Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 177


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


“Kamu suapi aku.” kata Edgar dengan rupa sudah seharusnya.



Linda sungguh kehilangan kata, ....



Sudahlah sudahlah, membantu orang sampai akhir. Linda bersabar dan mengambil gelas Edgar lalu membantunya mengambil air, kemudian mengantar sampai tepi mulutnya dan berkata datar, “Minumlah!”



Edgae malah bersandar ke belakang dan melihatnya dengan mata yang dalam, “Bantu aku coba suhu air.”



“ ....” Menghadapi lelaki yang sombong dan licik ini, Linda kehilangan amarahnya, jadi mengesapnya, suhu air pas.



Hanya saja ... ini gelas air Edgar, sekarang dia meminumnya, apakah termasuk ciuman tidak langsung?



Wajahnya tidak tahan menjadi panas, Linda segera menarik nafas dan mengusir pemikiran aneh di dalam hatinya.



“Sudah bisa, minumlah!” Linda menyerahkan gelas kepada Edgar.



Edgar tidak mengambilnya, mata yang dalam menatap wajah merah wanita di depan.



“Kamu lihat apa?” tanya Linda yang mengernyitkan alis karena tidak nyaman ditatap oleh dia.



Edgar tertawa rendah, “Linda , buat apa wajahmu memerah?”



Wajahnya memerah dengan begitu jelas? Apakah dia sudah tahu?



Dalam hati Linda tidak tahan menjadi canggung, dia menggigit bibirnya, “Mana ada?”



Edgar menaikkan alis dan melanjutkan menggodanya, “Tidak ada ya? Kamu coba bercermin.”



Linda sedikit kesal, langsung mengantarkan gelas air ke tepi mulut Edgar, “Edgar, kamu masih mau minum atau tidak!”



Melihat Linda yang seperti kelinci kecil mengamuk, mata dalam Edgar tidak tahan menjadi lembut. Dia hendak mengambil gelas air, namun mendadak terdengar suara seorang wanita.



“Linda, kamu sedang apa!”



Suara mendadak ini mengagetkan Linda, tangan yang memegang gelas juga secara spontan bergetar, air di dalam gelas hampir saja menyiram Edgar



Dia menoleh melihat pintu masuk, hanya terlihat Milla sedang melototinya dengan tatapan yang cemburu.


__ADS_1


Dalam pikirannya anehnya muncul lagi adegan Edgar yang berdansa dengan Milla. Wajah Linda menjadi dingin dan langsung meletakkan gelas ke atas meja dengan kuat, lalu berkata suram, “Aku pergi dulu.”



“Tidak perlu pergi.” Edgar berkata suram.



Linda malah tidak menghiraukannya, dia berbalik hendak melangkah pergi, mendadak ada sebuah tangan besar yang tulangnya jelas memegang pinggangnya, tenaga yang sedang menyebar, kaki Linda licin dan seluruh dirinya jatuh ke atas tubuh Edgar.



Wajah Linda langsung jatuh di antara dua kaki Edgar. Gerakan ini begitu ambigu.



Milla menatap pemandangan di depan dengan kaget, baru bereaksi setelah beberapa detik.



kampungan tidak tahu malu ini, malah sengaja menggoda Edgar di depannya!



Milla menginjakkan highheels melangkah masuk dan menarik Linda, hendak menariknya dari tubuh Edgar dan menegurnya, “Linda, kamu sedang apa? Siang bolong begini, apakah bisa lebih tahu malu ....”



Merasakan kecemburuan Milla yang kuat, Linda berdiri dan kemudian merangkul leher Edgar, lalu bersandar ke dalam pelukannya.



Dia membersihkan tenggorokan, “Nona Xu, apakah kamu tidak tahu untuk mengetuk pintu? Menggangguku dan tunanganku, sungguh tidak sopan.”



“Kamu!” Milla tersedak, mata yang penuh permusuhan tidak sabar untuk membunuh Linda.



Tubuh Linda yang lembut dan menggoda itu langsung bersandar di tubuh Edgar. Edgar merasa sesak, dia lantas memeluk pinggang Linda yang ramping dan mata dingin melihat pada Milla, “Kamu datang buat apa?”



