Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 207


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


“Sekarang khawatir juga tidak berguna, kalian masuk dan istirahat dulu. Sesuai kecepatan paling cepat, setidaknya juga harus 3 hari baru bisa sampai.” Kakek juga sama mengkhawatirkan keadaan teman baiknya, tetapi dia lebih tenang dari mereka berdua.



Dia percaya tidak peduli apa yang terjadi, Tuan besar Lion juga bisa menghadapinya.



Apalagi Edgar sudah ditemukan. Dengan kemampuan Edgar, asalkan dia pulang maka apapun masalah perusahaan Lion juga bisa diatasinya.



Berlayar di laut selama beberapa hari, Linda dan Edgar akhirnya kembali ke kota A.



Di pelabuhan, Kakek King mengantar mereka berdua, kemudian berpesan, “Aku pulang ke kota C dulu, kalian hati-hati. Jika tidak bisa diatasi, cari aku kapan saja.”



“Kakek, jaga diri ya.” Linda tidak rela, tetapi sekarang masih ada hal yang lebih penting harus dilakukan.



Kapal pesiar kakek menghilang dari pandangan Linda. Rongga matanya sedikit merah.



“Linda , tunggu masalah di sini sudah selesai, aku temani kamu pergi jenguk kakek.”



Suara Edgar terdengar di telinga Linda, Ia sadar dan mengernyitkan alis, “Kita pulang dulu ke kediaman tua mencari Kakekmu.”



“Tidak, tidak boleh bertindak gegabah.” kata Edgar.



Bertindak gegabah?



Linda dengan cepat sudah mengerti dengan maksud Edgar.



Sebelumnya di kediaman tua, dia pernah diam-diam memeriksa denyut nadi Tuan besar Lion. Pada saat itu, denyut nadinya stabil, bagaimana bisa mendadak sakit keras?



Penyakit Tuan besar Lion, takutnya seseorang melakukannya dengan sengaja.



Orang ini, sangat mungkin adalah orang yang melakukan sesuatu pada pesawat dan ingin mencelakai Edgar.



“Cari Robert dulu.” kata Edgar dengan suram.



Linda mengangguk, lalu menyerahkan handphone yang diberikan Kakek pada Edgar. .



Handphone dia dan Edgar sudah jatuh ke dalam laut.



Edgar mengambil handphone dan menelepon Robert.


__ADS_1


“Halo, siapa?” suara Robert terdengar dari telepon sana.



Edgar berkata dingin, “Aku.”



“Pak Edgar?” suara Robert mendadak bergejolak, “Anda tidak apa-apa?”



“Iya.” jawab Edgar dengan datar.



“Pak, bagus kalau Anda tidak apa-apa!” Nada suara Robert L bergejolak dan perhatian, “Kami sangat mengkhawatirkanmu dan Nona Linda. Selama Anda hilang, terjadi banyak hal ....”



“Kita ketemu baru bahas.” Edgar melihat sekeliling, “Aku sedang di pelabuhan teluk.”



“Aku segera menjemput Anda.” kata Robert dengan hormat.



“Jangan beritahu siapapun aku menghubungimu.” pesan Edgar dengan suram.



“Aku mengerti.”



Setengah jam kemudian, Robert sudah tiba di pelabuhan teluk.



“Pak , Nona, benar adalah kalian!” Robert membuka pintu mobil. Melihat Edgar dan Linda seperti sudah seumur hidup.



“Naik mobil dulu baru bahas.” kata Edgar dengan suram dan bersama Linda duduk di jok belakang.




“Pergi ke vila pinggiran kotaku.” kata Edgar.



Vila ini sudah lama diberikan kakek untuknya, sangat tersembunyi dan tidak ada orang yang tahu.



Saat ini dia tidak ingin ada orang yang tahu kalau dia sudah kembali ke kota A.



Akhirnya tiba di vila, Edgar membawa Linda dan Robert berjalan masuk ke ruang tamu.



Dia duduk di atas sofa, sepasang kaki disilangkan, ada aura yang begitu tenang. Dia bertanya dengan datar, “Sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan Lion? Bagaimana dengan kakekku?”



“Tuan besar tidak apa-apa.” kata Robert dan segera berjalan ke hadapan Edgar.



