Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 243


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


“Edgar, aku, aku sudah tidak mampu ... lelah sekali ....” Lalitamenarik lengan Edgar dan berkata dengan malang.



Edgar memiringkan kepala melihatnya sekilas, “Candy , bertahan sebentar lagi, kalau tidak kamu pulang dulu.”



“Tidak, aku mau bersama denganmu,” Lalita menggelengkan kepala menolak.



Disaat itulah, anggota dari ketiga kelompok lainnya juga sudah mencari dan kembali.



“Bagaimana?” mata Edgar berkedip dan berkata dengan panik.



Pimpinan dari ketiga kelompok itu menggelengkan kepala, “Maaf Pak , tidak menemukan apapun.”



Edgar mengernyitkan alis, “Tidak ketemu kenapa kalian tidak melanjutkan pencarian?”



Pimpinan kelompok pencarian berkata dengan hati-hati, “Pak , kami sudah mencari ke seluruh gunung, tetapi ... Anda sebaiknya ada rencana terburuk, Nona Linda mungkin sudah ....”



Pimpinan kelompok belum selesai bicara, Edgar sudah mematahkannya dengan dingin, “Tidak mungkin!”



Linda tidak akan kenapa-napa!



Linda pasti masih hidup!



Sepasang mata Edgar sedikit merah dan berteriak dengan sedikit emosi, “Aku ulangi sekali lagi. Linda tidak apa-apa! Dia pasti masih hidup, dia sedang menunggu kita menolongnya di suatu tempat! Siapapun tidak boleh menyerah!!”



“Pak, kami tidak akan menyerah,” Robert segera berkata.



Dia tidak pernah melihat Bapak CEO yang putus asa seperti ini.



Jika Nona Linda benar kenapa-napa ... Robert tidak berani memikirkannya lagi.



Sudah sore lagi.



Sinar matahari sore begitu menyilaukan.



Angin bertiup melalui dedaunan dan salju jatuh gemerisik.



“Linda, ! Kamu di mana?” Edgar memanggil berkali-kali namun juga putus asa berkali-kali.



Linda, sebenarnya kamu di mana?



Apakah bisa menjawabnya satu kali!



Tunggu dulu ....



Di kejauhan, apa warna merah yang berkibar di pohon itu?



Langkah kaki Edgar terhenti, dia menyipitkan mata dan menutup sinar matahari dnegan tangan melihat pada kejauhan.



“Kenapa Edgar?” Melihat Edgar mendadak berhenti, Lalita yang terus ikut di sampingnya bertanya penasaran.



Jantung Edgar mendadak berdetak kencang.


__ADS_1


Jari tangan panjangnya menunjuk pada warna merah samar-samar di atas pucuk pohon, “Kalian lihat, itu apa?”



Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Edgar, Yuna melihat di atas pohon besar, sepertinya terikat sebuah benda berwarna merah dan sedikit familiar.



“Itu sepertinya punya Linda” Yuna sangat bersemangat, dia dengan cepat berlari ke arah pohon besar.



Jika dia tidak salah lihat, itu sepertinya syal yang dikenakan Linda di hari dia hilang!



Linda!



Wajah Edgar menjadi serius, dia melangkah dan berlari sepanjang jalan.



Sampai di bawah pohon, dia melihat dengan jelas, itu adalah syal merah yang diikat tinggi di atas pucuk pohon.



“Punya Linda! Ini syal miliknya!” Yuna ingat jelas, hari itu ketika Linda masuk ke dalam gunung, di lehernya adalah syal merah ini!



Dia berkata dengan gembira, “Pasti adalah sinyal marabahaya yang ditinggalkan Linda untuk kita!”



“Benar, Lind yang tinggalkan!” dalam hati muncul harapan, Edgar berkata dengan suram, “Kalau memang meninggalkan sinyal marabahaya untuk kita, maka dia pasti di sekitar sini. Kita cari ke sekeliling!”



“Tetapi, di sini tidak mirip ada orang,” Lalita menggigit bibir dan menyadarkan Edgar, “Dari sini bisa memandang sampai ujung sana, mana ada orang? Kecuali ... di bawah salju.”



