
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Linda merasa sedikit tidak berdaya. Dia tidak pergi, Edgar juga tidak beranjak.
Sedangkan Edgar yang sedang duduk di sebelahnya sepert itu, membuatnya tidak dapat konsentrasi bekerja.
Maka dia hanya bisa mengikuti Edgar dan pulang ke rumah sama-sama.
Mereka berdua berjalan memasuki lift. Lift berdenting, kemudian pintunya tertutup.
Linda barus aja hendak mengulurkan tangan dan menekan -1. Tuba-tiba terdengar suara tik-tik dari lampu langit-langit lift. Setelah berkedip-kedip beberpa kali, tiba-tiba ruangan lift menjadi gelap gulita.
"Ah!" Linda tidak bisa menahan diri untuk berteriak.
Dia takut akan kegelapan. Sejak kecil, dia takut.
Ada perasaan paranoid ketika lampu itu padam. Rasanya seperti ada yang melilit dan mengikat kedua kaki dan tangannya.
Linda berjongkok. Kepalanya seperti dipenuhi bintang-bintang, tetapi dia tidak dapat menggapai apa-apa.
Pada saat Linda merasa ketakutan dan kehilangan harapan, ada bunyi suara Edgar yang sangat memikat di dekat telinganya: "Jangan takut."
Edgar mengulurkan tangannya yang kuat. Tanpa ragu, dia merangkul Linda ke dalam dekapannya. Bibir tipisnya menempel pada kedua bibirnya, lalu berkata dengan lembut: "Jangan takut. Ada aku di sini."
Suaranya bagaikan lampu terang di dalam kegelapan. Memberikan Linda perasaan yang hangat dan terang.
Keputusasaan dan ketakutan dalam hatinya lenyap dalam seketika. Linda bersandar pada dekapan Edgar. Dia merasa sangat tenteram.
"Apa yang terjadi?" Linda mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaaanya. Kemudian dia mulai bertanya.
"Sepertinya lift-nya sedang bermasalah." Edgar mengambil ponselnya lali menerangi tempat itu. Kemudian dia bicara sambil mengerutkan alisnya.
"Kalau begitu, bagaiamana dengan kita?" Linda mendekap pundak Edgar erat-erat. Dia bertanya dengan khawatir.
Dia tidak akan terkurung di dalam lift sempit yang gelap gulita ini sepanjang malam, 'kan?
Melihat Linda yang bersandar di dalam pelukannya seperti anak kecil, Edgar menyunggingkan ujung bibirnya.
Tidak disangka, Linda yang begitu tegar dan mandiri, juga memiliki sisi lemah seperti ini.
Linda yang seperti ini, terlihat lemah dan kasihan. Membuat Edgar sangat ingin melindunginya.
Edgar menghirup aroma tubuh Linda dalam-dalam. Kedua tangannya merangkulnya dengan erat.
Rasa yang begitu familiar sekali lagi memenuhi seluruh sel dalam tubuh Edgar.
__ADS_1
Apakah Linda dan Candy benar-benar bukan orang yang sama?
Mengapa mereka berdua sama-sama memberikan perasaan yang begitu mirip padanya?
Melihat Edgar terdiam dan hanya memeluknya dengan erat, Linda sedikit menengadahkan kepalanya dan berkata: "Edgar?"
Edgar kembali tersadar, lalu berkata dengan suara berat: "Aku akan menghubungi petugas keamanan agar mereka mencari orang untuk memperbaikinya."
Segera, petugas perbaikan datang dan memperbaiki lift.
Diiringi suara lantang, lampu lift kembali menyala. Cahaya kembali memenuhi seluruh isi lift.
"Apa kamu baik-baik saja?" Edgar menunduk menatap wanita yang berada dalam pelukannya.
Linda baru sadar dirinya menempel erat pada pelukan Edgar. Yang lebih gawat lagi, tidak tahu sejak kapan lengannya merangkul lehernya. Seolah seluruh dirinya sedang bergantung pada tubuhnya.
Pose ini benar-benar sangat mesra.
Dengan canggung, Linda cepat-cepat melepaskan Edgar. "Maaf. Aku takut akan kegelapan, maka..."
Edgar menatap Linda dalam-dalam. Dengan suara berat, dia berkata: " Candy juga takut akan kegelapan."
Candy?
Jadi, barusan ini, Edgar kembali menganggapnya sebagai Candy?
Linda memanyunkan bibirnya. Baru saja ingin mengatakan sesuatu, dia mendengar suara Edgar berbunyi di pinggir telinganya: "Linda. Apakah kamu benar-benar bukan Candy?
