Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 75


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""_""


Mengorbankan segalanya untuk balas budi?


Mengorbankan segalanya demi cinta?!


Pria di depannya sungguh konyol dan berfikir berlebihan!!


Linda membelalakan matanya, bangkit berdiri dan berjalan berbalik ke arah dapur.


Biasanya, ada pekerja harian yang datang untuk membersihkan apartemen milik Edgar. Kadang kala, Edgar juga meminta pekerja hariannya untuk memasak makan malam, agar dia bisa makan setelah pulang ke rumah. Maka dari itu, pekerja hariannya akan menyiapkan bahan makanan di dalam lemari es untuk dipakai saat dibutuhkan.


Linda membuka lemari es dan melihat ke dalam. Bahan makanan yang ada di dalamnya cukup banyak, bersam jenis sayuran dan lauk tersedia.


Sekarang sudah sangat larut. Linda hanya berencana untuk memasak mie, dan membuat dua lauk sederhana untuk menghemat waktu.


Dia mengeluarkan bahan makanan dan mencucinya hingga bersih. Lalu mulai sibuk menyiapkan masakan.


Setelah Edgar selesai makan obat, dia melirik ke arah dapur.

__ADS_1


Dari sudut pandangnya, dia dapat melihat punggung Linda.


Melihat dirinya mengenakan apron, dan sibuk ke sana-kemari di dalam dapur, rasanya seperti melihat isteri baik yang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk suaminya dengan sepenuh hati.


Pemandangan ini sangat hangat dan nyaman.


Ada perasaan aneh berkelebat dalam benak Edgar. Tanpa sadar, dia bangkit berdiri. Lalu dia berjalan ke arah dapur.


Kata-kata Kakek sekali lagi terngiang di telinga Edgar. "Linda adalah seorang gadis yang baik. Asalkan kamu menghabiskan waktu bersamanya, kamu akan menemukan sisi baiknya. Edgar. Jangan sampai kamu melewatkan gadis sebaik Linda."


Mungkin saja dia benar-benar harus menghabiskan waktu bersama Linda dan mencoba untuk lebih mengenalnya.Mungkin dengan berjalannya waktu bersama menemukan kecocokan dan hidup bersama.


Linda sedang bersiap-siap untuk memasukkan bahan makanannya ke dalam panci. Tiba-tiba dia mendengar suara Edgar yang dalam berbunyi dari belakangnya."Apa kamu butuh bantuanku?"


Linda menolehkan kepalanya dan melihat tubuh Edgar yang tinggi menjulang bersandar di kusen pintu. Kedua tangannya diselipkan ke dalam kantong celana. Lekuk wajahnya yang menawan jauh lebih lembut dari biasanya. Ujung bibirnya yang seksi tersenyum tipis. Tatapan matanya yang mendalam menatap lekat ke arahnya.


Linda merasa canggung karena ditatap seperti itu oleh Edgar . Dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah kakinya. dia mengerenyitkan alis dan berkata: "Bukankah kau tidak bisa berjalan dengan kakimu?"


Edgar membalas dengan serius: "Jadi aku harus membutuhkanmu untuk membawaku kembali ke ruang makan."


"Pergilah sendiri. Aku sedang sibuk." Linda tidak segan-segan mendorongnya keluar dari pintu dapur. Mendorongnya kemudian langsung menutup pintu.


Melihat Linda bertingkah seperti kelinci yang bulunya berdiri, Edgar tersenyum.


Setelah Linda selesai memasak mie dan membawanya keluar, Edgar sudah menunggunya di meja makan.

__ADS_1


"Coba cicip." Linda meletakkan mangkok dan sumpit di hadapan Edgar. "Sekarang sudah larut malam, aku tidak sempat membuat yang lain. Hanya bisa membuat mie. Makanlah ala kadarnya."


Edgar menundukkan kepala dan melihat semangkok mie di hadapannya. Sekelebat dia terlihat terkejut.


Rupa dan aroma hidangan itu sempurna. Tidak buruk.


Melihat wanita yang sedang membenamkan wajahnya sambil makan dengan lahap, ujung bibir Edgar melengkung ke atas.


Tunangannya ini sama sekali tidak berpura-pura dan bertingkah sesuai kebiasannya.


Tidak seperti wanita lain, misalnya Milla dan Herli. Saat mereka berada di hadapannya selalu saja berpura-pura anggun. Mereka menggunakan metode-metode itu untuk menarik perhatiannya.


Tetapi dia sama sekali tidak tertarik.


Linda segera melahap habis mie dalam mangkoknya, kemudian dia baru mengangkat kepalanya.


Dia hanya melihat Edgar yang sedang menatapnya sambil mengangkat alis. Sedangkan mienya sama sekali belum tersentuh.


"Mengapa kamu tidak makan?" Linda bertanya dengan penuh curiga. "Apakah tidak cocok dengan seleramu?"


Edgar menggelengkan kepalanya. Dia mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya di hadapan Linda.


"Bukankah kamu bisa menggunakan tangan kirimu?" Linda merasa tatapan matanya pedih melihat lambaian itu.


Suara dalam Edgar berkata: "Tangan kiri? Tidak terbiasa."

__ADS_1


"Kalau begitu tidak usah makan."


"Siapa bilang tidak mau makan?" tangan kiri Edgar menahan tangan Linda yang hendak mengangkat mangkok itu. Dia menatapnya dalam-dalam dan berkata: "Suapi aku."


__ADS_2