Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 273


__ADS_3

Edgar mengenal mobilnya, Itu pasti mobil Jonathan .



"Linda, apakah kamu baik-baik saja?" Jonathan membuka pintu dan turun dari mobil, melihat wajah Linda yang terlihat sedang tidak baik-baik saja, tanya Jonathan dengan khawatir



Linda tersadarkan diri dan tersenyum menjawab Jonathan , "Tidak apa-apa."



“Ayo kita jalan!" Jonathan dengan lembut melakukan gaya seperti mengajak untuk naik mobillnya.



Linda mengangkat ujung bibirnya dan tetap tersenyum. lanjut dia naik ke mobil dan duduk di pas samping Jonathan .



Tidak jauh, Edgar melihat mereka yang berinteraksi dengan begitu dekat dengan mata yang dingin dan tajam.



Baru saja terjadi di lift, Linda bergantung erat kepadajya. Tetapi sekarang, dalam sekejap mata, dia sudah naik ke mobil Jonathan saja.



Linda, aku harus melakukan apa, agar kamu bisa balik lagi ke sisiku.



Setelah berdiri diam di lorong gerbang selama beberapa menit. Edgar balik ke tempat parkir, membuka pintu, dan memutuskan untuk memanasi mobilnya dan mengikuti mobil Jonathan .



Di kamar pasien.



Feli sangat cemburu setelah melihat Edgar mengejar Linda. Dia keluar dari kamar pasien dan mulai mengeretak kakinya dengan rasa kesal lalu berkata kepada Ibu , "Bibi, kamu lihat Kak Edgar, dia terpancing lagi dengan si wanita licik itu!”



Ibu kebingungan dan mengeluh, "Bukankah dia mengatakan bahwa dia baru saja menemukan Candy? Sekarang kenapa dia balik lagi dengan Linda? Ada apa?"



Lalita mau pun Linda, dua- duanya Ibu tidak begitu suka tetapi setelah dibandingkan, Linda sepertinya lebih menyebalkan menurut Ibu Lion.



"Heh, kalau aku lihat, sepertinya Kakak sepupu masih lebih suka Linda." Nada bicara Feli sudah tidak bisa menahan kecemburuannya. "Ini semua pasti kelakuan si perempuan licik itu! Yang membuat Kak Edgar begitu menyukainya."



Tidak tahu mengapa, Feli selalu memiliki rasa bahwa Linda adalah musuh atau saingan nomor satunya.



Kalau Candy, menurut Feli perasaan Edgar pada Candy itu tidak begitu istimewa seperti dirumor.



Selain itu, Lalita selalu terlihat lemah dan lembut jadi seharusnya tidak sulit untuk menang darinya.



Jadi sekarang, Feli masih memfokuskan semua perhatianya pada Linda untuk bersaingan dengan dia.



"Bibi, kamu harus menemukan cara untuk mengusir Linda" Wajah Feli mengatakanya dengan geram dan kesal.



Ibu menganggukan kepalanya dan mengatakan, "Tenang saja, aku pasti tidak akan membiarkan Linda menempel dengan Edgar lagi."



"Baiklah" Jawab Feli dengan kalem, "Bibi, aku balik ke sekolah dulu yaa."



Feli keluar dari pintu gerbang rumah sakit dan saat dimana Feli ingi pergi ke sekolah tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan didepanya.



Ketika Feli mengangkat kepalanya untuk melihat mukanya, dan ternyata itu adalah Bagas .



Feli sangat terkejut sekali melihat kehadiran lelaki didepanya ini, dan memanggil lelaki itu “Paman Lin?”



Sejak bagas Lin diusir oleh Tuan Besar , dia tampaknya seperti menghilang tidak ada kabar.


__ADS_1


Feli bertanya-tanya dan kebingungan mengapa bagas Lin bisa tiba-tiba datang kepadanya.



Bagas melepas kacamata hitamnya dan melihat ke arah rumah sakit. "Feli, apakah kamu memiliki waktu untuk berbicara sebentar?"



"Ya, ada." Feli menganggukan kepalanya.



Dia tidak tahu mengapa bagas tiba-tiba datang kepadanya, tapi dia tetap setuju untuk berbicara dengan Bagas karena hubungan antara Bagas dan Ibu.



Bagas membawa Feli ke sebuah kafe mahal.



Feli bertanya, "Paman Lin, untuk apa kamu datang menemuiku? Apakah ada masalah?"



"Feli, kamu sekarang sedang bersaing dengan Linda, bukan?" Tanya Bagas sambil minum kopinya dan langsung menuju ke poin pentingnya.



Feli ragu ragu dan terkejut setelah mendengarkan pertanyaan Paman Lin.



Bagas Lin tersenyum sambil mengangkat ujung bibirnya, "Feli, aku punya cara untuk membantumu."



