Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 241


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


Robert menyerahkan parasut kepada Yuna dan berkata kepada Edgar, “Pak, badai salju akan segera berhenti.



Nantinya kita bisa langsung mendarat dan asalkan badai berhenti, tim penyelamat dan orang yang kita bawa bisa langsung masuk ke dalam hutan melakukan pencarian.”



“Aku turun dulu, kalian segera datang begitu badai berhenti!” Edgar sudah tidak bisa menunggu sedetikpun.



Dia harus segera turun, Linda tidak mampu menunggu!



Dia lebih awal pergi mencarinya, maka Linda ada kesempatan hidup .



Selesai bicara, Edgar berbalik dan langsung melompat turun dari kabin.



Yuna segera ikut melompat bersama Edgar .



“Edgar, kamu pasti harus hati-hati!” teriak Lalita dengan mengepalkan sepasang tangannya.



Dia melihat punggung Edgar yang bertekad itu, hatinya tenggelam sedikit demi sedikit.



Linda di dalam hati Edgar, apakah memiliki posisi yang begitu penting?



Edgar bisa membahayakan diri demi dia, masuk ke dalam hutan yang ditutupi oleh badai salju untuk mencari Linda.



Dia ingin ikut ke sana, tetapi melompat dari tempat yang begitu tinggi, Lalita benar tidak berani ....



....



Gua.



Linda duduk di atas sebuah batu besar, dia lapar dan haus.



Dia menunduk melihat handphone, dia sudah terkurung selama 36 jam di sini.



Linda mencoba menelepon Yuna, seperti yang diperkirakan, tidak ada sinyal.



Kalung yang diberikan Kakeknya untuk meminta bantuan, juga sudah jatuh ke dalam lautan ketika pesawat jatuh waktu itu.



Kalau tidak, dia bisa memohon bantuan pada Kakek dengan kalung.



Namun sekarang, dia selain menunggu di dalam gua yang gelap, tidak bisa melakukan apapun.



Linda khawatir, sinyal marabahaya yang dia tinggalkan, apakah ditemukan oleh Yuna atau tidak.



Badai salju yang begitu besar, jika syal merah itu ditiup angin atau ditutupi salju maka gawatlah.



Jika tidak ada orang yang mendapati sinyal marabahaya yang dia tinggalkan ....



Linda menggosok alisnya dan mengeluarkan sebungkus biskuit dari ranselnya dan makan beberapa potong.



Makanan yang tersisa sudah tidak banyak dan tidak bisa bertahan beberapa hari.



Jika masih tidak ada orang yang datang menolongnya ... takutnya dia akan tinggal di sini.



Linda memutuskan untuk tidak berdiam menunggu saja. Dia selesai makan biskuit menambah energi, lantas berjalan ke mulut gua.



Salju menutupi mulut gua.


__ADS_1


Linda mendorong dengan kuat namun tidak berguna!



Dalam suhu rendah, salju sudah membeku, sama sekali tidak bisa bergerak hanya dengan tenaganya sendiri.



Ia tersenyum pahit.



Begitu tebalnya salju, jika ingin menunggunya mencair mungkin harus menunggu sampai tahun depan.



Saat itu, dia sudah tidak akan mampu bertahan.



Mengingat sampai sini, suasana hati Linda begitu berat. Dia hanya bisa kembali ke dalam gua dan melihat sekeliling, berharap bisa menemukan pintu keluar yang lain.



Sayangnya tidak sesuai keinginan. Linda sudah mencari ke seluruh gua dan tidak menemukan pintu keluar yang lain.



Sekarang, dia hanya bisa menunggu ....



Berharap Yuna bisa segera menemukan sinyal marabahaya yang dia tinggalkan.



Tidak sampai detik terakhir, dia tidak akan menyerah.



Dalam pikirannya, anehnya muncul lagi wajah tampan Edgar .



“Linda, jangan khawatir, aku akan melindungimu.”



“Linda, ada aku, kamu tidak akan kenapa-napa.”



....



Kata-kata yang pernah diucapkan padanya kembali terngiang di telinga Linda dan tidak bisa hilang.



Dia memejamkan mata.




Edgar , sekarang aku bertemu bahaya, apakah kamu tahu?



Kamu di mana?



Apakah kamu akan melindungiku lagi?



