuk pengaman.”
Jarak yang mendadak dekat, dan nafas dia yang panas itu semuanya memukul wajah Linda.
Wajah Linda sedikit panas.
Entah kenapa, di dalam pikiran Linda mendadak muncul mimpi semalam.
Wajahnya terbakar semakin hebat, nafasnya anehnya menjadi sesak.
Dia segera mendorong Edgar, “Aku bisa sendiri.”
Edgar mengangguk dan tatapan yang dalam menatap wajah yang memerah, nada suaranya mengejek, “Kenapa wajahmu begitu merah?”
Oh Tuhan, lelaki ini apakah bisa tidak mengungkitnya?
Linda menarik nafas dalam dan berkata serius, “Terlalu panas.”
“Iyakah?” Edgar mengaitkan sudut bibir dan di dalam matanya ada senyuman yang tidak bisa ditahan.
Linda duduk tegak dan melototnya, “Masih tidak menyetir?”
Tiba di perusahaan , Linda langsung masuk dalam pekerjaan.
__ADS_1