Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 261


__ADS_3

“Ingin pergi, tidak semudah itu!” Lenira dan Milla menghadangnya.


“Kamu sudah merusak gaunku, malah ingin pergi begitu saja!” Lenira melototi Linda dengan kejam, ada iri dan penghinaan yang tidak bisa disembunyikan di matanya.


“Aku ada atau tidak merusak gaunmu, kamu tahu sendiri,” LInda menyipitkan mata dan berkata datar, “Kamu mau apa sebenarnya?”


“Tentu saja ganti rugi!” Volume suara Lenira naik, “Lima juta yuan, tidak boleh kurang sepersenpun!”


“Oh iya, aku hampir lupa. Kamu sekarang sudah dicampakkan oleh Edgar dan sudah bukan tunangannya lagi, kelihatannya kamu juga tidak mampu mengeluarkan lima juta yuan deh.”


Lenira tersenyum sombong dan meremehkan Linda “Begini saja, kalau kamu berlutut minta maaf padaku, aku bisa pertimbangkan mau atau tidak ganti rugi.”


Lima juta yuan, kampungan ini bagaimana mungkin ada!


Maka dia hanya bisa berlutut dengan patuh, seperti anjing saja dan minta maaf padanya.


Wartawan ada di samping, keburukan Linda akan menjadi berita utama besok.


Nantinya, bagaimana mungkin Jonatan akan suka lagi dengan Linda.


Melihat Lenira bicara semakin keterlaluan, wajah Linda juga menjadi dingin.


Tadinya, dia tidak ingin menghamburkan waktu dengan dua orang tidak penting ini, tetapi dua orang ini tidak tahu diuntung, dan terus mengganggunya.


Baiklah, kalau memang begitu, maka dia juga tidak akan sungkan!


Kalau memang Milla dan Leniraingin membuat dia malu di depan umum, maka dia akan gunakan rencana yang sama, buat mereka senjata makan tuan!


Mengingat sampai sini, mata LInda menjadi dingin, “Lenira , kalau memang kamu bersikukuh aku yang sudah merusak gaunmu, maka keluarkan bukti, jika tidak, hati-hati aku menuntutmu sudah menfitnah.”


“Bukti ya?” Bola mata Lenira berputar, “sangat mudah, kamu sudah merusak gaunku, pasti akan meninggalkan sidik jari di atas. Asalkan lapor polisi dan menguji sidik jari maka kebenaran akan diketahui. Lagian Milla juga di samping, dia sudah melihatnya.”


Nada suara Lenira begitu yakin, lagian Linda tadi memang sudah mendorong bahunya, bajunya seharusnya ada bekas jarinya.


Sekalipun benar beronar sampai kantor polisi, dia juga tidak takut.


“Tidak perlu begitu repot,” Linda tersenyum tenang, “toko butik barusan seharusnya ada cctv. Kita pergi lihat cctv, maka akan tahu kebenarannya.”


“Boleh,” Lenira setuju.


Linda sedikit terkejut, Lenira setuju dengan begitu cepat, apakah tidak takut kebenaran terungkap?


Cctv seharusnya merekam dengan sangat jelas, dia hanya mendorong Lenira dengan pelan, sama sekali tidak merusak gaunnya.


Sedangkan gaun Lenira , sangat mungkin dirinya atau Milla yang sengaja merusaknya untuk menjadikannya kambing hitam.

__ADS_1


Asalkan memeriksa rekaman cctv, maka semua kebenaran akan terungkap.


Kenapa Lenira tidak takut masalah terungkap?


Sepertinya ada yang janggal.


Melihat Linda tidak bicara, Lenira Bai melihatnya dengan menantang, “Nantinya, kamu jangan lupa berlutut minta maaf denganku!”


Kakak sepupu Lenira kerja di toko butik ini dan bertugas dalam pemantauan cctv.


Jadi, mudah sekali bagi dia menyuruhnya untuk menghapus rekaman cctv.


Lenira sudah diam-diam mengirimkan pesan untuk Kakak sepupunya. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak takut.


