
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Edgar hanya merasa bagian dada kirinya terbelai lembut, ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkannya secara langsung olehnya.
Dia mulai salah tingkah, ingin sekali rasanya meraih tangan Linda.
Begitu Edgar mulai menggerakkan tangannya, Linda justru mengira bahwa dia mulai sedikit tidak sabaran sehingga Linda berusaha mencegahnya untuk tidak menyentuh bagian lukanya, "Jangan bergerak, sebentar lagi akan selesai."
Edgar semakin tegang begitu merasakan sentuhan dari telapak tangan Linda, lalu dia mencoba untuk menganggap biasa dan mengucapkan rasa terima kasih dengan lembut, "Terima kasih ya, Lin."
Lin?
Linda menengadahkan kepalanya karena merasa heran, baru kali ini Edgar memanggil namanya dengan begitu akrab.
Tapi, bukankah itu juga hanya panggilan biasa? Lantas kenapa terdengar ada yang spesial begitu dia yang menyebutnya?
"Lin, apakah sebelumnya kita memang tidak pernah berjumpa?" Tiba-tiba Edgar menanyakan sesuatu dengan gayanya yang mengangkat bagian dagu Linda seolah sedang ingin memastikan sesuatu.
Entah kenapa, dia merasa wanita yang sedang berada di hadapannya saat ini terasa begitu dekat dan familiar, dia selalu merasa bahwa Linda adalah wanita yang selama ini selalu ada dalam ingatannya -- Candy.
__ADS_1
Jarak diantara mereka berdua begitu dekat, sehingga sangat memungkinkan untuk Edgar mengecup keningnya ketika dia hendak menundukkan kepalanya, terlebih lagi saat itu Linda dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Edgar.
Panggilan akrab ‘Lin’ dii telinganya seperti mengandung sebuah keakraban yang berbeda.
Linda pun tercengang, tatapannya fokus memandang Edgar.
Kenapa dia selalu menanyakan hal aneh seperti ini?
Bagaimana mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya?
Tangan Linda menggosok-gosok bagian pelipisnya, seolah benar-benar ingin mengingat dirinya. Sayangnya, Linda sama sekali tidak memiliki ingatan apapun tentang seseorang yang menyerupai Edgar.
Linda pun yakin, sebelumnya, dia tidak pernah sama sekali ada interaksi sedikitpun dengan Edgar, bagaimana mungkin bisa bertemu sebelumnya. Tidak pernah.
Lalu dia segera tersadar dari tanda tanya yang terus berputar di pemikirannya sendiri, dan tersenyum, “Tentu saja tidak. Kamu lupa kalau aku selalu tinggal di kampung? Bagaimana mungkin kita bisa berjumpa?”
“Oh, begitu ya.”Jawab Edgar sambil berpikir dengan perasaan kecewa yang terpancar dari dasar matanya.
“Ya sudah, kamu jangan terlalu banyak berfikir berat dulu, ini saja aku belum selesai membalut lukamu.” Sahut Linda sambil terus menundukkan kepalanya, membalut luka Edgar dengan serius.
Lima menit kemudian, akhirnya perban itu terbalut sempurna,Linda pun menarik nafas lega.
__ADS_1
Meskipun kondisi luka Edgar cukup mengeluarkan banyak darah, tapi itu hanya sekedar luka kulit saja, cukup ke rumah sakit untuk memberikannya desinfeksi, lalu kembali diperban untuk beberapa waktu, dibantu dengan sedikit resep obat anti-nyeri, seharusnya akan baik-baik saja.
Masalahnya adalah, sepertinya cedera serius dialami di bagian kaki Edgar.
Linda membereskan kembali kotak obat miliknya, “Barusan aku hanya membantumu untuk melakukan pertolongan pertama saja, untuk pengobatan lanjutan, memang sebaiknya kamu memeriksanya ke rumah sakit. Ayo, aku antarkan.”
Mata Edgar berkedip, “Kamu bisa nyetir?”
Linda mengangguk, “Hmm, bisa dong.”
Langkah mereka perlahan menuju mobil yang akan dikendarai. Limda yang duduk di bagian pengemudi, menginjak pedal gas dengan begitu terampil, melaju menuju rumah sakit.
Sementara Edgar yang duduk di kursi penumpang bagian depan, hanya terus mengelus-elus bagian kakinya yang cedera setelah menerima tendangan dari Linda , lalu memulai percakapan, “Kenapa kamu tadi menendangku? Apa kamu ingin membunuh suamimu?”
“Apa?” Linda memelototi Edgar yang duduk di sampingnya, dan melanjutkan kata-katanya dengan sedikit kesal, “Awalnya aku berencana untuk menendang Herli, aku tidak tahu bahwa kamu akan datang menghadang. Kalau saja kamu tidak datang, aku pasti sudah menendang dan mengalahkan Herli.”
“Iyakah?” Tatapan Edgar penuh tanda tanya.
Tendangan Linda begitu kuat. Rasa-rasanya, tidak ada wanita yang memiliki kemampuan setangguh dia, bahkan saat itu, dirinya pun tidak bisa menghindari tendangannya.
Jadi, apakah calon istrinya ini adalah seorang master beladiri?
__ADS_1