
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Saat petugas pencahayaan melihat bahwa Edgar setuju, dia segera menganggapi perintah itu dan berjalan menuju panel saklar di sisinya, lalu membuka lampu.
Pertama, dia mengarahkan sorotan cahaya dingin pada kancing-kancing di punggung Nia An. Kemudian, segera terlihat pantulan kilauan cahaya putih dari kancing tersebut.
Setelah beberapa saat, sorotan lampu berubah warna menjadi merah. Lalu, pantulan warna pada kancing itu juga ikut berubah warna menjadi merah. Mereka tampak seperti sekumpulan bara api ang membara di atas gaun.
Linda menyunggingkan senyumannya: "Kalian semua sudah menyaksikannya. Karena di atas kancing berlian dilapisi dengan bahan khusus seperti itu, maka warnanya dapat berubah seiring cahaya."
"Baiklah. Sekarang, petugas dapat menyoroti tangan Nia ." Linda mencengkeram kedua tangan Nia An erat-erat sambil berkata demikian pada petugas pencahayaan.
Isi kepala Nia An kosong melompong. Kedua tangannya gemetaran.
Ternyata apa yang dikatakan Linda benar. Kancing itu benar-benar dilapisi oleh bahan khusus yang dapat berubah warna seiring dengan berubahnya cahaya.
__ADS_1
Sekarang apa yang harus dia lakukan?
Nia An berusaha meronta sekuat tenaga. Tapi Linda mencengkeramnya dengan sangat erat. Dia sama sekali tidak dapat melepaskan diri.
Petugas pencahayaan menyoroti tangan Nia An. Saat ia berubah menjadi cahaya dingin, telapak tangan Nia An muncul pantulan-pantulan sinar putih.
Saat orang-orang sedang menyaksikan dengan takjub, Linda menjelaskan: "Karena baru saja Nia An menggunting, menyentuh dan menggenggam kancing itu erat-erat, kemudian membuangnya ke dalam lubang kloset. Maka bahan khusus itu menempel pada tangan Nia An. Saat terkena sorotan cahaya, warnanya akan berubah."
Seiring dengan isyarat dari Linda, petugas pencahayaan mengubah sorot cahayanya menjadi cahaya hangat. Cahaya putih yang terpantul dari tangan Nia An berubah menjadi merah seperti sihir.
Semua orang yang menyaksikannya di sana merasa takjub melihat tangan Nia An.
Sekarang kenyataan yang telah terjadi, begini adanya. Aku percaya kalian semua bisa menyimpulkan dengan jelas."
Orang-orang yang menyaksikan mereka mengangguk-angguk: "Tidak disangka Nia An pelakunya!"
"Mengapa dia harus berbuat seperti ini?"
__ADS_1
"Hati orang tidak tampak dari wajahnya. Sekarang dia kena batunya sendiri."
Menghadapi tudingan banyak orang, wajah Nia An langusng menjadi pucat.
Tatapan mata Linda yang dingin dan tajam terarah lurus pada Nia An. "Dasar keras kepala. Apakah masih ada hal lain yang akan kamu katakan?"
"Tidak. Ini tidak mungkin. Ini tidak benar." Suara Nia An terdengar bergetar.
Mengapa bisa seperti ini?
Jelas-jelas ini adalah rencana yang sempurna. Mengapa Linda bisa tahu? Bagaimana dia mengetahui bahwa ada bahan khusus yang melapisi kancing itu?
"Linda. Pasti kamu. Kamu sengaja mencelakakan aku, kan?" Nia An berteriak tidak puas.
"Kalau tidak mau ketahuan orang lain, jangan melakukannya sendiri. Karena kamu berani melakukannya, kamu harus berani menanggungnya." Linda tertawa dingin. Dia melepaskan tangan Nia An.
"Nia An. Kamu benar-benar membuatku kecewa." Bruce berjalan ke hadapan Nia An. Matanya yang biru itu dipenuhi dengan kekecewaan.
__ADS_1
Tadinya, dia memang kurang setuju Nia An menjadi representatif. Hanya karena Nia An terus-menerus memaksanya, maka dia juga ingin memberi Nia An satu kesempatan.