Mendengar ini, Edgar merasa lega. Bibir tipis yang seksi dirapatkan dan bertanya dengan suram, “Robert , sebenarnya ada apa?”



“Ketika aku pulang dari Perancis, semuanya sangat normal.” Robert sambil berpikir sambil berkata, “Tidak lama kemudian, mendadak beredar kabar pesawat Anda jatuh.



Ketika kabar beredar, seluruh kota heboh. Semua orang begitu panik, terutama Tuan besar, dia mencari banyak tim penyelamat untuk mencari kalian.

__ADS_1



Namun keesokan harinya, Tuan besar tidak muncul. Bagas Lin mengatakan serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit.”



“Serangan jantung?” Edgar mengernyitkan alis.



Dia tahu kakek memang ada penyakit jantung, tetapi terus minum obat selama bertahun-tahun, dan dikendalikan dengan sangat baik.



“Em.” Robert mengangguk dan melanjutkan, “Bagas mengatakan karena kamu hilang, jadi Tuan besar menerima rangsangan ditambah dengan kelelahan selama berhari-hari. Aku pergi ke rumah sakit menjenguknya , namun dihadang oleh Bagas ”



“Bagas tidak membiarkanmu menemui Kakek?” Bibir Edgar dirapatkan menjadi satu garis.



“Iya. Dia mengatakan kalau Bapak perlu istirahat dengan tenang, tidak boleh diganggu oleh siapapun.” Wajah Robert juga menjadi dingin.



“Kalau begitu bagaimana kamu tahu kalau Kakek tidak apa-apa?” tanya Linda.



Sesuai perkataan Robert , Bagas mengurung Tuan besar . Kenapa dia begitu yakin kalau Tuan besar tidak apa-apa?



“Begini,” Robert menjelaskan, “beberapa hari itu aku di satu sisi menyuruh tim penyelamat untuk melakukan pencarian di atas laut, tetapi lingkup jatuhnya pesawat tidak bisa dipastikan, kesulitan sangat besar.



Satu sisi lainnya, aku juga memikirkan berbagai cara pergi ke rumah sakit hendak kontak dengan Bapak. Namun orang Bagas menjaga dengan sangat ketat. Aku tidak berani sembarangan, takut dia panik dan melukai Bapak .”



Linda bertanya lagi, “Kemudian?”



Robert mengeluarkan selembar kertas dari dalam kantong jasnya dan menyerahkan kepada Edgar, “Disaat aku tidak tahu harus bagaimana, ada seorang suster yang menyerahkan kertas ini padaku.”



Jari tangan Edgar yang panjang menerima kertas dan melihatnya. Nampak serangkaian kode morse tertentu tertulis di sana.



Diterjemahkan menjadi, “Waspadalah pada Bagas , segera temukan Edgar.”



Edgsr kenal ini adalah tulisan kakek.



“Aku mencoba menghubungi suster itu namun tidak berhasil.” Robert kembali melanjutkan, “Dari luar, perusahaan baik-baik saja, tetapi sejak hari itu, Bagas sudah menggantikan posisi CEO sementara, dan mengatasi semua urusan perusahaan Lion”



“Dikatakan begitu, Bagas sudah memantau posisi CEO perusahaan sejak lama.” Sepasang mata Edgar terlintas rasa paham, intuisi dia memang tidak salah.



Bagas telah melakukan banyak hal dengan sengaja, takutnya jatuhnya pesawat dia juga ada hubungan dengannya.



Robert melanjutkan berkata, “Dia masih mencoba menyogokku. Ini masih tidak termasuk, hari ini dalam rapat dewan direksi, Bagas mendadak mengumumkan dia akan menjabat CEO perusahaan. Dua hari lagi akan mengadakan konferensi pers.”



Edgar tersenyum sinis, “Ekor rubah Bagas akhirnya tidak bisa disembunyikan.”



“Aku takut sekali beneran terjadi sesuatu dengan CEO, Tuan besar juga tidak jelas di mana. Aku ingin mencari orang untuk berunding juga tidak ada. Untung saja sekarang Anda dan Nona sudah kembali.” desah Robert.

__ADS_1



Beberapa hari ini, dia berperang kecerdikan dan keberanian dengan Bagas , sungguh lelah sekali.


__ADS_2