Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 310


__ADS_3

Tapi Edgar ngotot bertentangan dengannya. Tidak hanya tidak pergi, sebaliknya malah menimpa Linda semakin erat.



Dia mengaitkan sudut bibir yang seksi dan tertawa rendah, “Tidak mau pergi.”



Linda, “....”



Dia mengkerling Edgar dengan kesal, “Cepat menyingkir, aku mau ambil salep.”



“Salep apa?” Edgar tidak tahan kaget mendengarnya.



Mengambil kesempatan Edgar bengong, Linda langsung mendorongnya, “Salep anti alergi buatanku sendiri.”



“Aku bantu kamu mengambilnya,” Edgar menarik Linda kembali ke atas ranjang, dan bertanya, “Salepmu diletakkan di mana?”



Linda menunjuk koper, “Di dalam lapisan koperku.”



“Em, aku pergi ambil,” Edgar berkata dan menatap Linda dengan lembut, “Kamu berbaring dan istirahat.”



Menghadapi perhatiannya, dalam hati Linda terlintas kehangatan.



Perasaan ini sangat hangat dan sangat istimewa.



Edgar menemukan salep di dalam lapisan koper dan menoleh bertanya pada Linda , “Inikah?”



“Iya,” Linda mengangguk.



Edgar kembali ke tepi ranjang dan duduk.



“Berikan padaku,” Linda mengulurkan tangan meminta salep pada Edgar.



Tapi Edgar tidak memberikannya. Hanya meliriknya dengan dalam, “Aku bantu kamu.”



“Em?” Linda masih belum bereaksi, Edgar sudah membuka salep.



Ujung jari dia yang panjang itu memeras salep putih dan mengolesi Linda dengan hati-hati.



Temperatur panas di ujung jari Edgar membawa sejuknya salep memijit di wajahnya dengan pelan.



Perasaan itu ... seperti ada bulu yang lembut dan pelan, rasanya kebas dan nyaman.



Bersentuhan dalam jarak dekat ini, membuat wajah Linda mulai sedikit panas.



Detak jantung sedikit bertambah cepat.


__ADS_1


Tahu dengan malunya wanita di depannya, Edgar berkata rendah, “Pejamkan matamu.”



Suara dia menusuk dan seperti sihir membuat Linda memejamkan mata dengan patuh.



Jari tangan Edgar yang panjang dan lincah menelusuri pipi , leher, pundak ....



Turun sepanjang jalan, turun lagi ... hingga dada.



Perasaan janggal seperti sengatan listrik menyebar ke setiap sel tubuh Linda.



Dia segera membuka mata dan menahan tangan Edgar yang tidak hentinya mengolesi salep di depan dadanya, nadanya sedikit malu, “Sudah.”



Wanita di depan yang canggung dan malu membuat suasana hati Edgar sangat baik.



Dia menaikkan alis dan tangannya sengaja menuju depan dada Linda. tapi wajahnya serius, “Di sini masih belum diolesi obat.”



“Sudah, di sana tidak alergi,” Linda segera mundur dan mengalihkan pembicaraan, “Oh iya , bunga di atas tanah kemarin, apakah kamu sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya?”



Linda pada dasarnya yakin, yang membuat dia alergi adalah bunga segar itu.



Dua perempuan yang membawa bunga itu, dia sama sekali tidak kenal, seharusnya ada orang yang menyuruhnya.



Sekarang dipikirkan, beberapa orang yang bermasalah dengannya, Herli masih di penjara.




Linda tidak mengerti, wanita-wanita ini, satu persatu sudah gila, buat apa terus mengarah padanya?



Dia beneran meremehkan melawan wanita-wanita ini.



Tapi, mereka malah suka mencari masalah dengannya.



Ia juga sangat kehilangan kata.



“Aku sudah menyuruh Robert untuk menyelidikinya,” Edgar meletakkan salep dan duduk di samping Linda.



Linda mengangguk dan bertanya, “Kalau begitu apakah dia berhasil menyelidiki sesuatu?”



