Gadis Tersembunyi

Gadis Tersembunyi
Bab 309


__ADS_3

Bibirnya menyentuh bibir Linda.



Dua bibir saling berhadapan, nafas Edgar tidak tahan sesak.



Bibirnya begitu lembut dan begitu manis. Meskipun masih ada suhu yang panas, namun tetap sama seperti dalam ingatan.



Perasaan familiar dan indah itu membuat jantung Edgar berdegup kencang.



Dia ingin sekali menciumnya seperti ini hingga akhir hayat.



Tapi tidak bisa.



Sekarang dia masih sakit.



Saat ini harus segera menyuap obat untuk Nya, agar alerginya membaik, jadi demamnya juga bisa cepat mereda.



Edgar menekan debar hatinya dan menarik nafas dalam. Kemudian mencongkel mulut Linda dengan lidahnya, lalu menyuapi semua obat ke dalam mulutnya dan kembali menutup mulutnya dengan bibir agar obat itu tidak dimuntahkan.



“Huhu ....” Linda merasa tidak nyaman, tapi tidak bisa lepas, jadi refleks menelan obat.



Melihatnya meminum obat, hati Edgar menjadi tenang. Cara ini memang bagus.



Edgar menggunakan cara ini lagi, tatapan yang dalam ada sebuah rasa manja, menyuapi Linda pelan-pelan, hingga semua air di dalam gelas juga selesai disuapkan untuknya.



“Pahit sekali ....” Linda minum segelas ramuan obat dengan pasif, jadi refleks menjilat bibirnya.



Gerakan ini memiliki godaan yang sangat besar untuk Edgar



Tatapan yang dalam seketika berubah menjadi panas.



Dia menatap wanita di depan dan di dalam pikirannya adalah adegan ketika menyuapinya minum obat tadi.



Bibirnya begitu menggoda dan membuatnya tak bisa lupa.



Sekalipun dia karena alergi berubah menjadi jelek, namun tetap saja memiliki daya tarik yang tak terbatas untuknya.



Karena, dia mencintainya.



Dia mencintainya, bukan karena wajah cantiknya, melainkan tertarik dengan karismanya.



Kepintaran, kepercayaan diri, ketenangan dia .... semuanya membuat hati Edgar tergerak.



Perasaan ini tidak pernah dimiliki oleh Elson Huo sebelumnya.



Di kehidupan ini, dia sudah yakin dengan wanita ini.



Dia akan menggunakan tindakan nyata membuat Linda kembali jatuh cinta padanya dan menerima lamarannya.



Seumur hidup, mencintai dia, melindungi dia, dan memegang tanganmu sampai tua.



Edgar menarik tangannya dan meletakkan ke atas bibir tipis seksinya, lalu menggosok dengan pelan, di dasar matanya adalah kelembutan yang tidak pernah ditunjukkan di depan orang lain.


__ADS_1


“kamu tidak akan kenapa-napa,” kata Edgar rendah.



“Em ....” Linda bersandar di depan dada Edgar dan mendengus.



Dia refleks merasa kalau bibir Edgar yang dingin sangat nyaman, jadi menggosok bibirnya dengan wajahnya.



Perasaan sejuk seperti mata air yang jernih, membuatnya ingin mendekat.



Gerakan Linda ini membuat Edgar tidak tahan lagi.



Dia mengambil inisiatif, sepasang tangan memegang wajah Linda dan mencium bibir merahnya yang menggiurkan itu ....



Keesokan harinya, langit cerah sekali.



Sinar matahari di luar jendela menyinari Linda melalui jendela kaca dan menyilaukannya.



Linda menggosok matanya dan perlahan-lahan membuka matanya.



Yang masuk dalam pandangannya adalah wajah Edgar yang tampannya menawan itu.



“ kamu sudah sadar?”



Edgar duduk di kepala ranjang dan tidak tidur semalaman. Dalam hati mengkhawatirkan kondisinya. Saat ini melihat Linda akhirnya sadar, nada suaranya sangat senang.



“Edgar? Kenapa kamu di kamarku?” tanya Linda spontan.



Edgar menatapnya dengan dalam dan bertanya rendah, “Kemarin kamu alergi dan demam, aku tidak tenang jadi menemanimu di sini.”




