
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Edgar maju dan sepasang tangannya memegang dinding, mengurung Linda di antaranya. Bibirnya membuka dan nada suara begitu dingin, “Linda, kamu adalah tunanganku , berkencan dengan lelaki lain di depanku?”
Nafas dingin di seluruh tubuh Edgar membuat suasana di restoran menjadi padat.
Tetapi bertatapan dengan mata lelaki yang membawa amarah, Linda membalas cibiran tanpa takut, “Kenapa, kamu boleh melewati malam dan bersenang-senang dengan Milla, aku tidak boleh makan malam bersama Jonatan ?”
Begitu teringat dengan telepon semalam, teringat dengan rupa Milla yang sombong di dalam telepon. Dalam hati Linda rasanya seperti tersumbat kapas saja.
Edgar mendengarnya langsung tercengang.
Melewati malam dan bersenang-senang dengan Milla ?
Ini mana dengan mana?
“Kenapa kamu tahu aku bersama Milla semalam?” Edgar bertanya dengan mata suram.
Linda melototnya dengan kesal, “Kalau tidak ingin orang tahu maka jangan melakukannya. Bagaimana aku bisa tahu bukan urusanmu!”
Sedikit mengangguk dan melihat sepasang mata cantik wanita di depan ini melotot, wajah yang cantik penuh rasa cemburu. Mirip sekali dengan istri yang sudah menangkap basah suami berselingkuh di atas ranjang kemudian marah dan cemburu.
__ADS_1
Linda tertawa pelan dan tersenyum lalu sengaja menarik nada panjang, "Linda, kamu sedang cemburu, em?”
Meskipun pertanyaan tetapi nadanya malah sangat yakin.
Cemburu?
Konyol!
Kenapa dia harus cemburu?
Edgar juga bukan siapanya dia!
Melihat rupa wanita yang meledak, suasana hati Edgar mendadak sangat baik.
Mata yang dalam jatuh pada mulut Linda yang terus berbicara. Edgar mendadak menurunkan tubuh dan menciumnya, menutup semua perkataannya.
“Uh ....” Di atas bibir ada suhu panas Edgar. Detak jantung Linda anehnya menjadi cepat.
Dalam seketika, sekujur tubuh seperti dialiri listrik yang kuat. Wajah Linda terasa panas, bahkan nafas juga tidak lancar.
Linda refleks meronta ingin mendorong Edgar namun ditekan olehnya di atas dinding dan sama sekali tidak bisa bergerak.
__ADS_1
“Jangan bergerak.” Suara Edgar yang rendah dan serak berbunyi. Sepasang mata yang dalam, saat ini ada nafsu yang kuat seperti api yang menyala.
Lidahnya membuka bibir dan Lidah Edgar lalu masuk ....
Ada riak di dalam hati, kepala Linda seperti mesin yang mati. Dia anehnya berhenti meronta.
Nafas satu sama lain saling menjerat. Ciuman Edgae bagaikan angin kencang dan hujan deras, mendominasi, antusias, menjerat dan tak terpisahkan.
Suhu di dalam restoran naik, di dalam udara juga memancarkan aroma menawan ....
Entah sudah lewat berapa lama, lama hingga Linda mengira dirinya sudah sesak. Edgar barulah mengakhiri ciuman panas yang dominan dan menjerat ini dengan tidak puas.
“Edgar, kamu ... dasar berandalan!” Linda tersadar dan melotot lelaki di depan dengan malu dan marah.
Oh Tuhan, apa yang dia lakukan tadi?
Kenapa tidak mendorongnya pergi!
Edgar tertawa rendah dan menurunkan tubuh berkata di telinganya, “Aku dan Milla tidak ada hubungan apapun. Semalam hari kematian ayahku, aku pergi menyembahnya di kuburan dan tidak sengaja mabuk. Milla mengantarku pulang ke rumahnya, hanya begitu saja. Aku dan dia tidak ada apa-apa.”
Linda sedikit tercengang.
__ADS_1
Edgar ini ... sedang menjelaskan padanya?