Edgar langsung melompat turun dari helikopter tanpa ragu dan perlahan-lahan mendarat.



Ini kedua kalinya dia terjun payung.



Sebelumnya dia melompat bersama Linda.



Sekalipun situasi saat itu berbahaya, dia juga hampir saja mati bersama Linda, tetapi waktu itu, Edgar tenang dan bahkan merasa senang.



Karena saat itu,Linda terus menemani di sampingnya.



Linda masih berkata padanya bahwa dia menyetujui pengejarannya dan bersedia menerimanya.



Sejak saat itu, mereka akan hidup dan mati bersama.



Sedangkan kali ini, dalam hati Edgar hanya tersisa khawatir, tegang, takut ... berbagai macam emosi mengaduk dalam setiap sel tubuhnya.



Dia takut.



Dia takut akan terjadi sesuatu dengan Linda.



Dia takut dirinya tidak akan bisa bertemu lagi dengannya.

__ADS_1



Edgar menyipitkan mata dan menunduk. Tatapan dalamnya menatap erat pada hamparan putih di bawah.



Linda , sebenarnya kamu di mana?



Linda, aku sudah datang!



Linda, kamu pasti harus bertahan!!



Beberapa menit kemudian, Edgar perlahan-lahan mendarat di dalam hutan.



Dia menyimpan parasut dan meletakkannya di samping.



Yuna juga ikut mendarat di belakang.



Dia tidak berdiri stabil dan tergelincir lalu jatuh ke atas tanah.



Edgar segera ke sana dan memegang Yuna. Lalu bertanya datar, “Nona Yuna, kamu tidak apa-apa, kan?”



Yuna berdiri dan menepuk salju di tubuhnya lalu menggelengkan kepala berkata, “Aku tidak apa-apa. Kita cepat pergi cari Linda.”



“Em,” jawab Edgar . Dia melihat ke sekeliling mengamati medannya.



Posisi mereka berada sekarang, adalah jalan yang pasti akan dilalui dari desa ke puncak Felvis.



Sesuai perhitungan waktu Linda masuk ke dalam hutan, dia seharusnya melewati jalan ini.



Sayangnya salju menutupi segalanya dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.



“Kita cari dari sini ke arah puncak Felvis. Linda seharusnya di sekitar sini,” kata Edgar setelah berpikir sejenak.



“Baik,” Yuna mengangguk, dia setuju dengan analisa Edgar.



“Sekarang badai pada dasarnya sudah berhenti, percaya tidak lama lagi, Robert dan orang dari tim penyelamat akan datang,” Edgar berkata lagi, nadanya begitu suram dan tegas, “Asalkan kita tidak melewatkan setiap bagian, maka pasti akan menemukan Linda.”



Perkataan Edgar membuat Yuna bersemangat.



Benar katanya, orang banyak maka kekuatan juga besar. Setelah badai berhenti, semua orang akan masuk mencari. Asalkan mereka mencari ke setiap tempat, maka pasti akan menemukan Linda.



“Linda! Linda! Kamu di mana?” Edgar dan Yuna sambil berjalan sambil berteriak keras, “Linda, cepat jawab aku!”



Saat ini, Edgar begitu berharap Linda bisa mendengar suaranya dan menjawabnya.



Sayangnya, sepanjang jalan yang menjawabnya hanya gemanya sendiri.



Karena longsor salju, tumpukan salju di jalan sampai di bagian paha Yuna, begitu sulit berjalan.



Dia menggertakkan gigi bertahan dan ikut di belakang Edgar.



Edgar menoleh melihat Yuna yang kesulitan, dia mengernyitkan alis dan berkata, “Nona Yuna, kamu injak jejak kakiku, dengan begitu akan berjalan lebih mudah.”



Yuna mengangguk, satu demi satu langkah menginjak pada bekas kaki Edgar, benar saja lebih mudah.



Melihat Edgar seperti ini, dia masih saja sangat perhatian dan mengkhawatirkan Linda.



Entah kenapa, antara mereka berdua berubah menjadi seperti sekarang.



“Nona Yuna, apakah kamu masih baik-baik saja?” Edgar melihat Yuna melamun jadi menghentikan langkah.



“Aku baik-baik saja, ayo cepat jalan,” Yuna sadar, takut dirinya menghambat jadi mempercepat langkah.

__ADS_1


__ADS_2