Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 252


__ADS_3

Pesan?



Linda tercengang.



Kapan dia pernah mengirimkan pesan untuknya?



“Aku tidak pernah melihat pesan apa,” sindir Linda.



Edgar mengernyitkan alis. Hari itu, handphone-nya tidak ada baterai, Candy yang mengirim pesan.



Kenapa Linda tidak menerimanya?



Apakah ada masalah di tengah ini?



Melihat Edgar terdiam, Linda bertanya dingin, “Edgar, apakah kamu berani mengatakan kalau kamu tidak mencintai Candy bertahun-tahun? Di dalam hatimu, orang yang selalu kamu rindukan bukan Dia?”



“Linda , aku tidak menyangkal aku memiliki sebuah perasaan yang istimewa padanya, tetapi bukan seperti yang kamu pikirkan.” Edgar memikirkan kata, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Linda.



Terhadap Candy, memang ada bagian yang sangat penting dalam hatinya.



Dia pernah mengira, Candy yang terus dia cari adalah cinta dalam hatinya.



Tetapi kemudian dia bertemu dengan Linda. Dia pelan-pelan tertarik padanya. Keseimbangan perasaannya juga miring ke sisi Linda.



Ketika bertemu dengan Lalita, dia menyadari kalau dirinya tidak ada perasaan jatuh cinta pada Lalita . Orang yang dia inginkan seumur hidup tetap adalah Linda.



Hanya saja, CAndy ada jasa penyelamat hidupnya, dia bukan orang yang tidak tahu balas budi.



Jadi, ketika Candy mengajukan berbagai permintaan, dia akan menyetujuinya tanpa ragu.



Linda menggigit bibir dan terdiam.



Hati sedikit tergerak.



Perkataan Edgar, sebenarnya bisa dipercayai berapa persen?



“Masalah Candy, aku sudah jelaskan padamu. Sekarang, apakah kamu seharusnya menjelaskan apa hubunganmu dan Jonatan ?” Begitu teringat dengan pemandangan di bawah sana, hati Edgar tetap tidak nyaman.



Linda malah tidak menjawab, “Edgar, apakah kamu bisa yakin kalau Lalita adalah Candy ?”



“Tentu saja,” jawab Edgar tanpa ragu.



“Kenapa begitu yakin?” tanya Linda.



Tatapan Edgar membawa pertanyaan, “LInda , kamu sedang curiga apa?”

__ADS_1



Linda merapatkan bibir dan hendak bicara. Handphone Edgar mendadak berbunyi.



Edgar mengeluarkan handphone dari dalam kantong, dia menunduk melihat, telepon dari Lalita.



Melihat “Candy” yang terus berkedip di atas layar, wajah Linda menjadi suram.



Jari tangan Edgar menekan tombol terima, “Candy?”



Di seberang telepon sana terdengar suara Lalita yang panik, “Edgar, tolong aku! Cepat tolong aku!”



“kamu kenapa?” nada Edgar perhatian.



“Kalian jangan datang, ah ..., tolong!!!” Di dalam telepon, suara Lalita menangis, seperti bertemu hal yang menakutkan.



“Candy? Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Edgar dengan tegang.



Tetapi telepon malah dimatikan.



Edgar menelepon kembali namun tidak ada yang mengangkatnya.



“Linda, Candy mungkin bertemu bahaya, aku pergi lihat,” Edgar menatap Linda dengan wajah berat.



Tidak menunggu LInda bicara, dia langsung berjalan keluar menuju pintu.




Barusan masih bilang kalau perasaan dia terhadap Lalita tidak seperti yang dirinya bayangkan.



Tetapi begitu mendapat telepon dari Lalita , dia sudah bergegas ke sana seperti orang gila.



Apakah ini namanya tidak ada perasaan?



Kenyataan di depan mata, dalam hati Edgar, Lalita jauh lebih penting dari dirinya ....



Edgar menyetir, sepanjang jalan mengebut tiba di kontrakan Lalita .



