
"Selama ini aku tidak pernah membohongimu." Linda berbicara dengan lembut.
Baru selesai Linda berbicara. Tiba-tiba tangan Edgar terulur merangkul pinggangnya.
Seketika hawa panas terasa dari pinggangnya. Edgar menggunakan sedikit tenaganya dan Linda langsung terbawa ke atas sofa.
"Edgar, apa yang kamu lakukan?" Linda bertanya dengan nada dingin saat tubuhnya telah jatuh ke pelukan Edgar.
Kedua tangan Edgar menekan pundak Linda lalu berkata dengan ekspresi datar, "Kenapa kamu tidak pernah memberitahu jika kamu adalah Bos Star Entertainmen. Dan kamu juga adalah Nona muda yang dikejar-kejar oleh Jonatan "
"Kamu tidak ada hubungan denganku. Jadi aku rasa tidak ada kewajiban untuk memberitahumu." Ucap Linda.
Wajah Edgar yang semulanya sudah muram menjadi semaking tegang.
Kedua tangannya sedikit menggunakan tenaga, dan dia memberikan sejumlah pertanyaan kepada Linda, "Aku tidak ada hubungan denganmu? Kalau begitu, apa hubunganmu dengan Jonatan ? Ada hubungan apa antara kamu dengan Jonatan ?"
Dihadapi dengan pertanyaan Edgar, Linda semakin tak berdaya, "Masalah ini aku sudah menjelaskannya kepada semua orang hari ini, aku tidak ingin mengulanginya lagi."
Wajah Edgar semakin menegang, "Apakah kamu dan Jonatan benar hanya sebatas rekan kerja?"
"Jika aku ada hubungan lain dengannya, mengapa hari ini aku tidak langsung menyetujui lamarannya? Dan untuk apa masih harus mencari berbagai alasan?" Linda menjawab dengan sedikit kesal.
Mendengar jawaban Linda, hati Edgar terasa lega.
Benar juga, kenapa tidak aku pernah terpikirkan olehnya?
Hanya di depan Linda lah Edgar menjadi bodoh.
Tetapi, teringat ketulusan Jonatan kepada Linda? yang mengejarnya selama dua tahun membuat hati Edgar sedikit gelisah.
Apalagi, malam ini seharusnya dia ingin melamar kembali Linda. Tetapi malah meninggalkannya dan pergi bersama Jonatan ke acara pembagian penghargaan.
Bukankah ini artinya.... dalam hati Linda, kedudukan Jonatan jauh lebih tinggi dari dirinya?
"Linda, ayo ikut denganku." Edgar tiba-tiba berdiri dan menarik tangannya.
Linda terkejut, "Pergi kemana?"
"Kamu akan tahu jika mengikutiku." Edgar tidak ingin terlalu menjelaskan, dia langsung menarik Linda menuju pintu utama.
Linda sempat menolak, "Edgar, malam ini aku sangat lelah, aku tidak ingin pergi kemana-mana."
Edgar menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Linda.
Melihat Linda yang terlihat lesu dan juga mengingat dia menghadapi wartawan semalaman juga pasti lelah. Edgar berkata dengan lembut, "Kalau begitu besok saja."
Linda sedikit kebingungan dengan perubahan Edgar dan dia hanya berdiam.
__ADS_1
Jakun Edgar naik turun. Tiba-tiba dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan menunduk ke arah telinga Linda "Linda, tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, kembalilah ke sisiku."
Kelembutan yang tersebar diwajah membuatnya sedikit merasa geli.
Linda kesulitan bernafas. Dia mendorong Edgar, "Sudah larut malam, aku ingin istirahat."
Linda, langsung berjalan kearah pintu keluar, membuka pintu dan memberinya perintah, "Silakan pulang!"
Melihat wajah Linda yang tidak menyambutnya itu membuat Edgar menautkan alisnya dan sedikit muram.
Detik selanjutnya, Edgar tiba-tiba memegang dadanya, dengan susah payah dia berkata, "Aku sangat kesakitan."
"Kamu kenapa?" Linda sedikit terkejut
Edgar dengan muka pucatnya serta keringat dingin yang keluar dari dahinya sambil menekan dadanya dengan sangat tersiksa berkata, "Disini terasa sakit sekali..."