"Benarkah?" Pandangan Feli langsung terlihat bersinar.



Bagas menggangukkan kepalanya, dan berkata “Tentu saja bisa. Tetapi ini semua butuh kerja sama kamu”



Feli dengan geram menjawab Paman Lin, “Asalkan bisa membuat wanita licik ini terusir, apapun pasti akan aku lakukan!”



Jonatan mengemudikan mobil hingga sampai di vila dia yang terletak pada sisi gunung di pinggiran kota.




Linda turun dari mobil, mengikuti dari belakang Jonatan dan berjalan ke vila.



Vila itu sangat sepi, kecuali mereka berdua, tidak ada orang lain.



Linda melihat sekeliling dan berkata dengan ragu, "Jonatan , bukankah kamu mengadakan pesta ulang tahun malam ini? Mengapa begitu sepi? Yang lain mana?"



“Tidak ada orang lain, hanya pesta untuk kita berdua.” Jonatan melirik ke arah Linda.



Pada hari yang penting di hari ulang tahunnya yang kedua puluh lima, dia hanya ingin menghabiskannya dengan wanita yang paling dia cintai.



Dan wanita ini adalah Linda.



Mata Jonatan yang dalam membuat Linda merasa sedikit tidak nyaman.



Dia memalingkan wajahnya, "Mengapa kamu tidak mengundang beberapa teman untuk meramaikan?"



"Aku tidak suka keramaian," kata Jonatan dengan nada yang dalam.



Taman vila di dekorasi dengan sangat romantis.



Cahaya bulan menyinari kolam, berkilauan.



Sebuah meja untuk dua orang ditempatkan di sebelah kolam renang, sangat indah dan elegan.

__ADS_1



Jonatan menyalakan lilin.



Di bawah cahaya lilin yang berkelap-kelip, Jonatan menatap dalam ke arah Linda, "Linda,apakah kamu menyukai makan malam dengan cahaya lilin yang aku siapkan untukmu?"



Linda tersenyum, "Hari ini adalah hari ulang tahunmu, asalkan kamu menyukainya."



“Aku sangat menyukainya.” Jonatan melengkungkan sudut bibirnya.



Perasaan bahagia bisa merayakan ulang tahun bersama gadis yang dicintainya memenuhi hati Jonatan.



“Ini adalah steak favoritmu, aku secara khusus menyiapkannya untuk kamu, kamu bisa mencobanya.” Jonatan mendorong steak di atas meja ke depan Linda.



“Terima kasih.” Mengambil pisau dan garpu di atas meja, Linda mulai melahapnya.



“Kenapa kamu tidak makan?” Melihat Jonatan hanya menatapnya dari dekat, Linda tidak bisa menahan diri untuk tidak berhenti.



“Aku tidak lapar.” Bibir Jonatan terangkat lembut.



Bisa dengan tenang melihat Linda seperti ini, baginya sudah merupakan hal yang paling membahagiakan di dunia.



Akan sangat bagus jika waktu bisa berhenti pada saat ini selamanya dan membiarkan dia memandangnya seperti ini selamanya.



“Ngomong-ngomong, bukankah kamu bilang kamu punya kabar baik untuk diberitahukan kepadaku?” Linda tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya.



Jonatan mengangguk, "Sebenarnya bukan apa-apa, aku memenangkan Golden Horse Awards untuk Aktor Terbaik tahun ini."



“Selamat.” Linda tersenyum senang.



Sebenarnya, ini juga merupakan hal yang wajar. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas Jonatan telah melonjak, dan dia memang layak memenangkan Golden Horse Awards untuk Aktor Terbaik.



“Maukah kamu menghadiri upacara penghargaan minggu depan?” Nada suara Jonatan sedikit berharap dan gugup.



“Tentu saja.” Linda menundukkan kepalanya dan memotong sepotong steak ke dalam mulutnya, memberi Jonatan jawaban yang pasti.



Jonatan mampu meraih kesuksesan sekarang ini, dan Linda pun turut berbahagia untuknya.



Selain itu, dia juga bos belakang layar di Star Entertainment.



Acara bahagia seperti itu, tentu saja harus berpartisipasi.



Jonatan melengkungkan sudut bibirnya dan berkata dengan suara yang dalam, "Aku sangat senang bisa berbagi kesuksesanku denganmu. Aku akan memberi kamu sebuah kejutan lagi kalau begitu."



“Ada kejutan lain?” Linda mengangkat alisnya.



“Ya.” Jonatan mengangguk dengan serius.



Dia bermaksud melamar Linda dengan sungguh-sungguh di depan semua orang pada upacara penghargaan, pada saat yang paling penting dan paling cemerlang dalam hidupnya.



Pada saat itu, di depan begitu banyak orang, Linda tidak bisa menolak secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2