Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 171


__ADS_3

Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Happy reading


""__""


Dia menyesuaikan obat, mengambil jarum suntik lalu menyuntikkannya pada lengan Linda.



Jarum suntik menusuk pada kulit lembut Linda, Linda mengernyitkan alis dan mengerang, “Sakit ....”



Mata Edgar terlintas rasa sayang, lalu menatap Henry dengan dingin, “Kamu yang pelan.”



“Suntik mana ada yang tidak sakit.” Henry cemberut, “Lihat kamu yang sayang itu, apakah kamu serius pada tunanganmu ini?”



“Omong kosong.” jawab Edgar tanpa ragu.



Henry bertanya, “Kalau begitu bagaimana dengan Candy-mu?”



Candy ....



Edgar mengernyitkan alis, “Ini bukan urusanmu.”



“Baiklah ....” Henry melanjutkan menyuntik Linda.



“Sakit sekali ....” Linda menggigit bibir dan rupa terluka.



Edgar menggenggam tangannya matanya tidak tahan menjadi lebih lembut, “Linda, tahan sedikit, sebentar lagi akan membaik.”



Henry selesai menyuntik, mulai membereskan kotak obatnya, “Sudah, nanti juga membaik.”



Obat penawarnya sangat bagus, Linda merasa lebih nyaman, merah di wajahnya yang tidak normal juga mulai memudar, dia bersandar di atas tubuh Edgar dengan lemas.



“Di sini sudah tidak ada urusanmu, kamu sudah bisa pergi.” Edgar menatap dingin pada Henry..



Henry mengangkat bahu dan kehilangan kata. Baiklah, Edgar merasa kalau dia menjadi penghalang di sini.



Dia menarik sudut mulut dan mengkritik, “Habis manis sepah dibuang.”



“Rumah sakit yang kamu suka tempo hari, besok aku suruh orang akuisisi dan berikan untukmu.” kata Edgar dengan tenang.



Henry merasa senang, “Terima kasih Edgar!”



Henry pergi dengan puas. Edgar melihat wanita di dalam pelukannya sudah tidur, dia lantas mencium kening Linda. Kemudian meletakkannya di jok belakang dan menyelimutinya dengan pelan menggunakan jasnya.



Edgar menyetir pulang ke Kota Baru Air Moon, menggendong dengan hati-hati Linda yang tertidur pulas menuju rumah.



Dalam setengah sadar, Linda merasa dirinya berbaring di dalam pelukan yang sangat hangat, sangat nyaman dan sangat tenang.



Dia menggesek ke arah dada Edgar, sepasang tangan memeluk lehernya, “Beruang kecil, patuh sekali.”



Gerakan ini membuat api di dalam tubuh Edgar yang sudah padam kembali naik.


__ADS_1


“Shit!” umpat Edgar.Dia menarik nafas dalam dan menggendong Linda ke dalam lift dengan cepat.



Edgar meletakkan Linda ke atas ranjangnya kemudian memasuki kamar mandi dengan berantakan.



Di dalam pikirannya terus muncul adegan berciuman panas dengan Linda di mobil.



Bibir merah dia yang menggoda begitu enak, tubuhnya begitu lembut dan mempesona ... membuat hatinya bergetar.



Air dingin menyirami tubuh Edgar. Setengah jam kemudian, dia akhirnya bisa memadamkan api di dalam hatinya itu.



Keesokan paginya.



Linda terbangun dalam keadaan linglung, dia mendapati Edgar sedang bersandar di tepi ranjang dan menatapnya dengan mata dalam.



“Edgar, kamu sedang apa di ranjangku!” Linda langsung sadar dan melototi lelaki di depan dengan waspada.



Edgar menaikkan alis dan tertawa, “Kamu lihat yang jelas, ini adalah ranjangku.”



Linda melihat sekeliling, “Kenapa aku bisa di atas ranjangmu? Kamu ingin melakukan apa?”



Edgar menatapnya dengan setengah tersenyum dan berkata dengan datar, “Masalah semalam, apakah kamu sudah lupa?”



Semalam?



Ada apa semalam?



Linda menatap Edgar dengan waspada dan menggosok pelipisnya, kesadarannya berangsur pulih.