"Tentu saja bukan!" Linda mendorong Edgar keras-keras. Nadanya sangat yakin: "Edgar. Sebelumnya di kediaman lama, aku sudah mengatakan dengan sangat jelas padamu. Aku bukan Candy. Aku juga bukan pengganti Dia!"
Di dalam mata Edgar yang terdalam, tampak kefrustrasiannya. Dia mengangguk tanpa ekspresi, dan berkata: "Ayo, pulang."
Di Charming Bar.
Bruce mengajak beberapa teman untuk minum-minum di ruang VIP bar.
Nia terus mengikuti Bruce sampai ke Charming.
"Bruce." Nia mendorong pintu ruang VIP hingga terbuka dan berjalan masuk.
Bruce mengerenyitkan alisnya. "Untuk apa kau datang?"
"Bruce, beberapa hari ini mengapa kamu menghindariku?" Nia An duduk di sisi Bruce dengan wajah minta dikasihani. "Kamu tidak mengangkat telepon. Aku mencarimu ke hotel, tetap kamu tidak pernah ada."
"Kita sudah putus," kata Bruce dengan sangat dingin.
__ADS_1
"Tidak, Bruce. Apakah kamu benar-benar memutuskan aku tanpa perasaan seperti itu?" Nia An menyandarkan tubuhnya pada Bruce. Dia berkata dengan tidak rela: "Apa kamu lupa, betapa bahagianya kita, saat kita bersama? Bruce. Kamu pernah berkata akan mencintaiku untuk selamanya. Mengapa kamu begitu tidak punya perasaan?"
Bruce mendiring Nia dengan tidak sabaran. "Nia . Aku akan berkata untuk yang terakhir kalinya. Kita sudah putus!"
"Mengapa! Bruce, mengapa kamu begitu tega padaku!" Mata Nia memerah. Dia mengangkat matanya dan menatap pria tinggi tampan yang ada di hadapannya.
Dia tidak rela. Sebelumnya, mereka berdua bak-baik saja. Tetapi baru beberapa hari saja, Bruce meminta untuk putus dengannya dan sama sekali tidak meninggalkan perasaan apa-apa padanya.
Semua ini salah Linda!
Kalau bukan karena Linda, Bruce tidak akan putus darinya.
"Nia . Aku tidak ingin melihatmu lagi." Bruce bangkit berdiri. Dia berkata dengan dingin, kemudian berjalan keluar dari ruang VIP tanpa menoleh ke belakang.
Nia mengejarnya dan mearik lengan Bruce. "Bruce, jangan bersikap seperti itu. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku mohon padamu. Kami pasti akan saling mencintai seperti dulu lagi..."
"Cukup! Jangan ikuti aku lagi!" Bruce menarik lengannya dengan tidak sabar, lalu cepat-cepat pergi.
Nia berdiri dalam keadaan tidak stabil, lalu dia terhempas dengan keras ke atas lantai. Mengenaskan sekali.
Tidak jauh dari sana, Milla dan Lenira berjalan masuk ke dalam bar.
"Bukankah itu Nia An?" Tatapan mata Milla terarah pada Nia.
Lenira mengangguk. "Benar. Mengapa dia menjadi begitu mengenaskan?"
Lalu Milla mengalihkan pandangannya: "Semakin mengenaskan, semakin baik."
Lenira tampak mengerti sesuatu: "Milla. Maksudmu..."
Milla menyunggingkan ujung bibirnya. "Kita lihat ke sebelah sana."
Nia ingin bangkit berdiri, tetapi tiba-tiba ada suara seorang wanita yang terdengar dari hadapannya: "Nona Nia . Apa kamu baik-baik saja?"
Nia mengangkat kepalanya. Dia melihat Mila berdiri di hadapannya sambil mengulurkan tangan.
"Terima kasih. Aku baik-baik saja." Nia menarik uluran tangan Mila , kemudian bangkit berdiri.
Lenira berjalan mendekat dan berpura-pura khawatir: "Nona Nia An. Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu berada dalam keadaan yang begitu menyedihkan?"
Mengingat Bruce yang sama sekali tidak berperasaan padanya, hidung Nia terasa pedih. Seperti ada asap kabut melapisi pandangannya: "Bruce mau memutuskan hubungan denganku..."
"Mengapa begitu?" Milla elas-jelas tahu alasannya, tetapi dia tetap bertanya.
"Linda. Semua karena Linda" Nia mengeratkan giginya. "Kalau bukan karena dia, Bruce mana mungkin putus dariku?"
__ADS_1
"Ternyata Linda penyebabnya." Lenira tampak seolah sangat terkejut. "Dia memang licik seperti air. Rubah penggoda para pria. Nona Nia. Sesungguhnya, hal ini cukup mudah untuk dihadapi. Asalkan Bruce mengetahui wajah asli Linda, dia pasti akan kembali ke sisimu."