Milla berjalan ke samping Edgar dan melototi Linda dengan iri.




“Tidak perlu!” Millabaru selesai bicara, sudah dipatahkan oleh suara dingin Edgar.



Senyuman Milla menjadi kaku dan melanjutkan, “Tetapi aku lihat berita, karena kejadian ‘Ice and Fire’, harga saham perusahaan Lion sudah turun sangat banyak. Kalau rencana kerja sama perusahaan dan perusahaan Xu kami bisa tercapai dengan segera, percaya bagus untuk perusahaan Lion, nantinya harga saham pasti akan naik.”



“Kenapa, kamu mengira perusahaan Lion harus mengandalkan perusahaan Xu barulah bisa menaikkan harga saham?” Edgar mengaitkan bibir dan mata yang menatap Milla begitu tajam.



Nafas dingin Edgar menyerbunya, Milla menggigit bibir dan nada suaranya terluka, “Edgar, bukan ini maksudku, aku hanya ingin membantumu ....”



“Tidak perlu.” Wajah Edgar begitu dingin dan seperti bisa membekukan orang, dia berkata dengan tidak sabar, “Aku masih ada urusan, kamu pulang saja.”



Milla menghentakkan kaki dengan kesal lalu melototi Linda dengan benci, barulah berbalik pergi.



“Kenapa kamu tidak pergi mengejarnya?” Linda memiringkan kepala melihat Edgar dan berkata cemberut.



Edgar sayup-sayup berkata, “Kenapa, kamu mau aku pergi mengejarnya?”



“Orang berbaik hati membantumu, kamu begini padanya, apakah tidak takut melukai hati Nona besar Xu?” nada Linda membawa rasa cemburu yang dia sendiri tidak sadari.

__ADS_1



Setiap kali teringat dengan adegan Edgar berdansa dengan Milla hari itu, dalam hatinya menjadi tidak nyaman.



“Begitu ya.” Satu tangan Edgar memegang wajahnya dan berpura-pura berpikir beberapa detik, “Kalau begitu aku benar-benar pergi kejar ya.”



Sambil bicara, Edgar berpura-pura akan berdiri.



Melihat Edgar benar-benar berencana mengejar Milla ,Linda berkata tanpa berpikir, “Edgar, coba saja kalau berani!”



Perkataan Linda yang jelas cemburu itu masuk ke dalam telinga Edgar, dia tertawa pelan, “Linda, kamu cemburu.”



Linda sadar dan tidak tahan menjadi malu.



Dia ini kenapa, selalu dicucuk hidung sama Edgar.



Perasaan ini sangat tidak menyenangkan!



Linda tidak tahan melototi Edgar dengan kesal, “Tidak ada!”



Edgar melengkungkan sudut bibir, lalu mendekati telinga Linda, suara yang magnetis berbunyi, “Linda, hari itu aku berdansa dengan Milla karena kesal kamu bersama dengan Jonatan S.”



Nafas yang lembut itu mengenai leher Linda , membuatnya merasa geli.



Linda spontan mendorong Edgar, dalam hati sedikit tergerak ....



Edgar ini sedang menjelaskan padanya ya?



Dalam hati anehnya terlintas rasa hangat, Linda menarik nafas dan berkata datar, “Kamu suka berdansa dengan siapa maka berdansalah, apa hubungannya denganku?”



Mata Edgar menjadi kelam, sepasang mata yang dalam bagaikan samudera dan bisa menenggelamkan orang.



Suara dia yang bagaikan cello dimainkan berbunyi dengan merdu, “Aku kedepannya hanya berdansa denganmu saja.”



Linda tertegun sejenak.



Namun ....



Linda melengkungkan sudut bibir dengan menyindir, “Kalau begitu bagaimana dengan Candy? Kalau suatu hari nanti kembali, apakah kamu akan berdansa dengan dia?”



Candy...



Edgar terdiam.

__ADS_1



Hati Linda tenggelam sedikit demi sedikit.


__ADS_2