“Tidak, Linda pasti di tempat yang tidak jauh dari kita!” nada suara Edgar begitu pasti.



Dia ada firasat, dia akan segera bertemu dengan Linda dan menyelamatkannya!



Dia mendongak melihat lagi syal merah yang berkibar di angin itu, dalam hatinya sedikit kesal.



Linda sudah meninggalkan sinyal marabahaya yang begitu jelas, kenapa dia tidak menyadarinya lebih awal?




Tetapi, dia malah melewatkan waktu yang begitu panjang dan tidak menemukannya. Linda sudah hilang selama 48 jam.



Dia sudah tidak bisa menunggu lagi!



“Kenapa kita baru menemukan sinyal marabahaya ?” Yuna juga begitu kesal.



“Sebelumnya syal ini pasti ditutupi oleh salju, jadi kita tidak melihatnya,” Robert menganalisa, “Matahari terbit pagi ini, salju mulai mencair pelan-pelan. Di tambah dengan angin barusan, jadi syal ini barulah muncul.”



“Masuk akal perkataanmu,” Edgar mengangguk setuju.



Namun, sebenarnya di mana Linda?



Edgar mengernyitkan alis, tatapan dalam melihat pada beberapa penduduk desa yang datang membantu, “Kalian coba pikirkan, di sekitar sini apakah ada tempat yang bisa bersembunyi?”



“Ah, aku ingat!” Salah satu penduduk berkata, “Di samping jalan ini ada gua. Musim panas tahun lalu ketika aku naik gunung memetik obat pernah masuk ke dalam.”



Gua!



Bagus sekali!



Linda pasti bersembunyi ke dalam gua!



Edgar bertanya dengan panik, “Gua ada di mana?”



“Seharusnya di sekitar sini,” Penduduk menggaruk kepala, “Detailnya di mana ... aku juga tidak ingat.”

__ADS_1



\*\*\*\*!



Edgar memaki diam-diam, apakah perlu lupa dalam waktu penting seperti ini.



Hanya saja, sekarang akhirnya ada petunjuk.



Linda kemungkinan meninggalkan sinyal marabahaya sebelum longsor salju dan bersembunyi ke dalam gua.



Penduduk memiringkan kepala memikirkan kembali, kemudian menunjuk arah kanan, “Arah seharusnya di sana.”



Penduduk selesai berkata, Edgar lantas tidak sabar berlari ke arah sana.



“Linda! Kamu di sini kah?! ! Cepat jawab aku!!” teriak Edgar.



Berhenti sejenak, dia menoleh berpesan pada Robert , “Kalian cepat datang, gali salju di sini!”



Di dalam gua.



Linda sedang bersandar di dinding gua memejamkan mata beristirahat.



Samar-samar, dia sepertinya mendengar suara yang magnetis.



Sangat halus dan semu.



Tidak terdengar begitu jelas.



Namun, begitu familiar.



Seperti adalah ... suara Edgar!



Linda langsung bangun, dia dengan cepat berjalan ke mulut gua dan mendengar dengan cermat.



“Linda, Linda! Kamu di mana!”



Benar adalah Edgar!



Edgar datang menolongnya!



Rasa senang mulai merambat dalam hatinya.



Dia bersuara gemetaran, “Edgar , kamu ya?”



Dia sudah terkurung dalam gua selama dua hari, tenggorokannya sedikit serak.



“Edgar, aku di sini!” Linda berusaha meninggikan suara, namun tidak mampu.



Bagaimana ini?



Dia harus memberitahu Edgar kalau dia di sini.



Linda menarik nafas dalam membuat dirinya tenang.



Menunduk melihat handphone di tangan, Linda membuka handphone dan mengatur volume suara sampai paling besar kemudian membuka musik.



Berharap Edgar bisa mendengarnya.

__ADS_1



Edgar yang sedang mencari gua di sekelilinng, mendadak mendengar suuara musik dari dalam tumpukan salju.


__ADS_2