“Masih belum, seharusnya segera,” kata Edgar



Kemarin Linda alergi dan demam begitu parah. Semua pikirannya diletakkan pada Linda, jadi masih belum sempat bertanya pada Robert apakah ada perkembangan atau tidak.



Baru saja selesai bicara, handphonenya berdering.



“Halo Robert, masalah yang aku suruh kamu selidiki kemarin, apakah sudah ada hasil?” Edgar menekan loudspeaker agar Linda bisa mendengar jelas perkataan Robert di telepon sana.

__ADS_1



“Iya Pak,” suara Robert terdengar dari telepon sana, “Aku sudah menyuruh orang membawa bunga-bunga itu untuk pengujian. Hasil pengujian baru saja keluar, membuktikan kalau kelopaknya mengandung platinum dalam jumlah besar.”



Linda menyipitkan mata mendengarnya.



Tebakan dia tidak salah, memang bunga-bunga itu yang bermasalah!



“Apakah sudah menemukan dua perempuan yang memberikan bunga itu?” tanya Edgar dingin.



Asalkan menemukan dua perempuan itu, maka bisa menemukan orang di balik layar mereka.



“Sudah, adalah mahasiswi dari Universitas A,” Robert Lmenjawab, “tapi mereka tidak mengaku sudah melakukan sesuatu pada bunga itu, jadi tidak berhasil menanyakan apapun.”



“Iyakah?” wajah Edgar menjadi suram, “Lanjutkan selediki!”



“Baik!” kata Robert L hormat.



Setelah menutup telepon, Linda dan Edgar saling bertatapan.



“apa pendapatmu?” tanya Edgar.



Linda mengerutkan bibir, “Aku tidak kenal dengan dua mahasiswi itu, jadi mungkin ada orang yang menyuruh mereka melakukan ini.”



Berhenti sejenak, Linda berkata, “Tapi, kalau beneran ada orang yang sengaja menyuruh mereka, maka terlalu jelas.”



Edgar mengangguk setuju, “Benar katamu, saat itu ada begitu banyak orang di tempat, masih ada begitu banyak wartawan. Bisa menyelidiki siapa dua murid itu dengan mudah. Jika beneran ada orang yang sengaja menyuruhnya maka juga akan dengan mudah terselidiki.”



Orang yang ingin mencelakai Linda tidak akan begitu bodoh. Mencari dua orang mempersembahkan bunga dan membuatnya alergi.



“Em,” mata Linda menjadi dingin dan berkata, “Sangat mungkin dua murid itu adalah kambing hitam. Ada orang yang diam-diam melakukan sesuatu pada bunga dua murid itu dan ingin mencelakaiku. Hanya saja entah siapa orang ini ....”



“Tidak peduli siapa, aku pasti tidak akan melepaskannya!” garis wajah tampan Edgar menegang dan mata yang dalam memancarkan hawa dingin.



Sudut bibir Linda naik sebuah lengkungan dangkal, “Orang ini mengarah padaku, aku akan menyelesaikannya sendiri.”



“Apa yang ingin kamu lakukan?” suara Edgar rendah.



Linda tersenyum, “Tentu saja menemukan orang ini, kemudian membalas kekesalan dan dendam.”



“Bagaimana kamu mencarinya?” Edgar mengernyitkan alis.



Linda mengangkat bahu dan berkata dengan wajah rileks, “Sangat mudah, tunggu dia masuk perangkap sendiri.”



“Maksudmu adalah?” Edgar samar-samar sudah merasakan apa yang ingin Linda lakukan, wajahnya seketika berubah menjadi dingin.

__ADS_1



Linda menyipitkan mata dan nada suaranya begitu yakin, “Kalau memang orang ini menghalalkan segala cara ingin mencelakaiku dan aku sekarang tidak apa-apa, maka dia pasti tidak akan menyerah. Dengan cepat dia akan kembali mencelakaiku, yang harus aku lakukan adalah menunggu dia masuk perangkapku.”


__ADS_2