
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Semua terjadi begitu saja, sangat mendadak.
Tidak ada yang menyangka bahwa Herli denga tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau tajam.
Menusuk langsung ke arah Linda tanpa ragu.
Linda sempat terdiam sejenak, ekspresinya membeku. Namun, tepat saat dia hendak menjulurkan kakinya menepis pisau itu, Edgar datang untuk menyelamatkan Linda, berdiri menghadang tepat di hadapannya.
"Awas, hati-hati! Itu sangat berbahaya!" Edgar terlihat begitu mengkhawatirkan Linda, dan berusaha dengan lembut mengingatkannya, meraih Linda ke dalam dekapannya, dan satu tangan sebelahnya, menepis tangan Herli yang masih membawa sebilah pisau tajam itu.
Linda pun terkejut dengan kedatangan Edgar yang tiba-tiba.
Karena tanpa sengaja, tendangannya mengenai tubuh Edgar
Tentu saja tendangan itu tidak ringan, sehingga membuat tubuh Edgar pun menjadi tidak seimang, disaat yang bersamaan, tajamnya pisau mengiris bagian punggung telapak tangan Edgar hingga terluka.
"Sshhh ..." Suaranya mendesis.
__ADS_1
Edgar merasakan rasa sakit yang bersamaan dari tendangan dan sayatan pisau itu.
Sebenarnya, bisa saja dia menepis sayatan pisau Herli, tapi yang membuat dirinya tak habis pikir ternyata, tendangan Linda pun datang bersamaan.
Membuat Edgar sedikit terkejut dan kehilangan kestabilannya.
"Edgar, kamu tidak apa-apa?" Tanya Linda sedikit merasa bersalah karena membayangkan betapa sakitnya tubuh Edgar.
Bagaimana dia tidak merasa bersalah, tendangan Linda barusan dia curahkan sepenuh tenaga untuk menghadapi serangan Herli.
Sayangnya, Edgar datang lebih dulu sebelum Linda sempat menghentikan tendangannya itu, walau dia sudah berusaha memelankan gerakannya. Pada akhirnya, tetap saja tendangan itu melayang di tubuh Edgar. .
"Aku tidak masalah." Jawab Edgar dengan muka yang berusaha tenang menahan perihnya luka sayatan pisau.
"Edgar, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu seperti ini." Herli turut terkejut melihat situasi ini.
Jelas-jelas yang ingin dicelakainya adalah Linda.
Tapi kenapa justru Edgar seperti sama sekali tidak memedulikan keselamatannya demi menyelamatkan Linda?
Dasar Linda pembawa sial! Kalau bukan gara-gara dia, Edgar tidak akan celaka seperti sekarang!
"Heh Linda ! Dasar kamu pembawa sial! Gara-gara kamu, Edgar terluka seperti ini!"
Bentak Herli sesuka hati. Baru saja dia ingin terus melabrak Linda, langkah kaki penjaga keamanan terdengar mendekat, tak lama kemudian, suaranyapun menghentikan niat Herli, "Pak Edgar, apakah Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
Linda bergegas menunjuk ke arah Herli, "Dia yang sudah melukai Pak Edgar hingga terluka, cepat tangkap dia!"
"Bohong! Bukan aku!" Herli bersikeras melepaskan genggaman mereka.
Kali ini, Linda tak ingin menghabiskan banyak waktu untuk meladeni Herli, dia segera mendekati Edgar, dengan penuh perhatian meraih tangannya yang terluka, "Tanganmu terluka cukup parah, aku akan ambilkan sedikit alkohol untuk menghentikan cucuran darahmu."
Sambil menahan sakit, Edgar menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka, "Di mobilku, ada kotak obat."
"Ayo, aku tuntun kamu sampai ke mobil." Linda terus menjaga Edgar agar tidak kesakitan.
Kalau bukan karena ingin menolong dirinya, Edgar pasti tidak akan terluka parah seperti ini.
Ya meskipun memang, Linda sama sekali tidak meminta Edgar untuk menolongnya.
Sesampainya mereka di mobil, Linda mencoba mendudukkan Edgar dengan perlahan, lalu meraih kotak obat yang Edgar maksud.
Ada beberapa obat-obatan di dalamnya, Linda memilih untuk mengambil alkohol dan kapas, dengan sepunuh hati membersihkan luka pada tangan Edgar
Setiap gerakan Linda , penuh perhatian dan kehangatan, membuat Edgar tidak terlalu merasakan sakit.
Cara Linda melilitkan kain kasa di bagian tangannya pun begitu lembut. Apa iya dia pernah mempelajari ilmu medis?
Linda, sungguh wanita yang misterius, penuh kejutan. Ada berapa hal lagi yang sebenarnya sedang disembunyikannya?
Linda sama sekali tidak menyadari perhatian Edgar , dia terus meniup dengan lembut tangan Edgar, sambil mengingatkan, "Mungkin akan sedikit sakit, kamu tahan ya."
__ADS_1
Akhirnya, Edgar tidak lagi terlalu menahan rasa sakit dan perih itu.