
Halo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""_""
Linda menunduk dan menatap Feni dengan dingin, “Menyingkir kamu!”
Feni menatap Linda, “Kami datang meminta keadilan untuk Herli. Kami mau semua orang tahu dengan wajah asli kamu pembunuh!”
Satpam yang mendengar suara ribut juga berjalan keluar dari perusahaan Lion. Melihat Linda diganggu sekelompok orang segera berjalan ke sana, “Tolong kalian segera pergi, jangan menghadang di depan pintu kantor dan mengganggu ketertiban perusahaan!”
“Pak satpam, kamu datang dengan tepat. Pembunuh ini sengaja mencelakai putriku. Kamu cepat tangkap dia!” Feni menarik lengan satpam.
“Kalau masih tidak menyingkir, aku akan lapor polisi.” Linda menaikkan handphone di tangan dan berkata sinis, “Sengaja menuduh dan mencemarkan nama baik orang lain, mengganggu ketertiban umum, sengaja membuat masalah dan kerusuhan, apakah kamu ingin masuk penjara?”
Mata Feni berputar, “Kamu pembunnuh masih berani mengancamku?!”
Berhenti sejenak, dia melihat lagi pada beberapa orang yang datang bersamanya, “Kalian buat apa masih bengong? Masih tidak cepat balaskan dendam Herli?”
Mendengar itu, beberapa lelaki bertubuh besar mendekati Linda. Salah satu lelaki bertubuh tinggi besar langsung menangkap Linda.
Linda melihat mereka dengan waspada, dan hendak menyerang balik. Tiba-tiba, terdengar suara lelaki yang tajam, “Lepaskan dia!”
__ADS_1
Linda mendongak melihat Edgar sedang berjalan padanya dengan langkah kaki yang tenang.
Aura Edgar terlalu kuat, sekujur tubuhnya memancarkan nafas dingin dan membuat orang tidak tahan ingin menunduk.
Kerumunan orang secara otomatis memberi jalan.
Bahkan Feni yang menangis juga kaget dan terdiam.
Edgar berjalan ke depan Linda dan menghentikan langkah. Dia memegang tangannya dengan pelan dan tatapannya jarang-jarang lembut, “Kamu tidak apa-apa kan?”
Di dalam telapak tangan tersebar nafas panas Edgar, hati Linda terasa hangat.
Robert yang mengikuti di belakang Edgar mengernyitkan alis dan berkata dingin, “Anjing gila darimana, menggonggong sembarangan di sini?”
Feni berkata dengan takut, “Linda mendorong putriku ke dalam air, dia adalah pembunuh.”
Mata Robert terlintas rasa jijik, “Kalian masih berani mencemarkan nama baik Nona Linda?”
Dia menoleh berpesan kepada satpam, “Usir mereka.”
Edgar memegang tangan Linda dan membawanya memasuki kantor, “Bertemu masalah ini, kenapa tidak meneleponku?”
__ADS_1
Kalau bukan dia tadi melihat di lantai atas dan tiba tepat waktu, bukankah Linda akan ditindas sekelompok orang gila ini?
Linda tersenyum datar, “Masalah kecil, aku bisa selesaikan sendiri.”
Edgar mengangguk dan mendekatinya lalu berkata di telinganya dengan rendah, “Jangan menanggung semua sendirian. Lain kali ada masalah harus beritahu aku, aku tidak akan membiarkanmu ditindas.”
Lelaki ini, apakah harus begitu pandai menggoda?
Wajah Linda anehnya menjadi merah, “Aku pergi kerja dulu.”
Selesai bicara, dia dengan cepat berjalan ke ruangan kantor sekretaris.
Melihat punggung Linda yang kabur, Edgar tersenyum.
Rupa dia yang malu begitu memikat.
Linda kembali ke tempat duduknya dan mendapat sampel promosi dari fotografer. Dia membuka satu persatu dan melihat dengan cermat.
Foto di dalam ruangan tempo hari masih lumayan bagus, Linda mengerucutkan bibir dengan puas.
Disaat Linda sedang konsentrasi bekerja, Susi di samping tempat duduknya mendadak berseru kaget, “Oh Tuhan, Sekretaris Linda, apakah ini kamu? Kamu masuk pencarian panas!”
__ADS_1