Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 176


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


“Pak Bagas.” sapa Linda.



Bagas hanya melihat Linda dengan dingin dan langsung memasuki ruangan kantor CEO.



Mendengar suara langkah kaki, Edgar mendongak melihatnya.



Melihat Bagas berjalan masuk, Edgar menyapa dengan datar, “Paman , ada apa mencariku?”



“Edgar.” Bagas mengeluarkan handphone dan meletakkan di depan Edgar. Nada suaranya menyalahkan, “Harga saham perusahaan selama beberapa hari ini sudah turun sepuluh poin, apakah kamu tahu?”



Edgar mengaitkan bibir dan berkata suram, “Tahu, aku akan mengatasinya.”



“Bagaimana kamu mengatasinya?” Bagas mengernyitkan alis melihat Edgar, “Kita tahu kenapa harga saham perusahaanbisa turun, sebenarnya sangat mudah menyelesaikan masalah ini.”



“Oh? Paman ada saran apa?” Edgar bersandar ke belakang dan melihat Bagas sekilas dengan datar.



Bagas adalah anak adopsi Tuan besar Lion, lebih muda dua tahun dari Gusti. Sejak kecil tumbuh besar bersama Gusti , hubungan mereka berdua sangat baik.



Kemudian membantu Gusti dalam pengelolaan perusahaan Lion dan membantunya melakukan banyak hal.



Setelah Gusti meninggal, Bagas pernah menjabat sebagai CEO perusahaan Lion. Namun kemudian, Tuan besar Lion tetap menyerahkan perusahaan Lion kepada Edgar dan menyuruh Bagas menjabat sebagai wakil CEO.



Beberapa tahun ini, perusahaan semakin berkembang dalam pimpinan Edgar, dan Bagas berangsur mundur ke kursi belakang.



“Bunuh satu sebagai peringatan untuk seratus orang, pecatlah Linda.” Bagas berkata suram, “Sebagai penanggung jawab proyek, Linda melalaikan tugas dan terjadi celah yang begitu besar. Hanya dengan memecatnya barulah bisa mengembalikan reputasi perusahaan ”



“Iyakah?” Mata Edgar menjadi dingin dan wajah tampannya berubah menjadi tajam.



Maksud Bagas ingin mendorong semua tanggung jawab pada Linda dan menjadikan Linda sebagai kambing hitam.



Situasi sekarang memang adalah cara yang bisa menyelesaikan masalah mendesak.



Namun tidak akan bisa menyelesaikan masalah akar.



Sekalipun Linda bukan penanggung jawab, Edgar juga tidak akan atau tidak mau melakukannya.


__ADS_1


Melihat Edgar terdiam, Bagas langsung menyerahkan sebuah dokumen kepada Edgar, “Pecat Linda adalah pendapat dari beberapa anggota dewan direksi setelah perundingan, di atas ada tanda tangan.”



Jari tangan yang panjang menerima dokumen, Edgar melihat sekilas, di atas ada beberapa tanda tangan pemegang saham, dan yang berada di urutan pertama adalah Ibunya.



“Ini maksud ibuku?” kata Edgar dengan pelan dan mengernyitkan alis.



“Adalah maksud Nyonya juga adalah maksud kami semua.” Menghadapi aura Edgar yang kuat, Bagas menggosok matanya dan melanjutkan, “Kami harus bertanggung jawab terhadap pemegang saham, harus segera menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan kerugian.”



Jari tangan Edgar mengetuk permukaan meja. Sepasang kaki panjangnya disilangkan dengan asal. Meskipun duduk, malah memberikan orang tekanan yang tak nampak.



Dia melihat pada Bagas dan nadanya begitu tajam dingin, “Paman,aku sangat setuju dengan yang kamu katakan kalau kita bertanggung jawab terhadap pemegang saham, juga sangat setuju untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat, tetapi cara penyelesaiannya bukanlah memecat Linda.”



“Edgar, kamu ....” penolakan Edgar membuat wajah Bagas jadi berubah.