Kemudian, Edgar mendadak muncul dan membawanya pergi. Dia ingat saat itu, sekujur tubuhnya terasa panas dan kehilangan kesadaran.



Samar-samar, dia sepertinya melakukan hal yang tidak pantas dengan Edgar.



Mengingat sampai sini,Linda segera memeriksa dirinya dengan tegang.



Untunglah, tidak ada yang janggal.



Linda tetap bertanya tidak tenang, “Kamu semalam ... tidak melakukan apa-apa kan?”



Melihat wanita di depan yang begitu tegang, Edgar menaikkan alis pedangnya, “Kenapa, kamu berharap aku melakukan apa?”



“Mana ada!” Linda melototi Edgar.



Dalam hati Linda merasa lega dan juga bersyukur. Untung saja semalam bertemu dengan Edgar dan untung saja dia masih termasuk lelaki jujur.



Kalau tidak, maka semalam benar berbahaya.



“Huk huk huk ....” Disaat itulah, Edgar mendadak batuk.



“Kamu kenapa? Tidak sehat ya?” tanya Linda dengan bingung.

__ADS_1



Edgar membersihkan tenggorokan, “Pilek.”



“Pilek?” nada Linda sedikit khawatir, “Kenapa mendadak pilek?”



Setahu dia, tubuh Edgar selalu baik. Kemarin masih baik-baik saja, kenapa mendadak pilek.



Edgar melihat Linda dengan dalam dan berkata penuh makna, “Semua karena kamu.”



Kalau bukan wanita ini semalam diberi obat dan terus memeluknya tidak mau lepas. Bagaimana mungkin dia pergi mandi air dingin dan bagaimana bisa pilek.



“Karena aku?” Linda kaget.



Meskipun dia pintar, juga tidak berhasil terpikirkan apa hubungan dia dengan pileknya Edgar.



Ketika sarapan, Linda terbiasa mengambil handphone membaca berita, mendadak ada sebuah berita yang menarik perhatiannya.



\[ Laporan khusus, tadi malam pihak kepolisian menangkap sekelompok pengganggu yang membahayakan keselamatan publik. \]



Di atas masih ada foto, beberapa orang di dalam foto adalah sekelompok orang dengan pemimpinnya Asan yang mengganggunya di bar semalam.



Linda meletakkan handphone dan melihat ke seberangnya, menatap lelaki yang sedang makan sarapan dengan elegan, “Asan ditangkap, kamu yang melakukannya?”



“Kalau tidak?” tanya Edgar sambil meletakkan sumpit di tangannya.



“Bagus sekali! Sampah manusia seperti dia memang sudah seharusnya ditangkap sejak lama, daripada mencelakai semakin banyak wanita.” Linda mengangguk memuji.



Edgar menyipitkan mata dan berkata suram, “Orang lain ya sudah, berani menindas wanitaku , maka sedang cari mati.”



Wanitanya Edgar....



Linda menarik sudut mulut, dia miliknya sendiri bukan milik siapapun.



Selesai sarapan, mereka berdua lantas pergi ke perusahaan Lion.



Sepanjang jalan, Linda mendengar suara batuk Edgar.



Sekalipun Linda tidak mengerti kenapa Edgar mengatakan kalau karena dia barulah pilek, tetapi dia tetap pergi ke toko obat membeli obat pilek saat waktu istirahat.



Bagaimanapun juga Edgar yang sudah menyelamatkannya semalam.



Ruangan kantor CEO.



Robert mengetuk pintu.



“Masuk!” kata Edgar dengan jelas.



Robert masuk dan berjalan ke hadapan Edgar, lalu melaporkan dengan hormat, “Pak, orang yang mengirimkan uang kepada Iki Wang sebelumnya sudah berhasil dilacak.”



“Siapa?” tanya Edgar sambil meletakkan dokumen di tangannya.

__ADS_1



Robert menyerahkan data yang berhasil dia selediki kepada Edgar “Rekening yang mengirimkan uang kepada Iki Wang adalah rekening yang sudah dibuang. Kami menelusurinya dan mendapati adalah perusahaan tas kulit bernama ‘Dayang’di Australia yang sudah dibatalkan.”


__ADS_2