Linda menggosok pelipisnya, ingatan berangsur kembali.



Dia ingat, kemarin adalah upacara pembukaan . Ketika dia dan Jonatan menjawab pertanyaan wartawan di atas panggung, dia mendadak alergi.



Waktu itu dia sangat tidak nyaman, masih dikepung oleh wartawan. Edgar yang sudah mengusir wartawan dan menggendongnya ke dalam mobil.



Kemudian ....



Kemudian apa yang terjadi?



Linda sedikit tidak ingat.



“Bagaimana perasaanmu?” Edgar menatap wajahnya sudah membaik.



Kelihatannya obat Henry sangat manjur.



Edgar bertanya, Linda barulah merasa tubuhnya sedikit gatal.



Dia menunduk melihat di atas bahu dan depan dada sudah tidak merah dan bengkak seperti kemarin. Ruamnya juga sudah banyak menghilang.



“Aku sudah lebih baik,” Linda tersenyum, “Kemarin untung ada kamu, terima kasih.”



“Tidak perlu sungkan denganku,” Edgar berkata dengan suram, “Kamu tidak apa-apa, aku jadi tenang.”

__ADS_1



Berhadapan dengan pandangan lelaki di depan yang dalam dan suara perhatian dia masuk ke dalam telinga, Linda tidak tahan merasa hangat.



Wajah tampan Edgar nampak sedikit lelah, raut wajah juga sangat capek.



“Kamu duduk semalaman di sini dan tidak tidur?” tanya Linda.



“Em,” Edgar mengangguk datar.



Dia mendadak teringat sesuatu, mengambil botol obat di atas meja sebelah kemudian menuangkan sebutir pil dan menyodorkannya pada Linda, “Ini obat resep dari Henry , khasiatnya bagus. Kamu semalam makannya, hari ini sudah membaik.”



“Semalam, kamu yang suapi aku makan obat?” Linda menerima obat dan bertanya refleks.



Edgar menaikkan alis dan menatapnya dengan dalam lalu berkata, “Kalau tidak?”



Linda menunduk menatap pil di tangannya.



Kemarin dia demam dan setengah sadar. Bagaimana Edgar menyuapi dia pil sebesar ini?



Di dalam pikiran, samar-samar terlintas gambar yang tidak baik untuk anak-anak.



Semalam ... dia samar-samar merasa sepertinya ada orang yang memeluknya dan masih menciumnya. Dia sepertinya ada perasaan tidak bisa bernafas.



Adegan Edgar menyuapinya minum obat, saat ini muncul perlahan di dalam pikirannya.



Wajah Linda dalam seketika menjadi panas.



“Linda, kenapa wajahmu merah?” Edgar menyipitkan mata dan bertanya dengan setengah tersenyum.



Linda merasa canggung, “Itu, mungkin demamku masih belum turun!”



“Iyakah?” Edgar tersenyum.



Pagi-pagi sekali, ketika Linda belum bangun, Edgar sudah mengukur suhu tubuhnya dan panasnya sudah mereda.



Sekarang, wajahnya mendadak merah, apakah sedang malu?



Jadi, semalam, dia sebenarnya juga tidak sepenuhnya tidak sadar?



Edgar tersenyum jahat, Linda mengkerlingnya dan turun dari ranjang bersiap untuk mengambil salep racikannya sendiri di dalam koper.



Meskipun dikatakan obat dari Henry sangat manjur, tapi bagaimanapun juga masih belum diberantas sepenuhnya.



Dikombinasikan dengan salepnya akan membaik lebih cepat.



Linda baru saja turun, sudah ditekan kembali oleh Edgar.



“Kamu sedang apa?” tanya Linda mengernyitkan alisnya.



Edgar mendekat dan sepasang tangan diletakkan di kedua sisi pundaknya, lalu menundukkan kepala padanya, “Seharusnya aku yang tanya, kamu sedang apa? Masih belum sehat sudah berpikir untuk pergi? Henry menyuruhmu untuk istirahat dengan baik. Berbaring dan beristirahatlah di atas ranjang.”



Melihat wajah tampan Edgar, wajah Linda mulai panas dengan tidak berguna.

__ADS_1



Dia menarik nafas dalam, “Cepat kamu pergi, jangan menimpaku ....”


__ADS_2