Linda dasar tidak tahu malu!


Tunggu saja!


Hari ini pasti membuatmu berlutut mohon ampun!


Robert janjian dengan teman untuk makan siang. Ketika lewat jalan komersial, dia melihat di pintu masuk butik HN ada kerumunan orang.


Dia tidak sengaja melihat beberapa kali, mendadak menyadari kalau orang yang dikepung dan diserang sepertinya adalah Linda.


Robert berhenti dan berjalan ke depan, akhirnya melihat jelas.


Robert tentu saja tidak percaya Linda akan merusak baju Lenira .Hendak maju membantu Lind namun berpikir lagi, dia kembali berhenti.


Hal pendekar menyelamatkan wanita cantik, tentu saja harus diberikan untuk bapak CEO-nya.


Meskipun sekarang banyak berita gosip yang mengatakan kalau Bapak CEO mencampakkan Linda dan bersama dengan Lalita.


Tetapi sesuai pemahaman Robert pada Bapak CEO, dia merasa kalau orang yang paling dicintai Bapak CEO-nya tetap adalah Linda.


Mengenai Lalita ....


Kira-kira karena tanggung jawab .


Berpikir begitu, Robert mengeluarkan handphone dan menelepon Edgar


Edgar pagi-pagi sudah bangun, tadinya berencana lembur di kantor, tetapi di jalan malah tidak tahan menyetir ke arah Taman Lubiri.


Setelah berkeliaran lama di bawah apartemen tempat Linda tinggal, Edgar barulah melangkah naik ke atas.


Namun, dia menekan pintu bel dengan sangat lama juga tidak ada yang membuka pintu.

__ADS_1


Linda tidak di rumah.


Edgar meneleponnya tetapi telepon tidak aktif.


Dia hanya bisa putar balik dengan murung dan menyetir menuju perusahaan.


Baru saja sampai ruangan kantor sudah mendapat telepon dari Robert .


“Robert , ada apa?” tanya Edgar.


Robert berkata di telepon sana, “Aku tadi lewat jalan komersial dan melihat Nona Linda.”


“Linda?” tanya Edgar.


Linda buat apa ke jalan komersial.


Robert mengangguk, “Iya, dia sepertinya bertemu masalah.”


“Aku juga tidak tahu ... hanya saja nampaknya bukan masalah kecil,” Robert sengaja tidak memberitahu pasti, “Pak, apakah kamu mau ke sini langsung?”


“Di mana?” tanya Edgar.


Robert melihat pintu toko butik HN dan menjawab, “Di pintu masuk toko butik HN.”


“Baik, aku segera ke sana,” nada suara Edgar sedikit panik.


Edgar baru saja menutup telepon dan hendak bergegas ke jalan komersial, malah melihat Lalita masuk dengan thermos di tangan.


“Kak , ini sarapan yang aku buat khusus untukmu. Kamu icip,” Lalita berjalan ke hadapan Edgar dan berkata lembut.


Dia tahu kalau Edgar gila kerja, akhir pekan pasti akan datang lembur, jadi sengaja membuat sarapan dan memberi kesan baik untuknya.


Namun, Edgar tidak menatapnya, hanya berkata datar, “ aku ada urusan pergi dulu.”


“Kak , kamu pergi kemana? Aku pergi bersamamu!” Lalita segera mengikutinya.


Barusan di pintu masuk, dia samar-samar mendengar Edgar sedang menelepon, sepertinya berhubungan dengan Linda.


Melihat Edgar begitu peduli dengan Linda, mata Lalita tidak tahan terlintas kebencian.


Linda, lagi!


“ kamu pulang saja dulu,” kata Edgar tidak sabar.


Barusan Robert tidak mengatakan dengan jelas di telepon. Dia hanya ingin segera tiba di jalan komersial, pergi melihat sebenarnya Linda bertemu masalah apa.

__ADS_1


“Kak , biarkan aku pergi bersamamu ....” Lalita menarik erat Edgar dan langsung ikut masuk ke dalam mobilnya.


__ADS_2