Melihat Edgar begitu. Linda dengan panik menopangnya.
"Biar aku periksa." Linda memapahnya ke sofa untuk duduk, tanpa sadar sangat khawatir dengan kondisi Edgar.
Edgar menaikan sudut bibirnya, "Apa kamu mengkhawatirkanku?"
Linda tidak mempedulikannya. Tangan kanannya terulur untuk memeriksa Edgar.
Apa mungkin dia hanya pura-pura sakit?
"Disini." Edgar masih menunjuk dadanya dan menampilkan ekspresi kesakitan.
Linda berdiri, mengambil ponselnya, seakan-akan ingin menelepon, "Jika kamu tidak sehat, aku akan menelepon 120 untuk mengantarmu ke rumah sakit."
"Kamu cukup memeriksa aku saja." Edgar menarik lengan Linda, dengan tatapan dalamnya, "Aku hanya ingin diperiksa olehmu."
Linda : .....
Apakah mungkin dia hanya pura-pura sakit?
Kelihatannya dia hanya berpura-pura!
"Sudah, aku sudah membantumu periksa, tidak ada masalah apa-apa, kamu cepat pulang sana!" Linda dengan kasar menarik lengan yang ditahan Edgar.
Edgar dengan pura-pura terlihat kesakitan berkata, "Aku sudah sakit seperti ini, kamu masih mengusirku?"
"Sebenarnya kamu sakit apa?" Linda bertanya dengan ketus, "Aku melihatmu seperti tidak sakit sama sekali."
Tiba-tiba Edgar berdiri, melihat Linda dengan pandangan yang tak bisa diartikan serta mengeluarkan suara bas nya yang merdu bagai alunan biola, "Sakit rindu."
Kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Hanya kamu yang bisa menyembuhkanku."
__ADS_1
Perkataannya sangat menyentuh sekali....
Wajah Linda langsung berwarna merah tomat.
"Malas mengurusimu." Linda menghela nafas dan mendorong Elson Huo menjauh.
Edgar dengan berlebihan, "Hatiku sakit sekali! tolong selamatkan aku...."
"Kamu ingin apa sebenarnya?"Linda kehabisan kata-kata melihat Edgar yang dengan pura-puranya terbaring kesakitan.
Edgar menggerakan bibirnya, sambil mengedipkan matanya, "Malam ini aku ingin menginap disini."
"Terserah kamu." Linda idak ingin meladeninya lagi.
"Kamu bantu aku untuk naik ke atas tempat tidur." Edgar dengan sengajanya berucap.
Linda memutar bola matanya, "Jangan semakin keterlaluan."
"Dokter ada tanggung jawab untuk merawat pasien." Edgar menahan lengan Linda dengan tangan panjangnya.
"Tidur saja kamu di sofa!" Linda mendorong Edgar ke sofa, dan dia langsung beranjak pergi.
Selanjutnya, Edgar langsung berdiri dan langsung menggendong Linda.
"apa yang kamu lakukan?!" Linda tanpa pertahanan, langsung diangkat dan terjatuh kedalam gendongan Edgar.
Edgar mengabaikan penolakan Linda, langsung menggendongnya menuju tempat tidur dan menahannya.
"Lepaskan aku!" Linda berusaha melepaskan diri darinya.
"Linda, jangan bergerak, biarkan aku memelukmu." Edgar memeluknya dengan erat.
Sudah berapa lama dia tidak merasakan perasaan seperti ini?
Semenjak Lalita hadir. Linda langsung membatalkan pernikahan mereka dan selalu menjaga jarak dengannya.
Kedua lengan kuat Edgar menjepit Linda dengan sangat erat.
Kedekatan mereka yang tidak berjarak membuat Linda kebingungan.
Perasaan yang tidak dapat disangkal membuat jantungnya ingin berdetak meloncat keluar.
Atau bisa dikatakan, dia belum pernah melupakannya.
Edgar menundukan kepalanya, tanpa sadar dia ingin mencium bibirnya.
Melihat muka Edgar yang tidak asing itu membuat jantung Linda berdetak kencang.
__ADS_1