“Candy ” Dia mengetuk pintu dan memanggil dengan suram, nada suaranya sedikit cemas.



Suara tangisan Lalita terdengar dari dalam, “Lepaskan aku, dasar preman, cepat lepaskan aku!”



Selanjutnya terdengar suara seorang lelaki, “tengik, aku suka denganmu itu adalah berkatmu, masih lari? Lihat kamu bisa lari kemana!”



Wajah Edgar menjadi suram dan menendang pintu.



Hanya terlihat di dalam rumah begitu berantakan.

__ADS_1



Lalita berlari keluar dari dalam kamar dengan rambut dan baju yang berantakan.



Di belakangnya masih ada seorang lelaki berambut kuning.



“Kak , tolong aku,” ketika melihat Edgar, Lalita menyerbu masuk pelukannya dengan cepat dan berkata dengan panik.



“ tengik, aku sudah menghabiskan begitu banyak uang untukmu. Setiap hari pergi mendukungmu di bar. Sekarang kamu bilang tidak mau kerja?” Lelaki berambut kuning memaki dan menatap Lalita dengan pandangan yang genit.



Lalita menangis berkata, “Aku sudah bilang, aku sudah berhenti dan tidak kerja di bar lagi. Aku tidak akan kembali nyanyi di sana lagi.”



“Tidak nyanyi juga boleh, temani aku semalam, kalau melayaniku dengan nyaman, semuanya bisa dibincangkan,” lelaki berambut kuning berkata dan menarik Lalita dengan kuat.



Lalita bersembunyi di belakang Edgar dengan gemetaran, “Kamu jangan kemari. Kak , aku sangat takut.”



Edgar menatap lelaki rambut kuning dengan dingin, dia menghadang tangan lelaki dengan lengannya dan mendorongnya.



“Dasar bocah beraninya kamu ikut campur?” Lelaki rambut kuning jatuh di atas lantai dan memaki hendak bangun.



Edgar langsung menginjak dadanya, “Enyah!”



Aura dia yang kuat dan dingin menerpanya. Lelaki rambut kuning barulah mengamati Edgar dengan cermat.



Semakin dilihat semakin familiar, dia berkata dengan takut, “Kamu, kamu adalah CEO Lion?!”



“Kamu sekarang sudah tahu siapa Kak Edgar? Edgar tidak akan biarkan kamu menindasku!” Candy menggandeng lengan Edgar dan melototi lelaki rambut kuning dengan kejam.



“CEO, aku tidak tahu kalau Lalita adalah wanitamu. Aku yang tidak kenal denganmu, Anda tolong jangan marah denganku,” lelaki rambut kuning bangun dari lantai dan meminta maaf pada Edgar dengan hormat.



Edgar mengernyitkan alis dan berkata dingin, “Masih tidak enyah?!”



“Baik, baik, aku enyah sekarang,” lelaki rambut kuning bersikap hormat dan segera berlari keluar.



“Candy, sudah tidak apa-apa, jangan takut,” Edgar memiringkan kepala melihat Lalita sekilas dan menghiburnya.



Lalita memegang lengan Edgar dengan erat dan bersandar di dadanya lalu berkata dengan terisak, “Kak , hari ini untung saja ada kamu, jika tidak, takutnya aku sudah ....”



“Barusan itu siapa?” tanya Edgar.



Lalita T menangis berkata, “Seorang klien aku dulu di bar, dia terus menggangguku. Tidak menyangka hari ini langsung ke rumahku dan hendak melecehkanku ... Kak , kalau bukan kamu, aku rasa aku sekarang sudah dinodai dia.”



Edgar menepuk pundak Lalita dan suaranya menjadi lebih lembut, “Candy, jangan menangis, sudah tidak apa-apa.”



Lalita menyeka air matanya, “Kak ,aku benar sangat takut. Malam ini tinggallah dan temani aku, boleh tidak?”


__ADS_1


Melihat Lalita yang menangis ini, kata penolakan tersumbat di tenggorokan, Edgar mengangguk pelan.


__ADS_2