
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Linda menyadari bahwa sepertinya, dirinya sedikit berlebihan, lalu menjelaskan dengan diawali batuk ringan yang disengaja, “Dulu aku pernah belajar Taekwondo waktu di sekolah.”
Taekwondo?
Edgar terkekeh, dia tak percaya dengan penjelasan yang didengarnya.
Tak lama kemudian, perbincangan mereka terhenti. Mereka tiba di rumah sakit. Dokter pun segera memeriksanya.
Sama seperti yang Linda jelaskan di awal tadi, tangan Edgar hanya mengalami luka luar yang tidak terlalu serius.
Untungnya, bagian kaki Edgar juga tidak mengalami patah tulang akibat tendangan Linda,hanya ada luka memar, dan membutuhkan waktu untuk istirahat dalam waktu beberapa hari ke depan.
Mendengar semua penjelasan itu, Linda pun merasa lega, “Untung saja kamu tidak mengalami cedera yang terlalu parah.”
Edgar menoleh, menatapnya dalam-dalam, ”Kenapa? Kamu mulai peduli denganku?”
“Memangnya kenapa kalau memedulikanmu? Lagipula, kamu terluka juga karena ingin menyelamatkanku.” Jawab Linda apa adanya, melancipkan sudut bibirnya, lalu melanjutkan pernyataannya dalam hati, meskipun itu percuma.
“Ini adalah obat oles, digunakan sehari tiga kali, dan harus rajin, tepat waktu menggantinya. Kalau dua obat ini, obat minum, sehari dua kali, pagi dan malam.” Kata dokter menjelaskan penggunaan obatnya dengan seksama.
“Baik, dok. Terima kasih.” Jawab Linda dan mengingat instruksi dari dokter.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pagi dini hari setelah keluar dari rumah sakit.
Edgar kembali melirik Linda, “Ke Kota Baru Air Moon.”
“Tidak pulang ke rumah?” Tanya Linda..
Edgar pun tersenyum ramah, “Sekarang sudah larut malam.”
Sebenarnya, tujuannya adalah agar Ibunya tidak tahu kalau dirinya terluka, apalagi kalau sampai Ibunya tau dia terluka demi Linda.
Di satu sisi, dia tidak ingin Linda menjadi sasaran empuk kemarahan Ibunya. Namun di sisi lain, karena Edgar ingin lebih sering memandang Linda . Jika Linda ke rumahnya, Linda hanya bisa tidur di kamar tamu, dan dia tidak bisa sesering ini memandangnya.
Mendadak, Edgar ingin sekali merasakan kedekatan yang berbeda dengannya.
Di malam itu, suasana jalan raya begitu terasa lengang.
Melalui jendela mobil, dia bisa melihat warna-warni lampu neon di luar berubah-ubah, ada keindahan yang tidak dapat diungkapkan.
Edgar setengah menyipitkan matanya, lalu bersandar santai di kursinya. Sementara bagian sudut matanya, tak pernah bergesar dari lirikan Linda yang sedang fokus mengemudi.
Kedua tangan Linda begitu erat memegang kemudi mobil, tiba-tiba, Edgar membuyarkannya, "Linda, bagaimana pendapatmu setelah tahu Herli dipecat?”
“Hah?” Linda sedikit bingung. Sejenak, dia kemudian tahu maksudnya, “Oh, itu karena ulahnya sendiri, apalagi dia sempat melukaimu tadi. Kamu tidak akan terperdaya dan membiarkannya tetap bekerja bersama, kan?”
__ADS_1
Jawaban Linda , tidak selaras dengan maksud dan tujuan Edgar menanyakan hal tersebut. Edgar membalikkan pandangannya, tatapannya tertuju pada LInda , “Maksudku, aku ingin mempromosikanmu menjadi sekretaris.”
Memang Linda termasuk sebagai karyawan baru, tapi kemampuannya sudah cukup cakap untuk naik jabatan.
Edgar juga ingin memberi Linda kesempatan lebih banyak.
Tapi, Linda menolaknya tanpa ragu, “Tidak. Lupakan saja niat itu.”
Edgar tercengang, “Kenapa?”
Padahal, banyak orang yang menginginkan bisa bekerja di Perusahaan Lion dengan posisi tersebut.
Namun Linda dengan mudahnya mengatakan : Tidak??
Linda meneruskan dengan penjelasan logis, “Aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu. Coba kamu pikirkan lagi, bukankah waktu kawin kontrak kita akan berakhir dalam dua bulan lagi. Dan saat itu aku pasti akan pergi. Kalau aku nanti keluar, kamu tentu akan kembali mengulang mencari karyawan untuk mengisi bagian tersebut. Jadi, lebih baik mulai dari sekarang kamu bisa mencari seseorang yang pantas, juga bisa bekerja dalam jangka panjang.”
“Kamu mau pergi kemana?” Tanya Edgar dengan nada menyayangkan.
“Kemana saja, yang penting tidak di rumah Keluarga Lion.” Jawab Linda santai.
Masih banyak yang harus dia lakukan.
Dengan wajah Edgar yang semakin tegang, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapannya, namun ada rasa yang tak biasa dalam hatinya. Seperti rasa tidak ingin kehilangan.
__ADS_1
Apakah wanita ini tidak peduli dengannya?