Dia hendak mengatakan sesuatu, namun dipatahkan Edgar dengan tidak sabar, “Paman , masalah ini akan saya atasi, di sini tidak ada urusanmu, kamu keluar dulu.”



Edgar tidak memberikan harga diri sedikitpun, Bagas tidak tahan merasa kesal.



Di depan Edgar dia juga tidak enak menunjukkannya, hanya mengernyitkan alis berkata, “Edgar, aku dan ibumu semua demi keuntungan perusahaan , berharap kamu jangan menyesal.”



Edgar mendengus dingin dan tidak mengatakan apa-apa lagi.




Dulu, dia sangat menghormati Bagas , tetapi sekarang, dia semakin tidak memahami Bagas.



Kembali ke tempat duduk, Linda kembali mendesak penanggung jawab pengujian pabrik perhiasan pusat kota A untuk mengirimkan hasil pengujian kepadanya.



Setengah jam kemudian, hasil sudah keluar.



Sama dengan dugaannya, perhiasan “Ice and Fire” yang diproduksi pusat tidak ada masalah apapun.



Linda merasa lega, kelihatannya masalah memang benar muncul di Perancis.



Linda membereskan data dengan kecepatan tercepat, lalu membawakannya untuk Edgar.



Semua data ini sangat penting untuk konferensi pers sore.



Tiba di pintu masuk ruangan kantor CEO, Linda kembali bertemu dengan Bagas.



Dia berjalan keluar dari ruangan kantor CEO dengan marah, wajahnya semakin buruk ketika melihat Linda.

__ADS_1



“Pak Bagas.” Linda tetap tersenyum dan menyapanya.



Bagas melirik Linda tanpa senyum dan pergi dengan cepat.



Linda mengetuk pintu, “Apakah aku boleh masuk?”



Edgar melengkungkan bibirnya dan suaranya jernih, “Masuk.”



Linda masuk, melihat Edgar memegang obat pilek yang Linda berikan untuknya. Sepasang mata yang jernih menatap erat pada botol obat, bibir tipis yang indah juga naik sebuah lengkungan yang misterius.



Mendengar suara, Edgar meletakkan botol obat, mata yang dalam melihat Linda dan berkata, “Linda , aku baru saja hendak mencarimu.”



Linda menyerahkan data di tangannya kepada Edgar, “Hasil penyelidikan sudah keluar, produksi ‘Ice and Fire’ pusat tidak ada masalah. Kelihatannya masalah hanya terjadi di Perancis.”



Edgar menerima data, namun hanya melihat sekilas dengan asal kemudian meletakkannya di atas meja kerja.



Linda kaget, sudah tahap ini, sore akan mengadakan konferensi pers menjelaskan masalah unsur radioaktif “Ice and Fire.” Semua data ini sangat penting, Edgar malah tidak melihatnya.



Linda mengernyitkan alis dan mengingatkan, “Apakah kamu tidak melihatnya? Semua data ini sangat penting untuk konferensi pers sore.”



“Aku tentu saja tahu.” Edgar tertawa pelan, “Tetapi aku masih ada hal yang lebih penting.”



Linda tercengang dan refleks bertanya, “Apa?”



Edgar menunjuk botol obat di atas meja dan matanya yang setengah tersenyum melihat wajah Linda, “Suapi aku minum obat.”



Linda ???



lelaki ini masih memikirkan ini semua!



Edgar mengaitkan bibir dan matanya tetap dingin namun terlintas sebuah senyuman yang ambigu, “Kamu tidak akan begitu kejam membiarkan aku yang pilek menghadiri konferensi pers kan?”



Linda berkata dengan kesal, “Kamu tidak boleh menggigitku lagi!”



Setelah mendapat persetujuan Edgar, linda mengambil botol obat di atas meja dan membukanya. Lalu menuang dua butir obat keluar dan memasukkan ke dalam mulut Edgar.



Mungkin obat sedikit pahit, jadi Edgar mengernyitkan alis dan berkata, “Aku mau minum air.”



“Kalau begitu minumlah.” Linda merapatkan bibir dengan waspada, lelaki ini ingin melakukan apa lagi?

__ADS_1


__ADS_2